Selasa, 30 Juni 2009

Aku Ada di Surga

Namaku Dio. Umurku 7 tahun sekarang. Hari ini aku ulang tahun. Aku senang sekali. Aku mendapat kado sebuah kotak musik yang cantik. Sudah lama aku menginginkannya.

Tadi, aku berdoa supaya Tuhan memberiku umur yang panjang, juga orang tuaku. Aku berharap semoga aku bisa tambah gemuk seperti teman-temanku di sekolah. Aku tak mau mengingat berapa berat badanku. Aku sangat kurus dibanding anak seumurku. Kata Ibu, aku tidak akan bisa gemuk. Tapi, aku tak tahu kenapa.

Sebulan sekali aku pergi ke rumah sakit. Sungguh melelahkan. Kata Ibu, darahku harus di cuci setiap bulan. Biar aku sehat dan gemuk. Tapi, nyatanya aku tidak gemuk juga. Aku juga cepat lelah kalau habis bermain. Makanya Ayah tidak pernah mengizinkanku untuk bermain lama-lama di luar.

Sudah hampir seminggu aku dan orang tuaku pindah ke sini. Aku punya rumah baru sekarang. Tapi, rumahku jadi lebih sempit dan kecil sekali. Rumahku yang dulu berlantai dua. Sekarang hanya berlantai satu. Tak ada lagi kolam ikan di belakang rumah. Tak ada lagi halaman untuk menanam bunga. Aku bosan tinggal di sini.

Tapi, di sini aku punya teman akrab. Tak seperti di rumah lamaku dulu. Temanku namanya Nia. Dia sebaya denganku. Dia gadis yang manis. Dia sering mengajakku bermain ke taman dekat rumah. Kami bermain kejar-kejaran. Aku sering lupa waktu kalau sudah bersama dia. Aku pernah di marah Ayah karena pulang terlalu sore. Sejak saat itu aku tidak boleh bermain ke taman lagi. Tapi, aku suka diam-diam pergi ke sana ketika Ayah lagi pergi kerja dan ibu sedang memasak atau ketiduran di ruang tamu.

Aku bosan kalau di rumah terus.

* * *

Sekarang aku sedang sedih. Aku tak bisa bermain lagi. Aku sedang sakit. Aku cuma bisa terbaring di kamar. Aku kesepian. Tak ada yang bisa aku ajak bicara. Kasihan Ayah dan Ibu. Aku tak mau mengganggu mereka.

Di mana Nia, ya? Semoga dia datang menjengukku. Tapi, apa dia tahu kalau aku sedang sakit?

* * *

Oh, aku ketiduran lagi. Sudah malam. Eh, kotak musikku kok hidup sendiri, ya? Ehm, mungkin Ibu yang menghidupkannya agar aku tidak kesepian. Sepertinya Ibu lagi masak. Aku bisa mencium aroma sop ayam khas Ibu.

Tok-tok-tok….

“ Masuk.” Mungkin Ibu yang datang.

“ Nia?” Aku sangat terkejut melihat siapa yang datang. Ternyata Nia. Senangnya.

“ Dio. Ini aku Nia. Kamu lagi sakit, ya?” Nia masuk dan berjalan menghampiriku.

“ Cuma sedikit demam saja.”

“ Kamu kok tahu aku sakit?”

“ Eh, Dio. Nih, aku ada permen buat kamu. Cobain deh.”

“ Ma kasih.” Aku mengambilnya.

“ Enak nggak?”

“ Manis.”

* * *

“ Dio. Bangun, Nak. Makan dulu. Nih, Ibu bawakan sop ayam kesukaanmu.”

“ Bu, Nia mana?” Aku pun bangun dan langsung teringat Nia.

“ Nia lagi, Nia lagi. Nia yang mana Dio? Nia nggak ada di sini.”

“ Tadi Nia ke sini, Bu. Nia kasi aku permen tadi.”

“ Kamu mimpi kali Dio.”

“ Nggak, Bu.”

“ Ya sudah. Nih, makan dulu.”

“ Iya, Bu.”

“ Badan kamu nggak panas lagi, Dio.” Ibu menyentuh dahiku.

“ Aku sudah agak mendingan sejak Nia datang tadi.”

“ Nggak ada orang yang datang dari tadi, Dio.” Ibu tampak mulai kesal. Jadi lebih baik aku diam saja dan makan sop ayam itu.

* * *

Mataku sudah terpejam tadi. Aku sangat mengantuk. Tapi, tiba-tiba ada suara halus yang berbisik dekat telingaku sehingga membuatku terbangun. “ Dio…Dio……..”

“ Nia?”

“ Ayo kita main Dio.”

“ Tapi, ini kan sudah larut malam.”

“ Coba kamu lihat.” Nia membawaku ke jendela kamarku untuk melihat apa yang ada di luar rumahku.

“ Siapa mereka?”

“ Mereka teman-temanku.”

“ Banyak sekali.”

“ Aku sudah mengajak mereka untuk menjemputmu.”

“ Tapi… .?”

“ Ayolah Dio. Temani kami main.”

“ Baiklah.”

* * *

Aku tak ingat lagi apa yang terjadi. Badanku lemas sekali. Ayah dari tadi terus saja bertanya-tanya kepadaku,” Dio, kamu kenapa bisa ada di halaman rumah?”

“ Dio mungkin ngigau, Yah.” Ibu yang menjawabnya.

Aku sungguh bingung. Rasanya semalam aku tidur di kamar. Tapi, kok ...? Mungkin benar yang Ibu katakan. Ah, aku takut ngigau lagi. Untungnya, Ibu akan menemaniku tidur nanti malam.

* * *

Sejak saat itu, kondisiku semakin hari semakin lemah. Aku sudah tidak pernah lagi ke rumah sakit untuk cuci darah. Mungkin itu penyebabnya. Dokter juga hanya datang sekali saja untuk mengobatiku. Tak ada perubahan apa-apa sejak aku makan obat pahit yang dokter berikan itu.

“ Ayah, bagaimana kalau ini di jual saja? Besok kita harus bawa Dio ke rumah sakit. ” Ibu melepaskan cincin yang selama ini melekat di jari manisnya.

“ Tapi, Bu…..”

“ Ibu nggak mau kalau Dio kenapa-kenapa. Dio anak kita satu-satunya, Yah.” Mata Ibu berkaca-kaca.

“ Tenang, Bu. Dio pasti akan baik-baik saja.” Ayah lalu memeluk Ibu. Air mata Ibu pun mengalir deras. Ayah juga tampak ikut menangis.

Aku tak sengaja mendengar percakapan Ayah dan Ibu ketika aku mencoba keluar kamar. Tiba-tiba, aku tak mampu lagi melangkah. Darah segar terus saja keluar dari hidungku. Badanku kejang-kejang. Sebelum aku terjatuh, aku tak sengaja menjatuhkan gelas di atas meja. Aku mencoba meraih meja itu, tapi aku tak mampu menahan tubuhku lagi. Sekelilingku tampak gelap dan sunyi.

Aku masih bisa merasakan kedatangan Ayah dan Ibu. Mereka mencoba menolongku. Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Seluruh tubuhku lemas dan ringan. Tenang rasanya.

* * *

Aku sedang bersama Nia dan teman-temannya yang berpakaian putih itu. Kami sudah cukup jauh berkelana. Aku tak mengenal tempat ini. Tapi, tempat ini begitu indah. Aku merasa nyaman berada di sini. Semuanya terasa menyenangkan. Tak ada penderitaan. Aku tak bisa menjelaskannya dengan kata-kata.

Ini adalah kenyataan. Bukan lagi mimpi. Sebentar lagi aku akan di bawa mereka untuk bertemu dengan pemilik tempat ini. Sepertinya aku mengenal pemilik tempat ini. Ya, Dia adalah orang yang pernah Ayah dan Ibu ceritakan. Kami ada foto-Nya di rumah. Dia pasti Yesus.

Tapi, Ayah dan Ibu di mana? Mengapa Ayah dan Ibu tidak bersamaku?
Kata mereka tempat ini namanya Surga. Aku ada di Surga.

http://www.kemudian.com/node/233877

Tidak ada komentar: