Sabtu, 10 Desember 2016

Alasan Saya Tidak Lagi Membela Ahok

Foto: Suara.com
Mohon maaf sebelumnya jika salah paham. Saya bukanlah bagian dari kaum pembela Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Saya tidak lagi membela Ahok, tapi saya harap kalian tidak membenci, membully, dan memboikot saya di media sosial. Saya ingin hidup dengan damai. Namun, jika saya tidak membela Ahok, bukan berarti saya akan membela para pembela Asal Bukan Ahok. Saya tidak akan terlibat dalam bagian kaum pembela apapun.

Menurut saya, "membela" memiliki arti yang cenderung subjektif. Membela kini lebih cocok dilakukan oleh orang-orang yang berpihak dan berat sebelah. Akibatnya, membela sesuatu/seseorang dengan penilaian standar ganda. Membela membuat orang menghalalkan segala cara untuk membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar.

Kamis, 08 Desember 2016

Review Film Headshot: Sangat Ganas dengan Sentuhan Cerita Manis


Hari ini saya menonton film Headshot di bioskop Cinemaxx, Plaza Semanggi, Jakarta Pusat. Film yang disutradarai Timo Tjahjanto & Kimo Stamboel ini mulai tayang serentak di Indonesia pada tanggal 8 Desember 2016. Saya memang sudah menunggu kehadiran film action ini sejak awal saya mendengar kabar pembuatannya melalui media. Berikut ulasannya:

Senin, 05 Desember 2016

Mengingkari Takdir

Bersembunyiku dari ingar-bingar
Berkawan dengan sunyi aku tersasar
Jauh ke dalam hutan yang tercemar
Sehingga menggelapkan perasaanku yang gempar
Demi usaha nestapaku mengingkari sebuah takdir

Tapi itu hanya sebentar
Selama aku tidur terkapar
Lalu terbangun menggelepar-gelepar
Membanting kenyataan yang telah membuat angan-anganku sukar

Rabu, 12 Oktober 2016

Tentang Mereka yang Kukenal dan Meninggalkan Kesan

"Kehidupan mempertemukanku dengan banyak orang. Ada yang menerimaku. Ada yang menjauhiku. Ada yang menyukaiku. Ada yang menyakitiku. Mereka semua meninggalkan kesan, ada yang sementara, ada yang selamanya."

Selain para anggota keluarga, entah berapa banyak orang yang sudah aku temui selama ini. Dari sekian banyak orang yang aku temui, mungkin aku sudah berkenalan dengan ribuan orang. Dari perkenalan itu, aku membaginya ke dalam beberapa jenis:

Sabtu, 30 Juli 2016

Mataku Sekarang Minus!

Baru kusadari
Betapa berartinya mata ini
Saat penglihatanku
Tak sebaik dulu

Tanggal 2 April 2016 lalu, gue ke Klinik Mata Nusantara (KMN) untuk periksa mata karena matanya suka perih, terasa seperti sering ada kotoran, penglihatan jadi kabur, dll. Ini merupakan pertama kalinya gue periksa mata. Dan kata dokter, mata gue sekarang minus; mata kiri minus 1,25 dan mata kanan minus 0,5.

Minusnya masih kecil, sih. Tapi gue sedih, karena sekarang gue nggak bisa melihat objek yang jauh dengan jelas. Bisa sih, kalau pakai kacamata/softlens (tapi kayaknya nggak berani coba pake softlens).

Kalau nggak pake kacamata, gue nggak bisa membaca tulisan yang jaraknya sekitar tiga meter lebih dari gue (kondisi cahayanya terang). Kalau cahayanya agak gelap, lebih susah lagi. Kalau sekadar main HP/ komputer nggak perlu pake kacamata, tapi kalau kelamaan, agak nggak enak di mata, jadinya gue udah mulai kebiasaan pake kacamata setiap saat (kecuali mandi/tidur).

Gue pertama kali pakai kacamata itu tanggal 10 April 2016. Pas baru memakai kacamata, gue merasa dilihatin orang-orang (kepedean & baper). Juga merasa pusing karena ada benda asing menempel di wajah dan pandangan mata yang nggak sebebas melihat dengan mata normal.

Bulan pertama pake kacamata, gue merasa aneh. Tapi, lama-lama ya udah terbiasa dan nggak mau mengeluh lagi. Anggap aja kacamata itu aksesori fashion buat memper-kece penampilan hahaha.

Nah, buat kalian yang belum pernah cek mata, sebaiknya minimal setahun sekali dicek ke dokter. Karena berguna banget buat tahu kondisi mata sendiri. Seperti gue, yang ternyata selain minus, anatomi mata kiri gue abnormal sehingga lebih lemah daripada mata kanan gue.

Apapun yang terjadi dengan mata gue saat ini, gue mau bersyukur karena setidaknya gue diberikan kesempatan sama Tuhan untuk bisa melihat normal selama 25 tahun. Minus mata gue juga masih ringan dibanding orang-orang yang gue kenal (gue sempat menanyakan ke beberapa orang, dan ternyata mata mereka lebih parah minusnya). Sekarang yang bisa gue lakukan ialah menjaga kedua mata gue biar minusnya nggak nambah dan nggak malah nambah penyakit mata lainnya.

Kalau suatu hari mata gue bisa kembali normal itu mujizat. Tapi minimal jangan tambah parah minusnya dan nggak terkena penyakit mata lainnya. Amin! :)

Rabu, 09 Maret 2016

Mengabadikan Gerhana Matahari Sebagian di Jakarta


Fenomena gerhana matahari total (GMT) pada Rabu, 9 Maret 2016 begitu heboh di Indonesia. Termasuk gue yang nggak mau ketinggalan melihat langsung. Bule dari luar negeri aja niat banget datang ke Indonesia, karena GMT cuma melintasi 11 wilayah di Indonesia, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Bangka Belitung, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara.

Kalau nggak salah, dulu pas tahun 90-an juga pernah ada gerhana matahari total atau sebagian. Gue ingat banget pas siang hari kota gue: Sintang, Kalimantan Barat, mendadak gelap selama beberapa menit. Orang-orang pada bawa negatif / klise film, foto bekas rontgen, dll buat melihat langsung gerhana. Gue yang masih TK/ SD waktu itu juga melakukan hal yang sama. Walaupun dulu masih kecil tapi gue penasaran.

Nah, tadi gue niat banget (terbangun) jam 5 pagi, lalu tidur lagi sampai jam 6 pagi. Kemudian bersiap-siap melihat gerhana matahari dengan perlengkapan: kamera, HP, dan kaca helm berwarna hitam. Gue dan sepupu gue menuju kawasan Mal Central Park, Jakarta Barat untuk menyaksikan fenomena alam yang langka itu.

Awalnya, sempat mikir kalau jangan-jangan cuma kita doang yang heboh di Jakarta. Eh, ternyata meskipun bukan GMT dan cuma GMS (gerhana matahari sebagian), ternyata ada belasan orang juga yang antusias juga mengabadikan momen GMS.

Kebanyakan dari mereka tidak ada persiapan untuk melindungi mata. Modal nekat dan penasaran. Jadi, pas kita mengeluarkan kaca helm untuk membantu kita melihat sang surya yang mulai ditutupi bulan, beberapa orang pun nebeng buat lihat-lihat dan foto-foto.

Nih, gue sempat merekam momen-momen pas GMS di Jakarta. Meskipun hanya GMS yang bentuk matahari mirip bulan sabit, tetapi tetap berkesan dan menjadi salah satu pengalaman bersama alam yang tak akan terlupakan. Cekidot!


Minggu, 17 Januari 2016

Surat Terbuka Tentang Terorisme untuk Seluruh Warga Indonesia

Dear NKRI,

Perilaku islamophobia semakin mengkhawatirkan. Banyak orang non Muslim  di dunia yang saat ini berprasangka buruk terhadap Islam dan akhirnya membuat mereka melakukan tindakan diskriminatif terhadap umat Islam. Contohnya, terkait terorisme dan bisa Anda saksikan pada video Public Bomb Scare Prank yang menunjukkan kalau orang-orang ketakutan ketika dilempari tas oleh seseorang berpakaian Arab. Mereka mengira orang itu teroris yang membawa bom.

Hadirnya berbagai kelompok yang membawa nama Islam tetapi bertindak anarkis, membuat banyak orang membenci Islam. Semakin gencarnya aksi terorisme di berbagai belahan dunia yang mengatasnamakan jihad, membuat semakin banyak orang membenci segala hal tentang Islam.

Agama Islam seringkali dikaitkan atas berbagai peristiwa terorisme di dunia. Meski sebenarnya aksi terorisme yang membawa nama agama selain Islam juga ada, tetapi yang paling eksis dan diberitakan adalah aksi teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Akibatnya, Islam pun paling tersudutkan.

Padahal, umat Islam yang sesungguhnya mengakui jika Islam itu cinta damai, sama dengan agama lainnya. Namun ironisnya, berbagai ekstremis berkedok agama berhasil mencoreng nama baik Islam di mata dunia. Contohnya, yang sedang terkenal saat ini adalah kelompok militan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).

ISIS diketahui telah melakukan sangat banyak tindakan ekstrim membunuh dengan sadis dan tanpa ampun orang-orang yang berseberangan dengan paham yang dianutnya. Saya pernah menyaksikan video korban ISIS yang dibakar hidup-hidup tanpa sensor. Masih ngeri jika mengingatnya!

Kini, ISIS sudah mulai memperluas jaringannya dan aksinya ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu seharusnya tidak menjadi target ISIS. Namun nyatanya, ISIS sudah ada di Indonesia dan menunjukkan eksistensinya (ini semakin membuktikan bahwa ISIS tidak ada kaitannya dengan agama Islam). Seperti peristiwa bom Sarinah Jakarta pada Kamis, 14 Januari 2016 yang lalu.

Anda harus melihat video-video rekaman bom bunuh diri dan baku tembak antara pelaku dan aparat kepolisian untuk mengetahui lebih jelas bagaimana aksi mereka mencoba menakuti setiap orang yang berada di lokasi kejadian. Warga sipil WNI dan juga asing, serta polisi menjadi korban. Untungnya, Tuhan berpihak pada kita yang benar, sehingga para pelaku berhasil ditaklukkan oleh Polri yang tangguh.

Nah, balik lagi ke masalah islamophobia atau sikap fobia terhadap Islam. Aksi teror ISIS di Sarinah menjadi pemberitaan media-media internasional. Lagi-lagi nama Islam tercoreng, meskipun sebenarnya ISIS bukanlah Islam, hanya menebeng nama untuk propaganda anti Islam dan memprovokasi orang-orang yang berpikiran kerdil yang mudah di-brainwashed jika teroris itu sama dengan Muslim.

Salah satu contohnya, menurut saya, orang yang sudah berhasil dicuci otak bahwa teroris itu Muslim ialah Donald Trump. Ia menyerukan larangan umat Islam ke Amerika Serikat agar negaranya tidak menjadi korban serangan jihad lagi.

"Donald J. Trump is calling for a total and complete shutdown of Muslims entering the United States until our country's representatives can figure out what the hell is going on," ucap Trump berapi-api.

Pernyataan Trump tersebut langsung mendapatkan kecaman dari banyak orang di seluruh dunia. Namun tidak sedikit juga yang mendukung seruannya, makanya ia percaya diri mengambil sikap kontra terhadap Islam.

Cukup banyaknya orang-orang yang menganggap teroris itu Muslim, tentu saja menjadi fakta yang menyedihkan dan mengerikan. Hal ini bisa semakin memperburuk keadaan, di mana seharusnya semua orang bersatu melawan terorisme atas nama apapun. Namun islamophobia bisa membuat seseorang menggeneralisasi bahwa orang-orang beragama Islam patut dicurigai karena identik dengan perilaku teror.

Oleh sebab itu, saya menuliskan opini ini untuk menyampaikan kegelisahan saya terhadap stereotip bahwa teroris adalah Muslim dan Muslim adalah teroris. Karena menurut saya, kita harus bersatu memerangi terorisme. Semua umat beragama, bahkan yang ateis pun harus bersatu membela kemanusiaan yang di dalamnya ada cinta kasih antara sesama manusia.

Dan juga ingatlah, meskipun ada teroris yang berkata lantang bahwa dirinya membela suatu agama, mereka sama sekali hanyalah orang-orang sesat yang tidak dibenarkan mewakili agama apapun. Jangan mau diadu domba oleh teroris untuk memecah belah kita.

Jika teroris tidak bisa menerima perbedaan, maka kita adalah bhinneka tunggal ika. Jika teroris berani mati untuk yang salah, maka kita harus berani untuk hidup dan berjuang dengan benar. Jika teroris mau menghancurkan, maka kita tidak akan membiarkan mereka merusak apa yang sudah kita bangun dengan susah payah. Mari bersatu kita teguh, karena jika bercerai kita runtuh.

Salam,

Generasi Cinta Pancasila