Kamis, 31 Desember 2009

Bersukacitalah Dunia

Bapa,
Inilah diriku apa adanya
Engkau pasti mengenalku
Yang paling mengerti aku

Saat ini,
Aku sujud menghadap tahta-Mu
Mencari hadirat-Mu yang kudus
Di dalam kelemahanku ini
Layakkan aku, kuatkan aku Bapa

Tuhan,
Hapuskan air mata ini
Sembuhkan setiap luka
Jangan ada lagi tangisan
Sebab aku sadar, Engkau selalu bersamaku

Dan lihatlah,
Mesias itu telah lahir
Kristus telah datang ke dunia
Jadi, untuk apa lagi kesedihan ini?
Tiada lagi dukacita itu

Semangatlah,
Sambutlah Ia dengan pujian
Muliakan Ia dengan tarian
Sebab Ia lahir untukku dan untukmu
Kabar baik untuk kita semua
Mari bersukacitalah wahai dunia

Selasa, 17 November 2009

Puisi Untuk Sahabat

Masihkah kau ingat teman?
Beberapa tahun yang lalu
Saat pertama kali tangan berjabat
Kita pun saling mengucap nama
Itulah awal dari pertemanan kita
Dan ku harap tak kan pernah ada akhir

Masih ku ingat teman
Bagaimana kakunya dulu
Saat pertama kali berkenalan
Ku belum merasa nyaman
Hingga waktu merubah keadaan
Kekakuan itu menjadi keceriaan

Sekarang kau lihat teman
Sudah berapa lama kita bersama
Banyak hal t’lah kita lewati dengan
Canda, tawa, tangisan, dan air mata
Yang dirangkai menjadi sebuah cerita
Kenangan yang ku akui begitu indah

Sekarang ku sadari teman
Kau seseorang yang aku banggakan
Anugerah yang indah yang aku dapatkan
Aku bersyukur bisa mengenal dirimu
Kau temanku, bukan lagi sekadar teman
Kau adalah pendukungku yang setia

Dan kini aku mengerti
Tak kan lagi kau ku sebut teman
Karena kau adalah sahabat
Yang ada di saat suka maupun duka
Seseorang yang aku kasihi
Pribadi yang begitu berharga

Sahabat, jika aku harus jujur
Hal yang paling indah adalah
Bisa bersama dirimu
Dan hal yang paling menyakitkan,
Jika harus kehilanganmu
Karena hidup tak kan sama jika tanpamu

Aku beruntung bisa mengenalmu
Aku pasti rugi jika tidak mengenalmu
Bagaimanapun dan apapun yang terjadi
Kau adalah sahabatku selamanya
Terima kasih untuk segalanya
Puisi ini dari dan untuk sahabat

Senin, 16 November 2009

Diam dan Mendengarkan-Nya

Seringkali kita terus bertanya kepada Tuhan dengan pertanyaan 5W+1H tentang setiap pergumulan kita. Tapi, ternyata terkadang kita lupa untuk diam dan mendengarkan jawaban Tuhan atas semua pertanyaan kita. Ayo kita belajar jadi "pendengar" yang baik di hadapan Tuhan, jangan cuma selalu menjadi "pembicara" yang terus berkeluh kesah tentang hidup kita tanpa memberi Ia telinga dan waktu kita untuk mendengarkan isi hati-Nya.

Bapa, Aku Lelah

Bapa, aku lelah
tapi Kau ingin ku jangan menyerah
sekarang ku berserah
aku tak boleh kalah

Jangan biarkan hatiku goyah,
pikiranku lengah,
jiwaku gelisah,
mulutku berkeluh

Tunjukkanku arah
ke mana harus melangkah
beri ku hari yang cerah
yang diselimuti kasih

Bapa, terima kasih

Sabtu, 10 Oktober 2009

CibFest 2009

Pertama kali tahu tentang CibFest ( Christian Indonesian Blogger Festival ), aku begitu antusias untuk bergabung. Di CibFest 2009 ada 3 kategori award yang dilombakan, Kategori Creative Blog Based On Writing Contest, Kategori Impacting Blog, dan Kategori Favourite Bloggers (pilihan dari hasil voting), dan aku berharap bisa menang. Padahal saat itu, blog aku masih belum aku kelola dengan baik dan belum punya maksud jelas untuk apa blogku ini.

Mulai saat itu, aku mulai rajin menulis dan memposting tulisanku dan berharap apa yang aku tulis bisa memberkati banyak orang di manapun. Aku begitu antusias saat aku mengikutsertakan 3 tulisanku ke Writing Competition. Dan ketika masa voting di mulai, aku semangat untuk menginformasikan kepada orang-orang untuk mem-vote blogku. Ini pengalaman pertama dan aku sangat senang.

Dan akhirnya, aku tidak pernah menyangka kalau aku bisa sejauh ini. Blogku bisa masuk 50 Blog Terfavorit, tepatnya di urutan 35, dan yang paling tidak aku sangka, cerpenku " Pejuang Jalanan" bisa menjadi 10 finalis Writing Competition. Wow. Thanks God.

Btw, kalau blogku tidak masuk 10 finalis Writing Competition, aku sepertinya tidak akan datang ke puncak acara CibFest 2009 di Sona Topas Tower. Karena, aku tidak punya teman ke sana, dan aku tidak tahu di mana itu. Tapi, akhirnya aku pergi sendirian naik taksi ( Rp 60.000,- PP ) hehe... Gagal hemat, taksi mahal.

Berangkat pukul 11.00 WIB. Cepat ya karena takut macet dan tidak tahu jalan. Ternyata sampainya setengah jam kemudian. Padahal mulainya 12.30 WIB. Wah, orang pertama yang datang. Terlalu ontime. Dan sempat bingung di sana, tapi untung panitianya ramah.

Di sana, sempat kayak sapi ompong. Cuma diam, tidak ada teman. Mau kenalan, kok jadi salah tingkah,haha. Ya sudah, duduk diam baca buku dari CibFest. Tapi, akhirnya sempat juga kenalan dengan beberapa orang dan berbincang-bincang. Yang paling berkesan pas kenalan dengan Pak Mobilum, dia baik dan kasih saya dua buku rohani. Sempat juga kenalan dengan Ibu yang bawa dua anaknya.

Dan pas sesi seminar Blogging With Purpose yang dibawakan Pak Mahayoni, aku semakin termotivasi untuk menulis dan hidup dengan tujuan, yaitu untuk memuliakan Tuhan. Sungguh luar biasa bermanfaat. Habis seminar singkat itu, ini dia acara yang saya tunggu, pengumuman pemenang.

Sebelum pengumuman siapa yang menang, aku tidak menyangka kalau panitia sangat menghargaiku yang paling cepat datang dan aku di kasih sebuah baju yang keren. Jadi malu dan bangga,haha. Apalagi kamera menyoroti wajahku pas aku berdiri.

Detik-detik pengumuman pemenang kategori Writing Competition, jantungku deg-degan. Apalagi, ada disebutin nominasinya di layar proyektor. Wah, jadi sedikit bangga. Soalnya ini pertama kali namaku masuk nominasi dan dibacakan seperti itu. Dan, inilah hasilnya, aku belum menang. Tidak apa-apa. Masuk 10 besar saja sudah senangnya minta ampun. Dan tahun depan di CibFest 2010, aku akan memberikan yang lebih baik dan berharap bisa menang di salah satu kategori. Aku semakin termotivasi.

Banyak hal yang aku dapat dari CibFest ini. Aku jadi semangat untuk memberkati dunia lewat tulisan dan media, yaitu blog. Apa yang aku tulis di blog, tak akan pernah sia-sia. Aku akan terus menulis sampai aku tidak bisa berhenti menulis.

Terima kasih buat Tuhan Yesus yang sudah memberikan aku hikmat dan bakat menulis. Terima kasih buat keluargaku, khususnya Mami ( btw, pas Mami tahu aku masuk 10 besar, dia kayaknya yang paling senang, bukan aku. Betapa kasih Ibu yang indah ). Terima kasih buat teman-temanku yang mendukungku. Terima kasih buat teman blogger dan setiap pengunjung blogku yang mau mendukungku. Terima kasih buat panitia CibFest 2009 dan www.jawaban.com. Terima kasih buat semuanya.

Sambil mendengarkan lagu dari CD True Worshipper - God is Our Victory yang di dapat dari CibFest 2009, aku mau mengakhiri ini dengan semangat yang tiada akhir untuk menulis. God bless u all.

Aku tunggu CibFest 2010 :)

Kamis, 17 September 2009

Dream The Impossible

Many people are afraid to have a big dream. They said if a big dream is impossible. And, even i found if some people are living without dream. They only life with let it flow and don't have clear purpose about life. So, i want to write about dream in order that we can have a dream the impossible and make it possible. Impossible is nothing.

So, everything starts from dreams. Dream is vision. In vision, we have purposes why we are dreaming of. If we know about our dreams, we have to make missions how to reach the dreams. Coz, we can't only have dreams, but have to take actions.

From me, i don't have a dream, but i have many dreams. I live this life with not only one dream, but many dreams, coz the more you take dreams, the more you can achieve. But, not just dreaming, but must take actions.

We are just ordinary people, but please think out of the box and take an extraordinary dream. Coz, if we just have an ordinary dream, we just like others. We must to be different. Just think big, guys.

And sometimes, people think something is impossible. Yeah, it's coz human's bad logic and that's mean if you are pessimist. So, just wake up and realize if you can't always be like that.

Believe in God if nothing is impossible. Dream the impossible. Expect the impossible. Coz we have an extraordinary God. Don't be afraid, just surrender all to God and do your best. So, i believe if God will do the rest and bless you as always.

Don't worry, but think if i can. Just to be optimist. And i encourages you, if you failed, don't let it bring you down, coz it's not only about success, but it's all about learning.

Believe in God, believe in yourself, and believe in your dreams, and then wake up and running to achieve them. Take more actions, don't just take more dreams. Achieve your dreams, don't give up if you feels it's so hard, don't be afraid to be failed, but always fighting and optimist. Be thankful of every single process in your life coz the processes is very precious to be learned by you.

Finally, just surrender all for whatever will be happened later, and always thanks to God for everything had happened in your life. How about your dreams can be achieved or not are depends of God will and your actions.

Thanks. God bless.

Kamis, 03 September 2009

Sebuah Pelukan

Sebuah pelukan bisa membuatku tenang. Sebuah pelukan dengan kasih, bukan nafsu. Berikan aku sebuah pelukan, bukan karena ku butuh kehangatan, tapi sebuah pelukan memberi sejuta ketenangan.

Ketika seseorang memelukku, aku merasakan ada kesatuan hati bukan cuma tubuh. Sebuah pelukan menimbulkan rasa aman, walau mungkin kondisiku sedang tidak nyaman. Berikan sebuah pelukan, selagi punya tangan. Pelukan lebih berkesan daripada ciuman. Peluklah orang yang paling kita sayang.

Aku ingin memeluk dunia, aku ingin memeluk orang yang ku sayang, aku ingin memeluk orang yang terhilang, aku ingin memeluk dirimu. Tapi peluklah aku terlebih dahulu Tuhan, agar setiap pelukan seperti pelukan-Mu yang penuh kasih.

Kan aku biarkan Kau yang memelukku, dan bukan diriku yang memeluk-Mu--karena aku takut kalau aku yang memelukmu, suatu saat aku bisa melepaskan-Mu.

Berikanlah sebuah pelukan!

P.S.= Free Hugs

Selasa, 01 September 2009

Life's Learning

It's not only about winning, but it's all about learning. When you are down, you failed, but you have learned many things. Life's learning. You are not a quitter. You are a climber. Because quitters never wins, but winners never quits. So, don't give up. Always raise up. Gbu.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Awal baru saja dimulai. Kaki harus terus melangkah, bukan untuk mencapai akhir--karena mimpi tak pernah berakhir.

Jumat, 28 Agustus 2009

Cinta Seperti Mentari

Hari berganti hari
Malam menjadi saksi
Menunggu yang tak pasti
Berharap kau di sisi

Walau di dalam mimpi
Aku pun tak berani
Menyatakan isi hati
Biarlah ini terjadi

Cinta seperti mentari
Menyinari tanpa henti
Tak meminta kembali
Tanpa terkecuali

Cinta seperti mentari
Tak harus memiliki
Walau ku sakit hati
Tak bisa aku lari

Ku berdiri sendiri
Melewati hari sepi
Cinta tak kan jadi benci
Walau kini ku gigit jari

Memori

ia adalah memori
terekam di hati
tak kan menjadi basi
apalagi mati

http://www.kemudian.com/node/236024

Jumat, 21 Agustus 2009

Gerimis

air itu mengenai keningku
satu demi satu mengejar-ngejarku
lembut
berebut membasahi tubuhku
gerimis
ya, aku menyukainya
basah bukan apa-apa
namun, gerimis menyejukkanku
dari semua kepenatan hidup

*Puisi ini diambil dari novelku yang belum jadi-jadi hingga sekarang,hehe*

http://www.kemudian.com/node/236023

Rabu, 19 Agustus 2009

Bersyukur untuk yang telah terjadi, berserah untuk yang akan terjadi. Segala perkara (yang telah dan akan terjadi) dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku. Filipi 4:13.

Selasa, 14 Juli 2009

Be Faithful to My Dreams

I don't have a dream, but i have many dreams.
I'm not only dreaming about, but i wake up and running to achieve them.
I believe in God that impossible is nothing.
I do and always do my best and focus.
Sometimes down, but always rise up again.
How about my future later is depends of God will and my actions.
No worry, but yes i can.
Be faithful to my dreams.

Selasa, 30 Juni 2009

Aku Ada di Surga

Namaku Dio. Umurku 7 tahun sekarang. Hari ini aku ulang tahun. Aku senang sekali. Aku mendapat kado sebuah kotak musik yang cantik. Sudah lama aku menginginkannya.

Tadi, aku berdoa supaya Tuhan memberiku umur yang panjang, juga orang tuaku. Aku berharap semoga aku bisa tambah gemuk seperti teman-temanku di sekolah. Aku tak mau mengingat berapa berat badanku. Aku sangat kurus dibanding anak seumurku. Kata Ibu, aku tidak akan bisa gemuk. Tapi, aku tak tahu kenapa.

Sebulan sekali aku pergi ke rumah sakit. Sungguh melelahkan. Kata Ibu, darahku harus di cuci setiap bulan. Biar aku sehat dan gemuk. Tapi, nyatanya aku tidak gemuk juga. Aku juga cepat lelah kalau habis bermain. Makanya Ayah tidak pernah mengizinkanku untuk bermain lama-lama di luar.

Sudah hampir seminggu aku dan orang tuaku pindah ke sini. Aku punya rumah baru sekarang. Tapi, rumahku jadi lebih sempit dan kecil sekali. Rumahku yang dulu berlantai dua. Sekarang hanya berlantai satu. Tak ada lagi kolam ikan di belakang rumah. Tak ada lagi halaman untuk menanam bunga. Aku bosan tinggal di sini.

Tapi, di sini aku punya teman akrab. Tak seperti di rumah lamaku dulu. Temanku namanya Nia. Dia sebaya denganku. Dia gadis yang manis. Dia sering mengajakku bermain ke taman dekat rumah. Kami bermain kejar-kejaran. Aku sering lupa waktu kalau sudah bersama dia. Aku pernah di marah Ayah karena pulang terlalu sore. Sejak saat itu aku tidak boleh bermain ke taman lagi. Tapi, aku suka diam-diam pergi ke sana ketika Ayah lagi pergi kerja dan ibu sedang memasak atau ketiduran di ruang tamu.

Aku bosan kalau di rumah terus.

* * *

Sekarang aku sedang sedih. Aku tak bisa bermain lagi. Aku sedang sakit. Aku cuma bisa terbaring di kamar. Aku kesepian. Tak ada yang bisa aku ajak bicara. Kasihan Ayah dan Ibu. Aku tak mau mengganggu mereka.

Di mana Nia, ya? Semoga dia datang menjengukku. Tapi, apa dia tahu kalau aku sedang sakit?

* * *

Oh, aku ketiduran lagi. Sudah malam. Eh, kotak musikku kok hidup sendiri, ya? Ehm, mungkin Ibu yang menghidupkannya agar aku tidak kesepian. Sepertinya Ibu lagi masak. Aku bisa mencium aroma sop ayam khas Ibu.

Tok-tok-tok….

“ Masuk.” Mungkin Ibu yang datang.

“ Nia?” Aku sangat terkejut melihat siapa yang datang. Ternyata Nia. Senangnya.

“ Dio. Ini aku Nia. Kamu lagi sakit, ya?” Nia masuk dan berjalan menghampiriku.

“ Cuma sedikit demam saja.”

“ Kamu kok tahu aku sakit?”

“ Eh, Dio. Nih, aku ada permen buat kamu. Cobain deh.”

“ Ma kasih.” Aku mengambilnya.

“ Enak nggak?”

“ Manis.”

* * *

“ Dio. Bangun, Nak. Makan dulu. Nih, Ibu bawakan sop ayam kesukaanmu.”

“ Bu, Nia mana?” Aku pun bangun dan langsung teringat Nia.

“ Nia lagi, Nia lagi. Nia yang mana Dio? Nia nggak ada di sini.”

“ Tadi Nia ke sini, Bu. Nia kasi aku permen tadi.”

“ Kamu mimpi kali Dio.”

“ Nggak, Bu.”

“ Ya sudah. Nih, makan dulu.”

“ Iya, Bu.”

“ Badan kamu nggak panas lagi, Dio.” Ibu menyentuh dahiku.

“ Aku sudah agak mendingan sejak Nia datang tadi.”

“ Nggak ada orang yang datang dari tadi, Dio.” Ibu tampak mulai kesal. Jadi lebih baik aku diam saja dan makan sop ayam itu.

* * *

Mataku sudah terpejam tadi. Aku sangat mengantuk. Tapi, tiba-tiba ada suara halus yang berbisik dekat telingaku sehingga membuatku terbangun. “ Dio…Dio……..”

“ Nia?”

“ Ayo kita main Dio.”

“ Tapi, ini kan sudah larut malam.”

“ Coba kamu lihat.” Nia membawaku ke jendela kamarku untuk melihat apa yang ada di luar rumahku.

“ Siapa mereka?”

“ Mereka teman-temanku.”

“ Banyak sekali.”

“ Aku sudah mengajak mereka untuk menjemputmu.”

“ Tapi… .?”

“ Ayolah Dio. Temani kami main.”

“ Baiklah.”

* * *

Aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Badanku lemas sekali. Ayah dari tadi terus saja bertanya-tanya kepadaku,” Dio, kamu kenapa bisa ada di halaman rumah?”

“ Dio mungkin ngigau, Yah.” Ibu yang menjawabnya.

Aku sungguh bingung. Rasanya semalam aku tidur di kamar. Tapi, kok ...? Mungkin benar yang Ibu katakan. Ah, aku takut ngigau lagi. Untungnya, Ibu akan menemaniku tidur nanti malam.

* * *

Sejak saat itu, kondisiku semakin hari semakin lemah. Aku sudah tidak pernah lagi ke rumah sakit untuk cuci darah. Mungkin itu penyebabnya. Dokter juga hanya datang sekali saja untuk mengobatiku. Tak ada perubahan apa-apa sejak aku makan obat pahit yang dokter berikan itu.

“ Ayah, bagaimana kalau ini di jual saja? Besok kita harus bawa Dio ke rumah sakit. ” Ibu melepaskan cincin yang selama ini melekat di jari manisnya.

“ Tapi, Bu…..”

“ Ibu nggak mau kalau Dio kenapa-kenapa. Dio anak kita satu-satunya, Yah.” Mata Ibu berkaca-kaca.

“ Tenang, Bu. Dio pasti akan baik-baik saja.” Ayah lalu memeluk Ibu. Air mata Ibu pun mengalir deras. Ayah juga tampak ikut menangis.

Aku tak sengaja mendengar percakapan Ayah dan Ibu ketika aku mencoba keluar kamar. Tiba-tiba, aku tak mampu lagi melangkah. Darah segar terus saja keluar dari hidungku. Badanku kejang-kejang. Sebelum aku terjatuh, aku tak sengaja menjatuhkan gelas di atas meja. Aku mencoba meraih meja itu, tapi aku tak mampu menahan tubuhku lagi. Sekelilingku tampak gelap dan sunyi.

Aku masih bisa merasakan kedatangan Ayah dan Ibu. Mereka mencoba menolongku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Seluruh tubuhku lemas dan ringan. Tenang rasanya.

* * *

Aku sedang bersama Nia dan teman-temannya yang berpakaian putih itu. Kami sudah cukup jauh berkelana. Aku tak mengenal tempat ini. Tapi, tempat ini begitu indah. Aku merasa nyaman berada di sini. Semuanya terasa menyenangkan. Tak ada penderitaan. Aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.

Ini adalah kenyataan. Bukan lagi mimpi. Sebentar lagi aku akan di bawa mereka untuk bertemu dengan pemilik tempat ini. Sepertinya aku mengenal pemilik tempat ini. Ya, Dia adalah orang yang pernah Ayah dan Ibu ceritakan. Kami ada foto-Nya di rumah. Dia pasti Yesus.

Tapi, Ayah dan Ibu di mana? Mengapa Ayah dan Ibu tidak bersamaku?
Kata mereka tempat ini namanya Surga. Aku ada di Surga.

http://www.kemudian.com/node/233877

Mengapa Manusia Lemah dan Terbatas?

Mengapa manusia lemah dan terbatas? Hal itu yang dulu pernah aku tanyakan ke Tuhan. Mengapa Tuhan tidak membuat aku kuat saja sehingga aku tidak perlu merasa "down"? Dan mengapa kemampuanku terbatas? Akhirnya hikmat dan pengertian itu turun. Sekarang aku tahu apa jawabannya.

Hari ini, besok, dan hingga kapanpun aku ( juga kamu ) akan menjadi orang yang lemah dan terbatas. Manusia itu lemah dan terbatas. Kalau ada yang merasa kuat dan tidak terbatas, bertobatlah karena itu bohong. Dan aku sangat bersyukur atas kelemahan dan keterbatasanku sekarang. Mengapa?

Karena dengan kelemahanku, kekuatan Tuhan nyata atasku. Dan karena keterbatasanku, ketidakterbatasan Tuhan terjadi padaku.

Coba bayangkan, kalau kita kuat, kita akan menjadi sombong dan berpikir kita bisa hidup tanpa orang lain, bahkan tanpa Tuhan. Kuat artinya bisa berdiri sendiri. Dan aku ( juga kamu ) tida bisa berdiri sendiri tanpa orang lain, apalagi tanpa Tuhan. Kita butuh dia yang di Bumi dan Dia yang di Surga untuk menopang kelemahan kita.

Coba bayangkan lagi, kalau kita tidak terbatas, berarti kita bisa tahu dan melakukan segala hal. Kita akan melakukan apa saja sesuka hati dan tidak perlu bertanya apa maunya Tuhan karena kita sudah tahu apa yang terbaik yang harus kita lakukan. Dan ternyata aku ( juga kamu ) terbatas dan kita butuh Tuhan yang tak terbatas sebagai tempat jawaban atas keterbatasan kita. Dia yang akan mengatur hidup kita. Tuhan tahu apa yang terbaik menurut-Nya bukan menurut kita.

Kita lemah, tapi bukan berarti kita tak berdaya. Kita akan menjadi kuat, tapi bukan karena kita kuat tapi karena kekuatan Tuhan yang menguatkan kelemahan kita. Kita terbatas, tapi bukan berarti kita tidak bisa. Kita akan menjadi luar biasa karena kemampuan Tuhan yang luar biasa ada pada kita.

Kita lemah dalam segala pergumulan, tapi andalkan kekuatan kekal yaitu Yesus. Kita terbatas untuk melakukan segala hal, tapi percayalah kuasa Tuhan tak ada yang terbatas. Berserah dan biarkan Tuhan bekerja atas hidup kita.

Jadi, bersukacitalah atas segala kelemahan dan keterbatasan kita. Kalau kita kuat dan tidak terbatas kita akan menjadi pribadi yang sombong dan tidak mengandalkan Tuhan. Dan untungnya, kita lemah dan terbatas. Bersyukurlah atas itu semua. Tuhan memberkati.


*Tulisan ini diikutsertakan di Writing Competition CIBFest 2009*

Sabtu, 27 Juni 2009

Rantai Cinta

Jika cinta itu hanya saling memberi tanpa ada yang menerima kembali, maka terciptalah suatu rantai cinta yang saling mengait tanpa ikatan cinta.

Hari Valentine yang mendung. Awan kelabu menghiasi jiwa ke-empat orang yang sedang patah hati di hari yang sama, hari Valentine.

Hujan lebat di sore itu, menambah efek dramatis di hati Irawan, Ria, Ronny, dan Indah yang sedang memikirkan cinta mereka yang belum juga berlabuh. Dan entah, akankah cinta itu berlabuh?

Irawan memanfaatkan hari Valentine itu untuk menyatakan cintanya kepada Ria yang sudah lama ia taksir. Mungkin sudah agak terlambat untuk menyatakannya karena sebentar lagi mereka bakal mengikuti ujian akhir SMA. Namun, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Semua hal sudah dipersiapkan Irawan jauh sebelum hari bersejarah itu, terutama mental dan cintanya. Inilah hari Valentine yang tak mungkin dilupakannya. Hari Valentine yang penuh luka.

“ Hi, Ria!” Irawan menyapa lamunan Ria yang sedang tertunduk lesu di kursi di kelasnya.

“ Oh, kamu Wan,” Ria sedikit terkejut.

“ Pagi-pagi kok ngelamun?”

“ Nggak kok. Kenapa?”

“ Bisa temani aku ke belakang sekolah bentar nggak?”

“ Ngapain?”

“ Ada aja. Ok?” Secara refleks Irawan menarik tangan Ria tanpa menunggu persetujuan olehnya.

“ Lepasin tangan aku. Aku bisa jalan sendiri, Wan.” Ria mengeluh.

“ Sorry deh.”

Irawan kemudian langsung membuka retsleting tasnya dan mengambil sesuatu dari situ. “ Ini buat kamu.”

“ Happy Valentine Day,” Irawan melanjutkan perkataannya.

“ Happy Valentine Day too,” Ria menjabat tangan Irawan.

“ Eh, ini buat aku, Wan?” Ria sedikit tak percaya.

“ Ya, buat wanita manis seperti kamu.”

“ Gombal. Ma kasih, ya.”

“ Sama-sama. By the way, suka nggak?”

“ Suka. Lucu, ya.”

“ Lucu seperti kamu.”

“ Enak saja samain aku sama boneka ini.”

“ Oh ya, sorry nih aku nggak ada kado buat kamu.”

“ Nggak apa-apa. Aku sudah sangat senang kamu mau nerima kado dariku ini.”

“ Ya udah deh. Aku mau ke kelas dulu. Kamu itu aneh-aneh aja. Napa nggak kasiin kado ini di kelas aja. Di sini kan sepi. Entar di kira mau ngapain lagi, hehe?”

“ Eits. Ria, jangan pergi dulu. Sebenarnya….” Irawan terlihat gugup.

“ Apaan?”

“Sebenarnya a…ku ngajak kamu ke sini karena aku mau bilang perasaan aku yang sebenarnya….”

Keadaan tiba-tiba menjadi sunyi. Detak jantung yang semakin tak menentu menambah kegelisahan di raut wajah Irawan yang semakin memerah. Seribu tanya menyerang batin Ria seketika itu.

“ I love you, Ria.”

Bumi seakan berhenti berputar. Jarum panjang pada jam seakan tak ingin berlalu dari pukul 06. 40 saat itu.

Mata bulat Ria mulai berkaca-kaca. Angin sepoi-sepoi menyapu kedua belah pipi mulusnya. Kini Ria bisa merasakan air yang berlinang dari matanya, lalu menyusuri pipinya, hingga jatuh dan menyerap ke dalam tanah.

Tiba-tiba saja Ria ingin waktu segera berputar cepat. Atau kalau bisa, saat itu tidak ada dalam hari-harinya.

Ini ternyata bukan mimpi. Ini kenyataan. Ini bahkan lebih menyakitkan hatinya. Karena ternyata harapannya kini semakin hancur berkeping-keping. Dan di hadapannya datang seorang pangeran yang berusaha menyatukan kepingan-kepingan hatinya itu. Pangeran itu adalah Irawan. Bukan Ronny yang selalu ia harapkan.

“ Mau nggak kamu jadi pacar aku.” Wajah Irawan memelas penuh harapan. Sekarang ia sudah berani mengungkapkan isi hatinya yang telah sekian lama terpendam dalam kebodohannya. Wajah Irawan yang memerah seperti tomat itu, berbanding terbalik dengan wajah kelabu Ria.

“ Kamu kenapa nangis?” jari Irawan menyentuh pipi Ria dan menghapus air matanya yang terus mengalir deras.

“ Sorry, Wan. Aku … aku nggak bisa.” Ria mengatakannya dengan hati-hati.

” Kenapa nggak bisa?” Irawan sangat terkejut. “Aku akan ngelakuin apa aja hanya untuk kamu, Ria.” Irawan memelas dan berusaha tegar. “ Please.”

“ Sorry, Wan, tolong ngertiin aku,” Ria berkata dengan penuh rasa bersalah.

“ Tolong beri aku alasan, Ria?”

.....

“ Kenapa kamu diam? Beri aku kesempatan, Ria.”

“ A…aku belum mau pacaran, Wan. Bentar lagi kita ujian, kita mau lulus. Bukannya kamu mau lanjut ke luar negeri? Jadi, untuk apa kita bersatu kalau harus berpisah?”

“ Bohong. Aku tahu siapa kamu, Ria. Itu pasti bukan alasanmu, kan?”

.....

“ Kenapa kamu diam lagi? Apa kamu mencintai lelaki lain?”

“ Tolong jangan bentak aku.” Air mata Ria semakin deras mengalir. “ Lepasin tangan aku, Wan.” Ria mengguncang-guncang tangannya dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Irawan.

Irawan perlahan melepas tangan Ria dari genggamannya. “ Kenapa kamu nggak kasi aku alasan yang sebenarnya? Apa kamu mengharapkan lelaki lain yang datang untuk mencintaimu? Siapa dia? Mana dia?” Irawan menguncang bahu Ria.

“ Lihat. Lihat aku. Lihat lelaki yang ada di hadapanmu sekarang. Itu aku, Ria. Apa lagi yang kamu tunggu? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Ria. Tolong beri aku kesempatan membuktikannya,” lanjut Irawan penuh emosi.

“ Stop! Aku tak perlu bukti itu. Aku percaya sama cinta kamu. Tapi … tolong jangan paksa aku. Aku belum siap, Wan.”

“ Apa lagi yang kamu tunggu? Bukankah kamu percaya akan cintaku?”

“ Cukup. Sorry, Wan. Sebaiknya kita hanya berteman saja.”

“ Apa?”

“ Sorry, Wan. Dan ma kasih buat semuanya. Aku yakin di luar sana ada wanita yang lebih baik untuk kamu, Wan.”

Irawan menatap nanar wajah cantik Ria yang penuh perasaan bersalah itu. Kini, Irawan diam seribu bahasa melihat kenyataan yang ada di hadapannya.

“ Wan, aku mau ke kelas dulu. Sudah mau masuk.” Ria membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Irawan yang sedang terpuruk.

“ Ria.” Irawan berteriak kecil.

“ Apa lagi, Wan?” Ria menoleh kembali ke arah Irawan yang kini berusaha mencegatnya dengan menarik tangannya.

“ Maaf kalau aku terlalu emosional. Dan tolong ini kamu ambil. Ini untuk kamu.” Irawan mengambil boneka pemberiannya itu yang tadi jatuh ke tanah.

“ Dan asal kamu tahu. Tak ada wanita yang lebih baik selain kamu, Ria.” Irawan berbicara penuh keyakinan.

“ Ma kasih, Wan,” Ria mengambil boneka itu tanpa berani menatap mata sayu Irawan.

“ Ehm, satu lagi Aku akan selalu menunggumu,” kata Irawan lirih.
Ria lalu membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Irawan seorang diri dengan langkah yang berat.

Irawan memperhatikan wanita yang telah melukai perasaannya itu melangkah meninggalkannya. Irawan terus menatapnya hingga keberadaannya tak mampu ditangkapnya kembali.

Saat itu, angin berhembus kuat ke sana ke mari mengisyaratkan perasaan Irawan dan Ria yang tak menentu. Daun-daun berguguran bagai cinta Irawan yang gugur berantakan tanpa seorang pun yang memungutnya.

Air mata yang tertahan menetes lembut dari hati Irawan yang terluka.

* * *

Ronny mengetuk-ngetuk pintu rumah Indah,“ Indah. Indah, tolong buka pintunya.”

“ Cukup, Ron. Aku nggak cinta sama kamu. Sampai kapan pun kamu mencintaiku, aku tak akan membalas cintamu itu.” Indah berteriak dari balik pintu rumahnya sambil menangis.

“ Bohong.”

“ Kamu ini bisa di bilang nggak. Pergi sana. Di luar hujan. Aku muak lihat muka kamu.”

“ Aku sangat mencintaimu, Indah. Tolong buka pintunya.”

“ Aku nggak akan terima cintamu sampai kapan pun. Kamu sudah benar-benar gila.”

“ Ya, aku memang sudah gila dan aku akan semakin gila jika kamu membohongi perasaanmu dan mempermainkan perasaanku. Kenapa kamu semakin lama semakin menjauhiku? Apa salahku?” Roni berteriak seperti orang gila.

Tak ada jawaban dari balik pintu itu lagi. Suara tangisan pun tidak. Hanya denyut nadi yang semakin lemah berdenyut berusaha mempertahankan hidup yang hampir mustahil dipertahankan itu.

Indah pingsan dengan air mata yang mulai mengering dan perasaan yang semakin tertekan. Perasaan memendam cinta.

* * *

Kini, penantian cinta selama beberapa tahun itu tak akan pernah berlabuh. Cinta itu telah pergi. Cinta itu kini sia-sia. Indah tak pernah memberikan sedikit pun kesempatan untuk menerima cinta Ronny hingga ajal menjemputnya. Indah menderita leukemia sejak beberapa tahun silam yang menghalangi perasaannya untuk berani jujur kalau ia juga mencintai Ronny. Indah tak ingin membuat Ronny semakin kehilangan jika ia menerima cinta itu karena ia yakin umurnya tak bakal lama lagi.

Perpisahan yang tak pernah dibayangkan Ronny kini ada dipelupuk matanya yang sembab. Ia melangkah gontai ke pemakamannya Indah.

* * *

...Seorang mahasiswa ditemukan tewas gantung diri di kamarnya. Sejauh ini diperkirakan korban yang bernama Ronny ini bunuh diri karena pacarnya yang bernama Indah meninggal sebulan yang lalu. Hal ini dapat di simpulkan dari suratnya yang ditemukan di kamarnya. Menurut penuturan orang tua korban, Ronny sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri namun selalu dapat dicegah terlebih dahulu.
Dalam suratnya tertulis: Jika aku tak bisa mendapatkan cintanya di dunia, maka aku akan terus mengejarnya ke manapun ia pergi. Karena aku sangat mencintaimu dan aku tahu jika kamu sebenarnya juga mencintaiku Indah...

Ria tak mampu lagi melanjutkan membaca berita kematian Ronny yang tragis itu di koran. Ia kini hanya mampu meneteskan air mata kehilangan dan kehancuran yang mendalam.

Ria menatap keluar dari teras atas rumahnya. Matanya tertuju ke rumah di depannya. Rumah penuh kenangan. Rumah Ronny, rumah pangeran masa kecilnya.

Bayangan masa kecilnya kembali hadir. Ria teringat pohon Jambu di depan rumah Ronny yang dulu sering mereka panjat saat pohon Jambu berbuah lebat. Ronny yang saat itu terjatuh dari atas pohon itu ketika hendak memetik buah Jambu yang telah masak untuknya. Ronny bela-belain memanjatnya padahal batang pohon itu masih sangat licin sehabis hujan.

Ria selalu teringat kejadian itu. Betapa tidak, Ronny terjatuh karena mau memberikannya buah Jambu yang telah masak. Saat itu Ria tak bisa memanjatnya bersama Ronny seperti biasa karena kaki Ria baru saja terluka akibat tertusuk paku ketika berlari-lari tanpa alas kaki di taman dekat rumahnya saat bermain petak umpet bersama Ronny dan temannya yang lain.

Kini semuanya telah lama berlalu. Kenangan itu, kenangan masa kecil yang kini tak akan sama lagi rasanya bila dikenang tanpa kehadiran Ronny. Bahkan pohon Jambu itu tak seperti dulu lagi. Tak lagi terlihat adanya tanda-tanda kehidupan di sana. Daun-daun mulai berguguran tanpa sebab. Tak ada lagi burung-burung Gereja di pagi hari atau seekor Kelelawar pun di malam hari yang bertengger di dahan-dahannya yang rindang.

Ria yang selama ini sudah salah mengartikan kedekatan dan kebaikan Ronny hanya bisa gigit jari karena ia selalu ingin mengharapkan lebih. Ria menunggu apa yang tak bisa ditunggu. Harapan dan impian masa depan bersama Ronny pupus sudah. Kandas di tengah jalan.

* * *

Ria menatap boneka Beruang pemberian Irawan itu di kamarnya. Mata boneka Beruang itu kini tak bersinar seperti dulu lagi. Irawan telah pergi meninggalkan cintanya di Indonesia dan terbang ke negeri Singapura guna melanjutkan pendidikannya.

“ Wan. Kamu itu kenapa sih? Mana janjimu? Katanya mau nunggu aku sampai kapan pun. Mana? Kenapa sekarang pergi?” Ria berbicara sama boneka itu.

“ Ke Singapura? Haha… Nggak takut kamu di makan Singa di sana, hah? Bego. Di sana itu banyak Singa tahu. Galak-galak. Harm…” Ria menirukan suara Singa asal-asalan.

“ Kok kamu tega sih, Wan ninggalin aku. Dasar penipu. Sekarang aku sama siapa dong? Sama boneka Beruang ini? Gila deh. Tahu nggak, gila.”

“ Kamu tahu, kan, tadi aku ke bandara mau ketemu sama kamu? Kenapa kamu cuekin aku? Kenapa nggak memberi aku cinta itu lagi di saat aku ingin menerimanya? Karena aku bodoh? Ya, aku memang bodoh. Bodoh.”

“ Kenapa tinggalkan aku seperti sih Ronny brengsek itu, hah? Kalian berdua memang brengsek. Brengsek!”

“ Orang yang aku cintai dan yang mencintaiku telah pergi. Tak ada yang mengerti perasaanku. Mama dan Papa hanya bisa bilang aku bodoh. Ya aku emang bodoh. Nilai ujianku hancur. Orang yang mencintaiku ku biarkan pergi dan aku menunggu seseorang yang rela mati bukan untukku. Sialan….”

Air mata Ria bercucuran. Tawanya terdengar mengerikan. Seperti kerasukan ia mengambil selimutnya lalu ia gantungkan dan ia ikatkan pada kipas angin yang tergantung di kamarnya.

Boneka Beruang yang ia genggam itu kini telah terlepas dari tangannya. Boneka itu terjatuh dan mukanya menghadap ke lantai tanpa sedikitpun berusaha membalikkan tubuhnya untuk menatap apa yang terjadi di balik tubuhnya. Seorang gadis cantik yang kini sudah tak bernyawa karena lilitan selimut yang mencekik lehernya. Tubuh Ria bergelantungan bersama baling-baling kipas angin di atasnya yang berputar pelan sendiri.

Sehelai kertas ia kalungkan di lehernya yang berisi :

Berdasarkan Daftar Kolektif Nilai Ujian Nasional Dinas Pendidikan
Propinsi Kalimantan Barat, menerangkan bahwa:
Nama : Ria Alinda
Dinyatakan
TIDAK LULUS

http://www.kemudian.com/node/233714

Jumat, 26 Juni 2009

The World vs. The Holy Spirit

The world said that u should leave Him behind. But the Holy Spirit said that u should have Him beside. Which one u choose?

Guys, i hope u keep running back to Him coz u must remember when u ran alone, then u became tired and finally u can't survive long. Only with Him u can survive long. Ur process is still long. Its still a long journey and u must stay in God to can survive till the end.

Keep praying. Keep fighting. Keep spirit. Keep grateful. Keep rejoiced. Gbu.
God, give me spirit to stay. I'm weak, i can't, but i want to be processed by You. Give me Your strength. I surrender. I need You. Embrace my heart. Thanks Jesus. Amen.

Jangan Fokus Sama Beban

Janganlah kamu fokus berlebihan pada beban yang kamu pikul karena itu akan membuat terasa semakin berat. Janganlah kamu terus berjalan sendiri dengan bebanmu karena berarti kamu coba berjalan tanpa Tuhan. Tinggalkan sejenak dan datang sama Dia. Sehingga kamu akan mendapatkan kekuatan baru untuk berjalan memikul bebanmu.

Jangan fokus sama beban, tapi fokus sama apa yang mau Tuhan ajarkan dari beban itu.

Selasa, 23 Juni 2009

Aku menyembah-Nya bukan karena berkat-Nya, tapi karena janji yang mau aku buktikan seperti janji-Nya yang selalu Ia nyatakan dalam hidupku dan hidupmu. Ketika aku menyembah-Nya, aku tidak melihat berkat-Nya, tapi aku melihat wajah-Nya.
Yang Tuhan paling rindukan adalah hubungan pribadimu dengan-Nya. Bagaimana hubunganmu dengan Tuhan akan mempengaruhi bagaimana hubunganmu dengan orang lain.

Senin, 22 Juni 2009

Allah kita sangat besar, jadi jangan bilang kalau masalah kita juga besar karena tidak ada yang sama besar atau lebih besar dari Yesus.
Masalah bukan raksasamu, tetapi apa yang ada dalam dirimu (ketakutan, kekhawatiran, kebingungan, dsb) ketika menghadapi masalah adalah raksasamu yang mesti ditaklukkan olehmu.
Kata-kata dapat mengubah sedikit, tetapi tindakan-tindakan dapat mengubah banyak. Orang yang bijaksana adalah orang yang menekankan pada tindakan-tindakan dan bukan kata-kata belaka.

Minggu, 21 Juni 2009

Bukti kasih tidak harus dengan hal-hal yang besar. Mulailah dengan hal-hal yang kecil. Mungkin dengan kata-kata dan tindakan-tindakan sederhana.
Jangan karena satu hal yang dapat membuat Anda sedih, Anda melupakan banyak hal yang dapat membuat Anda bahagia. Jadi, jangan melupakan hal-hal yang bahagia karena satu hal yang sedih.
Satu hal penting yang sering terlupakan oleh manusia agar hidup terasa indah ketika banyak hal yang tidak indah terjadi adalah beryukur kepada Tuhan.

Sabtu, 20 Juni 2009

Satu hal yang tidak bisa Tuhan lakukan adalah meninggalkanmu sendirian.

Kamis, 18 Juni 2009

Pejuang Jalanan

Ayahku Soetomo Ali. Apakah kalian pernah mendengar nama itu? Apakah kalian mengenalnya? Aku yakin tidak. Ayahku bukan siapa-siapa. Ia orang biasa. Apalagi sekarang ia sudah tiada. Siapa yang bakal mengenalinya, apalagi mengenangnya.

Aku sendiri tak banyak tahu tentang Ayahku. Kehidupan yang sangat keras, membuatku tak sempat lagi memikirkan tentangnya. Memikirkan perut jauh lebih penting. Kalau tidak, aku bisa mati kelaparan.

Hanya sedikit yang ku tahu tentang Ayahku. Ia adalah seorang pejuang. Ia seorang yang juga mengambil bagian saat Indonesia merebut kemerdekaan. Tapi, ya lupakanlah. Ayahku juga tak dianggap. Ia merendahkan diri. Ia tak pernah menganggap pengorbanannya adalah hal yang luar biasa. Waktu G3OSPKI, ia hilang tanpa jejak. Padahal ia bukan seorang PKI, tapi dituduh seperti itu. Ibuku juga menghilang entah ke mana setelah hal itu terjadi pada Ayah.

Aku tak tahu nasib mereka. Aku juga tak mengerti akan hal itu. Sulit bagiku, seorang yang tak pernah tamat sekolah untuk mencerna cerita itu. Aku mendengar semua itu dari Bibi Ina, yang membesarkanku. Tapi akhirnya ia meninggal ketika ku kecil dan hidupku menjadi tak berarah.

Jalanan macet Ibukota sudah menjadi pemandangan wajib hari-hariku. Panas dan hujan adalah teman baikku. Kucel, hitam, bau, adalah diriku. Pakaianku kusam. Keringatan. Kalian sebaiknya menjauhiku, kecuali kalian mengasihiku, lebih tepatnya mangasihaniku.

Hidupku tak menetap. Pekerjaan tak menentu. Setiap hari kalian bisa menemuiku di pinggiran jalan yang berdebu, di tengah jalan ketika lampu merah, di dalam bis yang sumpek, ya di sepanjang jalan yang penuh keramaian. Aku mengembara di manapun tempat yang ada tanda-tanda sesuap nasi.

Itulah hari-hariku. Dulu. Itu masa laluku. Sekarang aku punya masa depan.

Sekarang hidupku sudah berubah. Aku sudah menjadi aku yang baru. Aku yang berbeda. Yang masih sama adalah aku masih sering kembali ke jalanan, tapi bukan sebagai anak jalanan, melainkan aku punya visi dan misi untuk anak jalanan. Harapan dan mimpi buat mereka. Aku sedang memperjuangkan itu.

Balik lagi ke masa lalu. Itulah yang sering aku lakukan. Aku bukan sedang menyesali nasib dan meratapi yang sudah terjadi. Aku cuma sedang menceritakan siapakah aku, apakah yang sudah terjadi di hidupku, bagaimana aku melewatinya, dan bagaimana aku yang sekarang?

Sebenarnya, masa laluku begitu menyedihkan dan sangat menyakitkan untuk diingat kembali. Tapi, itu yang sering aku lakukan kepada orang-orang yang kutemui. Aku menceritakan semua masa laluku, sehitam apapun itu aku tak malu lagi mengatakannya. Aku ingin menjadi saksi. Saksi Kristus.

Hal ini sudah aku lakukan kira-kira lima tahun belakangan ini. Aku ingin membebaskan anak-anak jalanan. Aku tak sendiri. Aku bergabung dengan tim gerejaku untuk melayani anak-anak jalanan di Jakarta.

***

“ Hasan, kamu sangat luar biasa. “

Kata-kata itu terus mengiang di telingaku. Aku selalu mengingatnya ketika semangatku mulai hilang. Itu adalah kata-kata pembinaku, Candra. Dialah yang menjangkauku dan membawaku hingga aku seperti yang sekarang ini.

“ Ya, aku pasti bisa. “ Aku memotivasi diriku sendiri.“ Amin.“

Dulu, aku adalah orang yang tak berpengharapan. Hidupku begitu saja setiap hari. Tak ada kemajuan. Bahkan mungkin yang ada adalah kemunduran. Masa laluku kelam. Siapa yang tak mengenalku di jalanan. Aku terkenal dan disegani.

Sejak kecil, sejak aku seharusnya berada dalam lindungan orang tua, masa di mana seharusnya aku sekolah dan bermain tertawa dengan anak seumurku, malah terjadi sebaliknya. Aku tak tahu siapa orang tuaku. Aku cuma tahu nama mereka. Aku tak mengenal Ibuku. Siapa Ayahku? Hidupku di jalanan. Aku anak jalanan. Tak ada masa depan.

Aku tumbuh dengan kerasnya jalanan. Aku pernah mengemis. Aku pernah mengamen. Aku pernah mencuri. Bahkan membunuh. Hidupku tak ada yang benar. Semuanya buruk. Aku pernah hampir bunuh diri. Aku adalah orang yang lemah, walaupun teman-temanku mengenalku sebagai sosok yang keras dan beringas.

Hampir setiap hari, yang namanya pertengkaran dalam hidupku adalah hal yang biasa. Aku sering berkelahi. Suka membuat onar. Aku adalah orang yang menyebalkan. Hingga suatu hari, aku jenuh dengan semua ini. Aku lari dan menghilang dari dunia jalanan. Aku pergi ke tempat yang jauh dari duniaku berada. Aku menjadi seorang kuli bangunan. Aku menghilang dari kehidupanku yang biasa.

Hingga suatu hari, aku dipertemukan dengan Candra. Rumah yang sedang aku kerjakan adalah rumahnya. Waktu itu, aku masih sebatas kuli di rumahnya. Aku dan teman-temanku membangun rumahnya hingga jadi. Rumahnya bagus dan lumayan besar.

Selesai pembangunan rumah itu, aku ditawarkan pekerjaan baru untuk pembangunan gereja. Saat itu, gereja tempat Candra beribadah ingin diperluas. Dan sekarang, aku juga bergereja di sana. Benar-benar ajaib kuasa-Nya.

Cerita yang begitu panjang. Saat itu ketika gereja itu selesai diperluas, entah mengapa aku jadi ingin sekali masuk dan beribadah di sana. Setiap minggu, aku sesekali mondir-mandir di sekitar gereja dan memperhatikan orang-orang yang datang.

Dan hingga suatu hari, Candra mendapatiku. Ternyata ia sangat ramah dan menyapaku. “ Hasan?“

“ Pak Candra.“ Sahutku dengan sedikit gugup.

“ Apa kabar? Sedang apa kamu di sini?“

“ Baik, Pak. Ee…nggak ngapa-ngapain Pak. Cuma lewat aja.“

“ Jangan bohong. Saya hampir setiap minggu melihatmu di sini, San?“ Tiba-tiba Bu Eni, istri Candra menyambung pembicaraan dan langsung membuatku panik.

Aku terdiam. Tak tahu mau bicara apa. Aku menatap bayi laki-laki mungil yang digendong istrinya. Bayi itu begitu lucu. Dan aku tak berani menatap Candra dan istrinya.

“ Hasan...“ Suara Candra akhirnya membuatku berani jujur.

“ Ee…Sebenarnya, saya mau sekali masuk ke gereja. Apa boleh Pak, Bu?“ Aku berbicara dengan menatap ke bawah.

“ Kamu serius, San?“ Tanya Candra kaget.

“ Iya, Pak.“

“ Puji Tuhan. Tentu saja. Gereja terbuka buat siapa aja, termasuk kamu. Jangan segan begitu.“

“ Ma kasih, Pak.“

“ Tak perlu berterimakasih. Keselamatan itu buat siapa aja. Yesus sudah menunggumu. Mari kita masuk. Sebentar lagi ibadah akan di mulai.“

“ Ayo, San.“ Bu Eni memanggilku ketika ku sedang bengong atas apa yang baru saja terjadi.

“ I..ya, Bu.“ Kami akhirnya masuk ke gereja bersama. Hatiku deg-degan. Ini pertama kalinya aku beribadah. Benar-benar kuasa Tuhan yang bekerja.

Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Aku aktif sekali beribadah. Rajin datang ke gereja. Hidupku benar-benar di jamah. Aku dipulihkan dan diubahkan menjadi Hasan yang baru. Hingga suatu hari, ketika aku sudah banyak di bina, berdoa, dan membaca Firman Tuhan, aku memutuskan mengambil pelayanan. Dan saat itu, aku memutuskan untuk melayani anak-anak jalanan. Sungguh luar biasa rencana Tuhan dalam hidupku.

Aku merasakan kasih karunia Tuhan dalam hidupku. Aku yang seorang anak jalanan yang penuh dengan dosa, bisa memiliki hidup yang berbeda. Aku rindu melihat anak-anak jalanan yang lain bisa merasakan apa yang aku rasakan sekarang.

Setiap aku merenung akan kehidupanku, air mata ini tak bisa ku tahan. Aku yang dulunya seorang anak jalanan, aku yang dulunya mengemis, mengamen, bahkan menjarah dan membunuh orang yang tak bersalah ketika peristiwa Mei 1998, orang yang hampir putus asa dan bunuh diri, kini akhirnya datang kembali ke jalanan dengan membawa impian untuk melayani anak-anak jalanan agar mereka bisa memperoleh hidup yang lebih layak.

Hingga tahun kelima pelayanan kami, sudah seratusan lebih anak yang menjadi anak asuh kami. Mereka bisa bersekolah dan mendapat tempat tinggal yang lebih layak. Dana terus Tuhan berkati, selalu mengalir. Cuma pekerja masih kurang. Semoga banyak yang tergerak untuk melayani bersama kami.

***

Rencana Tuhan memang indah. Selama lima tahun pelayananku, selama itu juga Tuhan mempertemukanku dengan Citra, seorang gadis cantik yang juga melayani bersamaku di pelayanan anak jalanan. Dan akhirnya, Tuhan mengizinkan cinta tumbuh diantara kita.

Waktu pun berlalu. Kami kini sudah menikah dan aku menatap gadis mungil di antara kita. Ya, dia anakku. Aku sudah menjadi Ayah. Luar biasa. Aku memiliki istri yang bisa menerimaku apa-adanya. Ia tak mempedulikan masa laluku. Terima kasih Tuhan.
Tuhan berkati anakku agar ia tak mengalami hal buruk seperti yang pernah kualami. Jadikanku dan ajarkanku menjadi seorang Bapa bagi anakku.

“ Tuhan Yesus sangat luar biasa dalam hidupku. Beginilah masa laluku dan kini aku sudah menjadi manusia baru. Haleluya. Serahkan hidupmu sama Tuhan. Tuhan bisa mengubahkan hidup setiap kita. Amin.“ Demikianlah kata-kata yang sering aku ucapan setiap mengakhiri kesaksian. Aku menceritakan semua kehidupanku yang sudah Tuhan jamah. Semoga nama Tuhan semakin ditinggikan.

***

Aku, Hasan. Mantan anak jalanan yang kini rindu untuk menyelamatkan anak-anak jalanan. Biarkan aku menghabiskan umurku untuk melayani mereka. Aku ingin memperjuangkan hidup mereka. Aku ingin menjadi seorang pejuang jalanan.


* Cerpen ini diikutsertakan di Writing Competition CIBFest 2009 dan menjadi 10 besar finalis *

Rabu, 17 Juni 2009

Kertas

kalau aku adalah kertas
aku hanya mau Kau yang menulisnya
hanya Kau yang aku ijinkan
melalukan apa saja yang Kau mau
tulis saja Tuhan
gambar apapun yang Kau mau
aku pasrah
aku berserah

warnai kertasku Tuhan
beri warna yang terindah
isi dengan kata-kata termanis
biar orang yang melihat
bisa membaca yang baik tentangku
sehingga dunia tahu
hidupku dalam hidup-Mu
semua tentang-Mu ada dalamku

tapi kertasku bukan kertas putih
sejakku lahir putih itu sudah berhitam
ku ingin Kau perbarui itu
walau mungkin ada bekas noda
tapi ku yakin Kau yang bisa membuat itu tetap indah

jaga aku Tuhan
pelihara aku dari hujan badai
jangan sampai aku basah
kertasku menyusut
tulisan dan gambaran-Mu menjadi kabur
itu yang kutakutkan

lindungi aku Tuhan
biar Kau yang menyimpanku di tempat teraman
selamatkanku
jangan biarkan dosa yang mengisiku
jangan biarkan tinta hitam semakin menggoresku

aku lemah
tapi Kau kuat
jadi ijinkanku berlindung di rumah-Mu
agar ku aman dalam hangatnya kasih-Mu

aku sebuah kertas yang lemah
mudah terbawa angin
mudah basah
koyak
menyusut

* aku adalah kertas bernoda yang ingin diputihkan, meski akan tetap meninggalkan bekas. *

( Puisi ini diikutsertakan di Writing Competition CIBFest 2009 )

Selasa, 16 Juni 2009

Saat Kamu...

Saat kamu ditolak, ingatlah waktu Yesus di tolak sehingga Ia lahir di kandang yang hina.
Saat kamu mengalami cobaan, ingatlah saat Yesus di cobai iblis tapi Ia tetap kuat.
Saat kamu merasa mengapa harus berusaha, ingatlah Yesus selalu pergi ke mana saja untuk memberitakan injil.
Saat kamu merasa dikhianati, ingatlah Yesus juga pernah dikhianati murid-muridNya.
Saat kamu merasa sakit dan menderita, lihatlah bagaimana Yesus dicambuk dengan parahnya.
Saat kamu tidak bisa memaafkan orang lain, ingatlah Yesus bisa memaafkan Petrus yg telah menyangkalnya.
Saat kamu merasa cape, bayangkan betapa capenya Yesus memikul salib.
Saat kamu ditinggalkan orang yg kamu sayang, ingatlah Yesus juga pernah ditinggalkan oleh Bapa saat Ia di salib.
Saat kamu menangis dan sedih, Yesus hadir di samping kamu dan nangis bersamamu.

* Semua yang pernah kamu alami, pernah Yesus alami. Jadi, jangan pernah menganggap Yesus tidak mengerti dirimu. God is with you *

Berkorban

Berkorban untuk orang lain memang tidak mudah. Apalagi sampai mengorbankan kepentingan kita. Tapi coba renungkan dan belajar dari Yesus tentang perngorbanan-Nya yang tiada taranya sampai Ia rela mati untuk hal yang tak pernah Ia lakukan hingga kita semua bisa diselamatkan seperti sekarang ini.

Mementingkan diri sendiri itu egois. Ingat, kamu itu juga makhluk sosial. Jangan hidup untuk diri sendiri.

Anak Tangga

Meraih kesuksesan itu seperti menaiki anak tangga satu per satu. Naik itu sulit dan melelahkan. Terkadang jatuh dan terpaksa turun lagi. Tapi orang sukses adalah orang yang bisa melewati proses itu.

Semakin tinggi kamu naik, semakin tinggi level dan proses yang harus kamu lewati. Jangan takut jatuh karena jatuh bisa membuat kamu lebih berhati-hati saat kamu mau mencoba naik lagi.

Jatuh itu sakit. Turun lebih mudah daripada naik. Tapi orang yang mau sukses adalah orang yang tidak takut jatuh dan mau terus mencoba naik. Proses tidak mudah. Tapi di dalam Tuhan semua bisa dilalui dengan sukacita. Andalkan selalu Dia dalam setiap langkahmu.

Anak tangga terakhir menantimu.

Kamis, 11 Juni 2009

Om Jiran

Om Jiran, kita bertetangga
Takdir membuat kita tak bisa jauh
Kita dekat, bahkan kadang sok dekat
Tapi ingat jangan tak tahu batas
Milik kami bukan milikmu
Jangan anggap milik bersama

http://www.kemudian.com/node/232963

Pemilu Putih

putih itu suci
atau haram?
tidak jelas

tak ada kartu
diputihkan
bukan golput

yang tiada
yang belum
diadakan

dan yang hitam
ingin putih
padahal jangan

kita yang layak
tak ada kesempatan
dipaksa putih

putih terkadang suci
juga hitam
abu-abu

pemilu putih
bukan golput
bisakah?

http://www.kemudian.com/node/230350

Untitled Love

tell me about me
coz i don't know
who am i?

share for me
coz i only can hear
can't say about

i, am i
formerly
now is someone not myself

forget it
if u want me to be crazy
but, i'm crazious now

too late
final level of love
attacked my mind

too bad
when i confused
its an untitled love

http://www.kemudian.com/node/227272

Tuhan Hantu

Tu
Han
Tu

Tuhan Hantu
Ironi kepicikan roh
Rohani menggebu semu
Berteriak, "Tuhanku benar"
"Kau hantu"

Dasar siluman sialan berpakaian putih
Iblis berbisa madu bunga
Sesat, cacat, bejat
Serasa malaikat

Bagiku, Tuhanmu Hantu
Hantu Tuhanmu
Tuhan berhantu
Hantu bertuhan

Tak ku mengerti

http://www.kemudian.com/node/227028

Hidupku

hidupku bukan untukku
hidupku cuma
untuk ada di hidupmu
karena hidup-Nya
telah hidup di hidupku

http://www.kemudian.com/node/226674

Ku Tak Mencari Tuhan

ku tak mencari Tuhan
tapi setan
ada kenikmatan
tapi persetan

ku mengangkat beban
sepertinya ringan
tapi jatuh tak bisa bangun
aku tak tahan
tak bisa melawan
jangan dibiarkan
apa yang harus kulakukan?

bantu aku melepaskan
dari lingkaran setan
aku cuma korban
dari semua kejadian

ajar ku berjalan
bukan merangkak seperti hewan
ketika mencari tujuan
ku perlu tuntunan
maafkan aku Tuhan

http://www.kemudian.com/node/226572

Jenuh

hari terasa lama
matahari ku ingin malam
tak tahu apa siang
untuk apa ada bulan?

tertawa ku bosan
menangis ku malas
biasa tak biasa
ku jadi menderita

kesal tak bisa marah
salah ya sudahlah
biarlah aku bodoh
seperti tak bermasalah

bingung aku pening
stabil tak ada arah
di mana tujuanku
tak bisa kutemukan

waktu di mana jam
lompati saja detik
hilangkan menit
lupakan masa

aku berjalan lambat
memutari lingkaran
kutemukan perhentian
jenuh pada kejenuhan

http://www.kemudian.com/node/226513

Kangen

kangen
aku merindukannya
di setiap desah nafasku
hingga setiap hirupan membuatku sesak
menyiksa dan menekan paru-paruku
menjepit otakku juga menusuk jantungku

dia
menganiayaku dengan siluet indah dirinya
yang membayangi hingga ke dalam mimpi
bahkan mungkin ketika ku lupa ingatan
dirinya merasuki hinggaku menjerit gila

aku
memanggil namanya diselingi air mata
tak terpuaskan ingin kupuaskan
walau dengan sebuah foto
ku cium hingga bau badannya mengiang
kenangan pun semakin terngiang
lalu menghilang ketika ku sadar
ia di sisiku cuma dalam pikiran
angan ingin menjadi kenyataan

Tuhan
aku kangen
kangen dia

http://www.kemudian.com/node/226482

Gairah

gairah
geloraku membara tak terarah
lautan emosi menghilangkan akal sehat
tak terbendung
terus menerjang tak kenal waktu
hentikan! tak bisa
diam tersiksa
bergerak salah
biar kunikmati dan ku kuasai
ku lakukan saja hingga usai
nurani dipermainkan keadaan
tak apalah, lupakanlah

Menghitung Hari

Tit – tit – tit – tit – ….

Sudah pagi. Saatnya bangun. Waktunya untuk pergi ke sekolah. Jam wekerku selalu setia membangunkanku.

Aku sudah selesai mandi sekarang. Seragamku juga sudah rapi di badanku. Tinggal rambutku yang belum ku tata hingga seperti bulu landak dengan minyak rambut andalanku. Tiba-tiba HP-ku bergetar. Ada SMS.

Co, ke gereja nggak?
Sender : Nanang 08521335****
Sent : 06-Apr-08 06:10:14

Ke gereja? Hari apa ini? Oh, iya. Ini hari Minggu, Coco. Dasar pikun. Saking semangatnya sekolah, jadi begini nih. Aku jadi salah ingat. Aku pikir ini hari Senin.

Ok!
Sender : Coco 08524548****
Sent : 06-Apr-08 06:12:59

Nanti aku jemput jam 08.30, ya?
Sender : Nanang 08521335****
Sent : 06-Apr-08 06:14:01

Ok! See u. GBU.
Sender : Coco 08524548****
Sent : 06-Apr-08 06:14:14

Untung saja Nanang mengingatkanku. Aku harus cepat ganti pakaian. Jangan sampai ada yang tahu.

Sekarang semuanya sudah beres. Dan aku mulai mendekati cermin. Sekarang bisa ku lihat wajahku. Hanya ada beberapa jerawat kecil yang mengganggu ketampananku. Dan mataku sedikit merah. Aku ingat sekarang. Semalam aku menangis.

Tinggal sekitar tiga minggu lagi aku berkumpul bersama teman-temanku di sekolah. Di luar sekolah kami juga tak bisa lagi berkumpul bersama. Tiada waktu senggang. Semua waktu hanya dihabiskan untuk belajar dan belajar. Sungguh melelahkan. Ya, tiada jalan lain untuk lulus ujian selain belajar. Dan jangan terlalu banyak berharap pada keberuntungan yang tidak pasti. Belajar dan berdoa adalah jawaban kelulusan.

Dan entah mengapa aku menjadi sangat sedih dan cengeng. Begitu melankolis. Perasaan ini terlalu aku bawa. Saat ini adalah masa-masa penuh emosional. Jiwa dan raga terkuras. Di satu sisi, aku berharap kiranya semua ini cepat berlalu. Namun di sisi yang lain, aku tak sanggup jika secepat itu aku berpisah dengan mereka. Semua ini sungguh menyiksa.

Masa SMA adalah masa yang paling indah. Ironisnya, aku baru menyadarinya di saat-saat terakhir aku mengenakan seragam putih abu-abu ini. Kebersamaan ini semakin erat terasa di saat semuanya akan berakhir. Menyedihkan.

Aku pun membaca kembali puisi “ Menghitung Hari “ yang semalam aku tulis dengan penuh emosi dari dalam hati. Puisi tentang perasaanku saat ini. Tentang aku dan mereka, teman-temanku.

Menghitung hari
hanya akan menambah penderitaan
tanpa sanggup mengurangi ketakutan
yang semakin hari semakin bertambah
Berkali-kali aku mencoba
berjalan tanpa meratap
tapi detik semakin menjepit
perpisahan tinggal selangkah
dan aku semakin terpuruk
ketika membayangkannya
mataku di belakang matamu,
tangan kita tak saling berjabat,
arah kita saling berlawanan,
dan aku hanya sanggup
menjumlahkan setiap kenangan

Menghitung hari
hingga tiba waktunya
kita saling melambaikan tangan
air mata pun mengalir
perasaan yang tidak menentu
Selamat tinggal, sahabat
sampai jumpa di kemudian hari
semoga kelak kan berjumpa lagi
bersama membuka lembaran kenangan tak terhitung
dan berbagi cerita baru
“Kiranya Tuhan memberkati”

Lalu aku ambil HP-ku di saku celanaku. Ku lihat wallpaper di HP-ku, fotoku dan semua teman sekelasku. Ku buka gallery fotoku. Satu persatu foto masa SMA ku menghidupi kenangan.

Dan aku teringat dia. Dia yang selalu membuat nurani ini gelisah. Dia adik kelasku. Dia yang membuat aku bisa merasakan perasaan yang semua orang pernah merasakannya. Perasaan untuk pertama kalinya aku rasakan. Cinta pertama. Dan cinta itu akan menjadi cinta yang tak akan pernah terungkapkan.

Aku melihat dia. Dia dan aku di kantin sekolah. Aku mengingatnya kembali dalam foto yang pernah aku abadikan di kantin sekolah waktu itu.

Dia. Tak lama lagi aku tak bisa melihat dia di sekolah, bertemu dia di perpustakaan, dan mengajak dia ke kantin sekolah. Aku rindu dia. Sungguh indah dan menyiksa memikirkan dia. Akankah dia memikirkanku juga?

Ku lihat kalender. Ku lingkari tanggal 22, 23, 24 April itu. Hari Ujian Nasional. Aku akan berdoa nanti di gereja. Semoga aku dan teman-temanku bisa lulus. Itu harapanku.. Semoga lulus. Amin!

* * *

22 April.
Ujian hari pertama. Bahasa Indonesia dan matematika. Tidak terlalu sulit.

* * *

23 April.
Ujian hari kedua. Bahasa Inggris dan kimia. Lumayan sulit.

* * *

24 April.
Ujian hari ketiga. Fisika dan biologi. Sangat sulit.

* * *

Pesta perpisahan sekolah. Aku telah menghitung hari dan kini tiba waktunya aku mengucapkan kata perpisahan. Aku tak sanggup. Tapi sudah waktunya. Aku tahu perpisahan bukanlah luka walau luka yang ditinggalkan akan terus membekas.

Suasana pesta perpisahan sekolah cukup meriah. Aku tampil di depan para dewan guru dan ratusan teman-teman dan adik-adik kelasku. Mereka meneriakkan namaku. Dan aku mulai menyanyikan lagu. Lagu perpisahan.

* * *

Tidak terasa tiga tahun sudah aku mengenakan seragam putih abu-abu ini. Dan aku kini harus melepaskannya dan mencoret-coretnya dengan bubuhan tanda tangan dari semua temanku. Akhirnya aku merasakan kelulusan yang aku harapkan. Terima kasih Tuhan. Semua temanku juga lulus. Semua ini terasa mimpi. Walaupun dilarang, kami berarak-arakan keliling kota dengan menggunakan motor. Sedikit keterlaluan menurutku. Tapi ini sangat seru. Kapan lagi seperti ini, bukan?

Aku sungguh tidak percaya jika kami semua bisa lulus. Ujian fisika yang kemarin paling aku takuti tapi ternyata aku bisa mendapat nilai 6. Sedikit pas-pasan. Tapi, tak apalah.

Semoga kelulusan ini bukan karena kecurangan pihak sekolah yang membulatkan kembali lembar kerja soal yang salah kami bulatkan sebelum di kirim ke Dinas Pendidikan di pusat. Ya, kalau gosip ini benar, aku tak bisa ngomong apa-apa. Harap maklum saja.

Dan lihat saja kesalahan-kesalahan pemerintah dalam sistem ujian di Indonesia. Pertama, menambah jumlah mata pelajaran yang di ujiankan menjadi enam. Padahal tiga mata pelajaran saja masih tidak beres mengurusnya. Kedua, menaikkan standar kelulusan dengan semaunya. Padahal tingkat pendidikan di setiap wilayah di Indonesia masih belum merata dan memprihatinkan. Ketiga, pemerintah tidak mau mendengar keluhan masyarakat akan sistem pendidikan di Indonesia. Mereka hanya berdiskusi dan memutuskan sendiri bagaimana jalan yang terbaik. Dan keputusan itu salah total.

Itu semua hanya menurutku saja. Hanya Tuhan yang tahu.

* * *

Saatnya untuk pergi menggapai cita-cita. Mencari yang terbaik. Sebentar lagi pesawat akan mengantarku ke negeri seberang yang akan menjadi tempat aku menimba ilmu sesuai cita-citaku dari dulu menjadi seorang sutradara hebat. Aku ke sana karena aku sadar jika di sini aku tak akan bisa mempelajari apa yang seharusnya aku pelajari dengan maksimal. Dan ketika aku kembali nanti, aku bisa memberikannya kepada negeriku apa yang telah aku dapatkan di sana.

Kini ku coba menahan perasaan rinduku yang semakin menggebu-gebu. Aku teringat teman-temanku. Teringat Nanang sahabat terbaikku. Dan dia, cinta pertamaku. Dia adalah Lilis Suryani. Dia akan menyinariku selalu di sana bagai sang Surya ia memberiku semangat.

Aku teringat apa yang tadi dia ucapkan padaku, ” Co, aku pasti akan selalu merindukanmu.” Air matanya menetes deras.

“ Aku cinta kamu, Co.” Aku tak pernah menyangka kata-kata ini akan keluar dari bibir dia. Ini seperti mimpi. Aku melihat kejujuran dari mata dia.

“ Aku juga cinta kamu.” Hatiku bergetar. Mataku mulai berkaca-kaca.

“ Kita pasti akan ketemu lagi. Jangan menangis lagi, ya.” Aku mencoba menenangkannya.

“ Jaga dirimu baik-baik, Co.”

“ Sampai jumpa, Lis. Aku pasti akan selalu merindukanmu di sana.”

Perpisahan itu akhirnya tiba. Aku. Dia. Berpisah kini. Tapi, aku tahu hati kami akan selalu menyatu. Jarak bukan sesuatu hal yang dapat membunuh perasaan ini.

http://www.kemudian.com/node/226037

Tentang Aku

Aku
Terlahir sebagai seorang lelaki
Aku membuat keluargaku panik
Dalam sebuah penantian kebahagiaan
Ibuku berjuang hidup atau mati
Ayahku berdoa menanti penerus keluarga
Yang akan lahir ke dalam derita dunia
Namun, cinta akan selalu bersemi di tengah derita itu

Aku siap, aku menangis tanda ketidaktahuanku
Mengisyaratkan aku adalah bayi mungil yang perlu perlindungan

Waktu pun terus bergulir
Melewati setiap cerita penuh makna yang harus dilewati
Dilewati dengan tangis kesedihan atau tawa kebahagiaan
Dimaknai dengan luas atau sempit
Dirasakan dengan hati atau pikiran belaka
Dijiwai dengan cinta atau benci
Diselesaikan dengan kesadaran atau emosi sesaat

Aku ada karena-Nya
Aku tumbuh karena kasih
Aku bahagia karena cinta
Aku kuat karena pengalaman
Aku bertahan karena keyakinan
dan
Aku sakit karena luka
Aku sedih karena kehilangan
Aku menangis karena kelemahan
Aku kecewa karena kemunafikan
Aku marah karena kebencian

Tentangku bukan tentangmu
Hidupku bukan hidupmu
Nafasku bukan nafasmu
Namun, cintaku adalah cintamu
Karena aku hidup untuk cinta
Bukan dari cinta

Tentangku akan selalu hidup
Walau waktu telah berakhir
Ketika tiba saatku
Tentangku selalu ada di hati
Di hati setiap cinta yang bersemi
Selamanya

http://www.kemudian.com/node/225940

Gadis Manis

Pagi ini sinar matahari terasa sangat mengusik. Aku bagai tak mengharapkan kehadirannya. Sinarnya masuk ke celah-celah jendela kamarku, membuatku terpaksa terbangun karena silaunya.

“Sial,” ucapku.

Semalam aku tak bisa tidur. Baru saja terlelap tidur, matahari sudah muncul mengganggu istirahatku yang belum maksimal ini. Semalaman aku terus diganggu oleh nyamuk-nyamuk sialan itu. Memang salahku juga. Aku yang seakan ingin memelihara keberadaan mereka di rumahku. Rumahku berantakan. Jorok. Sampah, hampir ada di setiap sudut rumahku.

Bukan hanya itu saja. Semalam, sangat panas. Udaranya kering. Kipas angin tampaknya sama sekali tidak berkutik, dikalahkan panasnya suhu di sekelilingku. Aku gerah. Ingin sepertinya aku melepas seluruh pakaianku. Tapi, sepertinya nyamuk-nyamuk yang akan bersukacita karena permukaan kulitku semakin luas untuk mereka hinggapi.

Jadi, aku mencoba keluar dari rumah untuk berkeliling ke sekitar daerah tempat tinggalku. Pikirku, di luar akan lebih baik.

Ternyata aku salah. Memang sedikit lebih baik. Di luar lebih sejuk udaranya. Tapi, hatiku kini yang panas dan aku menjadi lebih gerah. Aku baru saja melihat salah satu hal yang menyedihkan.

Sepertinya aku harus pindah rumah? Pindah rumah lagi? Aku baru saja pindah ke daerah ini seminggu yang lalu. Jadi, aku belum tahu secara jelas bagaimana lingkungan tempat tinggalku ini. Kami sekeluarga pindah ke daerah ini karena rumah kontrakkan yang dulu tidak mau diperpanjang kontraknya oleh pemiliknya.

Bagaimana mungkin aku tidak gerah dengan apa yang ku lihat sekarang. Aku baru sadar kalau di daerah tempat tinggalku bagaikan sarang neraka. Banyak wanita yang berpakaian minim dan berwajah menor, berdiri di tempat remang-remang guna menjajakan dirinya. Sungguh laris. Para lelaki “bodoh” sungguh banyak berlalu lalang merayu pesanan mereka. Jumlahnya melebihi dari apa yang dijajakan. Peluang “bisnis” yang cukup besar untuk dikembangkan. Sehingga, jangan heran jika semakin banyak bermunculan para generasi penerus penghuni malam itu.

Dari semua itu, hanya sedikit yang bisa aku maklumi. Aku sadar, betapa sedikitnya peluang pekerjaan yang bisa mereka dapatkan dengan hanya bermodal pendidikan yang rendah. Dan hanya sebagian kecil, orang yang peduli untuk melepaskan mereka dari lingkaran neraka itu. Pemerintah seakan masa bodoh dan mungkin pasrah menghadapi ulah mereka.

Sungguh menyedihkan. Apa mereka tidak tahu akan bahaya dari tindakan mereka? Apa mereka tidak tahu, jika virus HIV sangat mudah merajalela gara-gara tindakan mereka? Sungguh kasihan jika mereka ada yang tidak tahu. Dan sungguh menyedihkan jika mereka pura-pura tidak tahu dan tidak takut akan betapa bahayanya ancaman virus tersebut. Virus yang sangat menakutkan dunia, tapi jarang ditakuti.

“Hi..ada korek nggak? Pinjem donk?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di depanku.

Aku keasyikan melamuni nasib mereka. Sampai aku hampir lupa, aku telah berada di antara mereka.

“Hei…napa lihatin begitu? Ada nggak koreknya? Cape deh?” bentak orang itu.

“Maaf nggak a..da Mas?”

Aku langsung kabur meninggalkannya. Mengerikan. Aku baru saja berhadapan dengan setengah wanita, setengah pria. Mulutnya komat-kamit, marah. Mungkin gara-gara aku memanggil dia “ Mas ”. Aku kemudian cepat kembali ke rumah, sebelum aku di goda dan tergoda oleh keadaan.

Sepanjang perjalanan pulang, aku melihat seorang gadis yang sungguh manis. Tapi sayang, ia bukan gadis baik-baik. Kenapa ia begitu? Padahal, masa depannya masih panjang. Ia seumuran denganku, mungkin sekitar 17 tahun.

Aku bingung. Ada rasa simpati yang dalam. Sampai-sampai semalaman aku melamunin gadis itu. Begitu berlebihankah aku?

* * *

Kembali ke hari ini. Aku tidak tahu mengapa hari ini begitu panasnya. Hampir setiap hari seperti ini. Memakai jaket salah, tidak juga salah. Memakai jaket, panas, tidak memakai jaket, kulitku sudah hitam tambah hitam pula oleh sinar matahari yang semakin menjadi-jadi panasnya.. Membingungkan.

Di pikir-pikir lagi, mungkin ini akibat pemanasan global. Ancaman dunia, yang belakangan ini sering terdengar di kampanyekan. Sekarang saja panasnya bukan main, gimana sepuluh tahun lagi? Aku tak bisa membayangkannya.

Menjelang siang, eh awan kini menampakkan kemendungannya. Ini cuaca, sepertinya ingin bermain-main. Tadi panasnya minta ampun. Sekarang, mau hujan.

Tak lama kemudian, hujan pun turun.

“ Sial! Mana bisa aku keluar sekarang,” ucapku kesal.

Sudah beberapa hari ini, aku menyaksikan permainan cuaca seperti ini. Kami semua di kotaku kesal akan hal ini. Tapi, di pikir-pikir lagi, mungkin giliran cuaca yang ingin mempermainkan umat manusia yang sudah sering mengacaukan keseimbangan iklim dunia.

Lihat saja kotaku. Baru saja memasuki musim kemarau. He..sudah banyak yang mulai membakar hutan. Ladang berpindah, maksudnya. Membingungkan dan menyedihkan.

Dan sekarang bukankah seharusnya aku berbuat sedikit untuk mengurangi dampak pemanasan global. Caranya: mulai sekarang aku ingin membersihkan gudangku (rumahku). Mungkin.

Ehm, bersih kan sehat. Pikirku, kenapa tidak? Lihat saja, baru seminggu saja, kamarku sudah berantakan, gimana selanjutnya. Aku pun mulai membersihkan kamarku sendiri. Mulai hari ini, aku akan menjadi anak yang "bersih".

Tiga hari kemudian, kamarku juga seluruh bagian rumahku sepertinya sudah layak huni. Ehm, tidak seperti gudang lagi. Tapi, tetap saja. Malam ini sangat panas. Aku ingin keluar mencari udara segar dan sambil mencari gadis manis yang hingga kini, aku sangat penasaran dengannya. Siapa namamu gadis manis?

Aku sempat membenci tempat ini, tapi di sini aku pertama kali melihatnya. Aku masih penasaran padanya. Lagi pula, di sinilah kontrakkan yang paling murah yang orang tuaku dapatkan.

Tapi, aku kini tidak menemukannya lagi. Di manakah ia berada? Entah mengapa, setiap malam aku ingin melihatnya. Walau dari jauh, karena aku tidak berani mendekatinya.

Hanya satu yang aku ingat darinya. Ia tersenyum saat memandangku. Sinar matanya membuatku penasaran. Seperti ada yang ingin ia sampaikan padaku. Tapi apa? Oh, gadis manis aku ingin melihatmu lagi. Sekali saja.

“Ehm, gadis manis, sepertinya aku jatuh cinta padamu. Semoga kau baik-baik saja.” kataku dalam hati.

Hah.., ngelantur saja aku ini. Mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis itu. Ia bukan gadis baik-baik. Aku hanya penasaran padanya.

* * *

Seminggu kemudian. Tiba-tiba aku bertemu gadis manis itu lagi, di mini market dekat rumahku. Aku merasa bodoh. Aku tak berani pura-pura memanggilnya. Ya, mana mungkin aku berani. Dan aku tak berhasil membuntuti tempat tinggalnya. Itulah pertemuan terakhirku dengannya.

Karena keesokan harinya, aku tak sengaja menonton berita tentang razia terhadap perempuan malam di kotaku. Aku terkejut. Ternyata dugaanku benar, gadis manis itu termasuk salah satu yang terjaring razia itu.

Untuk beberapa minggu, aku masih memikirkan nasibnya di sana. Aku bingung, aku benci akan perasaan ini. Tapi, aku yakin ia akan lebih baik di sana. Hari demi hari aku lewati kini dengan terbebas dari pikiranku pada gadis manis itu.

***

Setahun sudah aku tak memikirkannya lagi. Setahun sudah aku tak melihatnya lagi. Tapi, entah apa namanya ini. Takdirkah ini? Aku bertemu dengannya lagi. Tapi, mengapa harus dengan cara begini? Begitu tragiskah hidupnya? Begitu kelamkah hari-harinya? Aku bertemu dengannya ketika ia berniat untuk mengakhiri hidupnya.

“ Maaf, bunuh diri itu nggak baik,” Aku berusaha mendekatinya, lalu menasihatinya. Saat itu, aku tak menyangka akan bertemu dengannya dan dengan cara seperti ini.
.
“ Siapa kamu? Tolong, jangan ikut campur,” ucapnya dingin, dengan muka yang pucat dan tak bergairah.

“ Aku memang tak mengenalmu. Tapi, aku tahu, bunuh diri bukanlah jalan untuk mengakhiri hidup.” bujukku.

Gadis itu terdiam. Tiba-tiba ia menangis, memecah keheningan subuh di sekitar jembatan kecil ini. Gemericik aliran air sungai, seolah memberikan sedikit ketenangan. Namun, angin sepoi-sepoi berhembus mengenaiku. Buluku merinding. Jujur, aku tak suka suasana subuh. Tapi, seolah takdir yang memaksaku untuk bangun saat itu.

“ Mengapa kamu menangis..?” tak sempat aku melajutkan perkataanku.

“ Diam…!” Ia menghentikan perkataanku. Ia berteriak sambil menangis. Tiba-tiba ia pingsan. Untung saja aku cepat menahan tubuhnya sehingga kepalanya tak sampai terbentur.

* * *

“ Di mana aku? “ Tanya gadis manis itu, sesaat setelah ia sadar.

“ Kamu di rumahku. Tadi kamu pingsan,” ucapku lembut.

“ Mengapa kamu baik sama aku? Aku tak mengenalmu,” katanya penuh curiga.

“ A..ku hanya ingin menolongmu,” Aku lalu mendekatinya.

“ Jangan…!” Teriak gadis manis itu, kemudian menangis.

Aku tak tahu harus berbuat apa, kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah.

“ Aku kotor.. tubuhku penuh virus menjijikkan. Tolong pergi, jangan dekati aku..” Ia kemudian mulai tertawa sambil menangis. Jiwanya semakin terganggu.

Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Ia mulai mengamuk, membanting vas bunga yang ia ambil di atas meja samping tempat tidurku. Hampir saja mengenaiku. Sungguh aku ketakutan saat itu. Namun, aku ingin menolongnya.

Aku kemudian keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk minum dan menenangkan diri. Baru tiga menit aku meninggalkannya sendiri di kamarku, aku terkejut melihat apa yang ada di hadapanku. Aku tak bisa apa-apa. Aku panik dan gemetar. Gadis manis itu, telah mengakhiri hidupnya. Ia mengambil pecahan vas bunga untuk melukai pergelangan tangannya.

Wajahnya pucat. Wajahnya penuh duka. Sungguh malang nasibnya. Andai saja aku tidak ke dapur tadi. Andai saja aku tak meninggalkannya sendiri. Ia pasti masih hidup. Aku pasti bisa menolongnya. Aku pasti bisa menggagalkan rencananya. Aku tak mengerti perasaanku. Aku tak tahu siapa dia. Tapi mengapa aku menangisinya?

Hari ini, entah mengapa, hujan deras mengguyur kotaku. Padahal, sudah sebulan kotaku mengalami kemarau panjang dan sama sekali belum pernah hujan mengguyur kotaku sepanjang kemarau ini.

Aku menangis. Tapi air mataku dikelabui oleh derasnya air hujan yang menderaku. Di atas makamnya, aku menangis entah karena apa.

“ Selamat jalan, gadis manis.” ucapku dalam hati.

http://www.kemudian.com/node/225938

Bodoh

perih teriris silet bergaris sedih
sakit tertikam berbekas marah
tercabik, teraniaya, lemah
resah, teriak mendesah
lelah, lunglai, melukai tubuh
hati tertusuk panah
cinta, kini pedih
gelisah tak terarah
semua menjadi darah
basah berbau tanah
nyawa pun kini dibunuh
dasar orang bodoh

http://www.kemudian.com/node/225616

Cinta Gelisah

seluruh rasa dalam gelora
membara bagai api tak bergairah
ku ingin marah melampiaskan
tapi kepada siapa?

cinta gelisahku
mengaduk perasaanku
membuatku tertunduk lesu
mataku bersinar sayu
hatiku menguncup sendu
mendengar rintihan lagu

http://www.kemudian.com/node/225615

Wanita Jalang

pikiran melayang
berkelakuan menantang
berhutang
melepas kutang
terlentang
siap menerjang
hingga kejang-kejang
menyambut petang
bersama hidung belang

seperti binatang
dia dibuang
disebut wanita jalang
nasibnya malang

http://www.kemudian.com/node/225562

Manusia

!
...
bukan hewan
...
!

http://www.kemudian.com/node/225547

Proses

hidup adalah memilih untuk bahagia
bahagia berarti bisa melewati kesedihan
hidup tidak akan selalu bahagia
walaupun kamu orang beriman
yang selalu berdoa bahkan berpuasa
tapi ada "proses"
yang membuat jatuh bangun
butuh kesabaran

masalah adalah "proses" itu
cobaan adalah tantangan
bukan rintangan tanpa jalan keluar
"proses" memang bikin stres
selalu diprotes
takut untuk di tes
maunya langsung lolos
jadi kapan bisa lulus?

"proses" akan mengantar pada kedewasaan hidup
jadi mulailah mencoblos "proses"
agar semuanya beres
Tuhan pasti menyertai
asal kamu tidak berkeras

http://www.kemudian.com/node/225494

Monyet

monyet sangar berlaku cemar
ingin kucabut hingga ke akar
biar kau hancur terkapar
kutembak mati lalu kubakar

http://www.kemudian.com/node/225049

Hehe

namanya Hehe
tertawa he-he
hobi karaoke
menyanyi asereje
bergaya Beyonce
padahal penjual kue
pembeli tempe
dulunya kere
sekarang matre

http://www.kemudian.com/node/225046

Seperti Bayangan

seperti bayangan yang tak dapat ku sentuh
tak berubah saat matahari terbit
mungkin di pukul dua belas
ia ada tapi semakin sulit
dan kembali sama sampai matahari terbenam
ini kemalangan lebih dari kutukan

aku menatap gelisah jarum jam
ia ada tapi semakin semu
karena cahaya bintang ataupun lampu
apalagi cahaya pantulan rembulan

nanar
tak ada pilihan
jangan sampai gelap
walau terang cuma bayangan
aku masih bisa melihatnya
tetap indah tak berwujud

hitam
nasibku sehitam bayangannya
mungkinkah aku menyentuh yang tak tersentuh?

http://www.kemudian.com/node/224961

Tak Bergeming

digigit, tidak sakit
terluka, tak berdarah
aku mati rasa
tapi ada nyawa
tak berdaya
tak bersuara
diam
seakan bisu
kaku
kosong terpaku
layaknya bodoh
tapi penuh amarah
yang menyerah
bukan berarti kalah
cuma lelah
tak bergeming

http://www.kemudian.com/node/224960

Lapar

Kerongcongan
Serasa bersahut-sahutan
Memanggil sepotong makanan
Terdengar sebuah jawaban
Namun menjadi pergumulan
"Lebih baik makan."
"Jangan!"
"Apa yang harus ku lakukan?"

Di depan sebuah restoran
Seorang pengemis jalanan
Memandang lirih dan nafsu
Sebungkus nasi tak berisi
Akhirnya, tanpa malu dan malu-malu
Mengais sampah asal tak mencuri
Terhina lebih baik daripada mati

Lapar hampir terkapar

http://www.kemudian.com/node/223753

Mimpi

Ketika mata terpejam
Sejenak melepas lelah
Angan tetap melayang
Menembus imajinasi terpendam

Sesaat sebelum tersadar
Aku tertarik ke dunia lain
Alam bawah sadarku beraksi
Seakan ini adalah kenyataan
Dalam mimpi ilusi belaka

http://www.kemudian.com/node/223465

Puisi

Imajinasi
Isi hati
Liar
Tanpa batas
Rangkaian kata-kata
Bukan basa-basi
Cerita
Hitam atau putih
Kiasan penuh makna
Menyentuh
Indah
Di setiap bait puisi

http://www.kemudian.com/node/223418

Sepi

Dalam sunyi tiada keramaian
Dalam gelap tiada rembulan
Semua terasa sepi
Hening, hampa
Nurani menikmati
Namun logika tersiksa
Sepi, aku menyendiri
Beku, aku kedinginan
Jiwaku hampir mati
Pikiran berkeliaran
Aku hampir gila
Namun tak sampai bunuh diri
Aku merintih seakan mimpi
Aku menangis seakan terluka
Sepi, aku butuh dia
Sepi, aku seakan sendiri
Sepi, aku tak berdaya
Sepi, aku menyepi
Sepi, aku kesepian

http://www.kemudian.com/node/223206

Jumat, 09 Januari 2009

Tahun Baru

tahun baru
harapan baru
semangat baru
cerita baru
aku yang baru
bukan baju baru
bukan kembang api baru
bukan sesuatu yang hanya lalu
tapi ingin menjadi nomor satu
mendapatkan apa yang ku mau
dengan memanfaatkan waktu
tidak dengan buru-buru

http://www.kemudian.com/node/224730

Di Malam Tahun Baru

Sedikit kilas balik. Malam tahun baru kemarin aku dkk ngadain Barbequan di kontrakan teman. Aku jadi PIC acaranya. Pusing dah... Mendadak pula. Siangnya aku ma temanku Riki naik motor ke Carrefour. belanja deh.. padahal aku paling ga ngerti belanja n males. belanja deh saos, kecap, sosis, kentang, coca cola, sprite dll. mau beli panggangan tapi mahal. bingung dah. takut budgetnya gede, ga jadi beli jagung.

temen lalu nelp. ada tambahan yang ikutan barbequan. dari 8 orang jadi belasan dan akhirnya ada 15 orang. karena ga ada alat panggangan, ada ide buat di goreng aja..wkwkwk.. ini namanya bukan barbequan kali... hehe... ngakak mode on.

akhirnya..ternyata ada teman yg punya.tp alatnya sederhana sekali. kawat usang yg aneh sekali. akhirnya dengan terpaksa di pake deh. arangnya pake yg taon lalu punya. serba sederhana. minyak tanah buat idupin arang juga ga ada. jadi kita make koran dan daun kering buat ngidupin api. kayak bakar sampah aja, haha... akhirnya temen ada ide pake minyak goreng. hasilnya, arang idup tp banyak asap... huk...huk...

oh ya...sekitar jam 8annya, insiden sial menutup tahun terjadi. aku nabrak pagar orang. wah..ga tau napa bisa gitu. untung banyak teman yg bantu aku ngomong sama orangnya. selesai dengan damai walau harus mengganti biaya perbetulan 125000. what a pity... T_T Kaki kanan jadi sakit.tapi untung motor gapapa.

ehm...kita nambahin ayam pada barbequan kita. dua temen saya yg saya usulin beli karena aku ga bisa beli soalnya lagi dalam masalah nabrak pager...duh...

lanjut...biar berasa profesional, aku ga mikirin tu pager. malam tahun baru pun dilewati dengan ceria dan penuh tanggung jawab..ce ile.,banyak juga kembang api malam itu. acaranya selesai jam 3an subuh. lanjut deh ke heroy nemenin temen makan mie n aku cm minum kopi...

ampe di kostan, aku jam 6 gitu baru tidur. Aku mengakhiri 2008 dan mengawali tahun dengan hal2 yg tak terduga. mengesankan bisa dipercayai jadi PIC dan menyedihkan karena nabrak pagar.

tHX GOD for ur blessed in all my day. give me new spirit to spend my life.