Rabu, 31 Desember 2008

Natalku

Syalom...Selamat natal semua.
Buat yang ga kristen jg selamat natal ^_^ karena natal adalah kelahiran Yesus ke dunia untuk menebus dosa setiap manusia tanpa terkecuali. Buat aku dan buat kamu yg lagi baca tulisan ini.
Natal aku kali ini sangat berbeda dari sebelum2nya. Ga ada lagi budaya2 natal yg aku pernah jalani. Ga ada bareng keluarga. Ga ada ibadah malam natal n tgl 25nya. Ga ada kue natal. Ga ada pohon natal. Ga ada baju baru. Ga ada ke rumah2 org buat natalan. Tapi Tuhan kasi aku sebuah kebiasaan natal baru. Kebiasaan yg ternyata tidak akan menyiksaku.
Yeah...aku sekarang uda jadi anak kos. Liburan jg ga balik ke daerahku di kota Sintang, Kalimantan Barat tercinta. Tapi,saya menghabiskan liburan di Jakarta. Cukup menyenangkan. Dg tmn2 abbalove,BNEC,kos n kampus, aku menghabiskan liburan dan memperingati natal dengan sukacita.
Malam natal aku dkk ngumpul bareng ampe jam 3 pagi. kita senang2 aja. melakukan banyak hal. tgl 25nya karena ga ada ibadah di abbalove,kita komsel n tukeran kartu2 natal. tgl 26nya kita ke TA. tgl 27 nonton Kick Andy bareng tmn2 BNEC.seru abis,walo agak ngeboringin soalnya topiknya kartunis yg ga aku ngerti. Tgl 28 ibadah lalu habis itu ke CL. Tgl 29 ngerayain ultah temen di CL,lanjut ke Plaza Semanggi,lalu ke SenCi, lanjut makan bebek di daerah puri. kita ga ngabisin duit kok d sana.di CL aku n tmnku Grace diwawancara org dari Mizone gt,haha...dpt souvenir gelas,,,lumayan. lalu mkn di PS (ditraktir,hehe),nongkrong ampe puas,n buat Surprise kecil2an buat tmnku yg ultah,Yvonne di SenCi n pulang mkn bebek di daerah Puri...asik. semuanya pd hepi khususnya yg ultah. ^_^
Tgl 30nya aku gangguin kos tmn2,haha...dr sore ampe jam 00.30.ga mandi,hehe...Tgl 31 ada Barbequan sederhana di kontrakan temen.aku PICnya.semoga lancar2 aja n seru.
Btw,walau bln desember uda mau berakhir,tp natal ga pernah berakhir. seharusnya natal itu ada di setiap hari di hati kita dg mengimani makna natal yaitu Yesus lahir untuk menebus dosa manusia. Roh natal berwujud kesukacitaan,kedamaian,dan kesahajaan.
Selamat natal. dan jangan lupa buat goal setting buat 2009.
Gbu.

Ssstt!

Ssstt!

Diam! Anakku sedang tidur. Awas, kalau kalian mendekat! Aku bisa saja mencelakakan kalian. Diam!

Ssstt!

Diam! Jangan banyak bicara. Jangan banyak komentar. Jangan mengasihaniku. Kalian tidak mengenal siapa aku. Kalian tidak mengerti perasaanku. Kalian hanya menggangguku saja. Diam!

Setiap kali aku terbangun dari tidur, aku selalu menangis. Aku selalu ketakutan. Aku selalu merasa bersalah. Aku mengingat semuanya.

Setiap hari, aku bersama teman-teman lainnya, selalu berada di gedung putih ini. Kami di kurung di sini. Kami terisolasi dari dunia luar.

Dan hampir setiap hari, aku didatangi oleh para Pasukan Gila Berseragam Putih untuk menyuntikkan senjata kimianya ke nadiku, hingga kesadaranku hilang perlahan-lahan.

Di rumah sakit ini, tepatnya rumah sakit jiwa katanya, aku di kurung. Aku dikatakan sebagai orang gila. Tapi, aku tidak merasa begitu. Mereka itulah, Para Pasukan Gila Berseragam Putih yang selalu memperlakukanku layaknya orang gila. Mereka adalah petugas kesehatan. Namun, aku menyebut mereka Para Pasukan Gila Berseragam Putih. Aku membenci mereka. Terutama yang namanya Dr. Fandi.

Dr. Fandi adalah pemimpin operasi Para Pasukan Gila Berseragam Putih yang selalu menyuntikkan senjata kimianya ke nadiku, ketika aku mulai mengamuk. Aku sebenarnya tidak ingin mengamuk. Namun, teman-temanku terkadang ingin merebut anakku dari tanganku. Anakku menangis karena ulah mereka. Kasihan anakku. Aku tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya. Aku sayang kamu, Clara.
Clara, anakku. Umurnya 1 tahun. Ia lucu sekali. Ia belahan jiwaku. Ia separuh jiwaku. Tak mungkin aku bisa hidup tanpanya. Ia selalu menangis, apalagi saat malam tiba. Namun, aku akan selalu menjaganya setiap waktu. Aku akan memberikannya botol susu yang susunya tak pernah habis itu, jika ia mulai menangis. Namun, hal itu selalu dianggap bahwa aku orang yang tidak waras. Aku tak mengerti.

Begitulah hidupku setiap hari. Aku sangat menikmatinya. Namun, mereka kadang mengganggu duniaku. Aku tidak sedang berkhayal. Merekalah yang berkhayal dan bilang aku orang gila. Aku tidak peduli lagi dengan perkataan mereka. Terserah mereka. Aku diam saja, asyik dengan duniaku bersama anakku, Clara. Tapi, awas! Jangan sekalipun mengambil anakku dariku. Jika demikian, aku tak akan bisa diam lagi.

Senin sore ini, aku melihat seorang wanita sedang berjalan-jalan mengelilingi rumah sakit ini bersama Dr. Fandi. Mereka tampak serasi. Cantik dan tampan. Namun, aku mulai ketakutan. Aku menutup mukaku dengan kertas. Aku takut keberadaanku diketahui mereka. Dua orang berseragam putih menghampiriku. Ya, wanita itu dan Dr. Fandi.

Namun, usahaku sia-sia. Mereka mengetahui keberadaanku. Tapi, untung saja mereka tidak berbuat apa-apa kepadaku. Mereka hanya membicarakanku.

“ Dr. Mia, kalau yang ini namanya Ibu Lani Sufainy. Sudah 6 bulan ini, ia berada di sini. Ibu Lani jadi seperti ini akibat anaknya, Clara, meninggal dalam sebuah kebakaran. Bukan saja ia kehilangan anaknya, namun juga rumah dan semua hartanya,” Dr. Fandi menjelaskan.

“ Lalu, di mana suaminya?” Dr. Mia menanyakan.

“ Suaminya selalu menyalahkannya hingga ia menjadi seperti ini. Suaminya lalu pergi meninggalkannya. Ia malu. Ia tak mau lagi mengurus istrinya yang telah jadi seperti ini.”

“ Kurang ajar. Dasar lelaki tak bertanggung jawab. Mana bisa ia menyalahkannya seperti itu. Itu semua kehendak Yang di Atas, bukan?” Dr. Mia tampak emosi.

“ Ya begitulah. Untungnya, saya bukan lelaki seperti itu, kan?” Dr. Fandi sedikit menggombal.

“ Gombal saja kamu,” Dr. Mia sedikit tersenyum, agak salah tingkah.

Aku hanya diam saja mendengar mereka membicarakanku. Semuanya itu benar. Namun, ada dua hal yang tidak benar: Aku tidak gila dan anakku, Clara masih hidup. Ingat itu!

Mereka terus saja membicarakanku. Namun, aku tidak menghiraukannya lagi. Aku kini sibuk dengan duniaku.

Aku tersadar jika mereka telah pergi dari hadapanku, saatku dengar anakku, Clara menangis. Aku cepat mengambil botol susu itu dan memasukkannya ke dalam mulut anakku. Ia mulai terdiam. Aku pun lega.

Lihatlah anakku. Ia mudah sekali dirawat. Siapa yang bilang ia itu boneka? Ia itu anakku, Clara. Ia bayi mungil yang lucu, bukan?

Nina bobok.. Oh.. nina bobok.. Kalau tidak bobok.. Di gigit nyamuk…


Aku bernyanyi untuknya, agar anakku, Clara tidur dengan nyenyak malam ini.

Ssstt!

Diam! Anakku sedang tidur. Awas kalau kalian mendekat. Aku bisa saja mencelakakan kalian. Diam!

Ssstt!

http://www.kemudian.com/node/223322

http://www.kolomkita.com/2008/12/30/ssstt/

Minggu, 21 Desember 2008

Puisi Untuk Ibu

Luasnya hamparan jerih lelah
Membesarkan anakmu yang penuh salah
Yang selalu kau buka celah
Pintu maaf untuk anakmu yang goyah

Ibu, kau tak pernah berdesah
Dalam kehidupan penuh gelisah
Kau sedih bila ku menyerah
Kau berdoa agar ku terarah

Walau kelak Surga mengarah
Selamanya hati tak kan berpisah
Cinta ada di setiap langkah
Kasih mengalir di dalam darah

Ibu, kau matahari yang bersinar cerah
Membuat hari-hariku terasa indah
Menuntunku agar tak salah melangkah
Menjagaku hingga tiba di tanah

Sebuah puisi dari anakmu terkasih
Dari sungai kehidupan cinta kasih
Bermuara di lautan terima kasih
Untuk pengorbanan Ibunda terkasih


Puisi ini karya saya sendiri yang pernah di posting di:
http://sukainternet.com/archive/6/1211969726/PUISI-UNTUK-IBU
http://www.kemudian.com/node/223301

Puisi ini saya persembahkan untuk Ibu-Ibu terbaik di dunia, khususnya Mami saya tercinta :)