Kamis, 11 Juni 2009

Gadis Manis

Pagi ini sinar matahari terasa sangat mengusik. Aku bagai tak mengharapkan kehadirannya. Sinarnya masuk ke celah-celah jendela kamarku, membuatku terpaksa terbangun karena silaunya.

“Sial,” ucapku.

Semalam aku tak bisa tidur. Baru saja terlelap tidur, matahari sudah muncul mengganggu istirahatku yang belum maksimal ini. Semalaman aku terus diganggu oleh nyamuk-nyamuk sialan itu. Memang salahku juga. Aku yang seakan ingin memelihara keberadaan mereka di rumahku. Rumahku berantakan. Jorok. Sampah, hampir ada di setiap sudut rumahku.

Bukan hanya itu saja. Semalam, sangat panas. Udaranya kering. Kipas angin tampaknya sama sekali tidak berkutik, dikalahkan panasnya suhu di sekelilingku. Aku gerah. Ingin sepertinya aku melepas seluruh pakaianku. Tapi, sepertinya nyamuk-nyamuk yang akan bersukacita karena permukaan kulitku semakin luas untuk mereka hinggapi.

Jadi, aku mencoba keluar dari rumah untuk berkeliling ke sekitar daerah tempat tinggalku. Pikirku, di luar akan lebih baik.

Ternyata aku salah. Memang sedikit lebih baik. Di luar lebih sejuk udaranya. Tapi, hatiku kini yang panas dan aku menjadi lebih gerah. Aku baru saja melihat salah satu hal yang menyedihkan.

Sepertinya aku harus pindah rumah? Pindah rumah lagi? Aku baru saja pindah ke daerah ini seminggu yang lalu. Jadi, aku belum tahu secara jelas bagaimana lingkungan tempat tinggalku ini. Kami sekeluarga pindah ke daerah ini karena rumah kontrakkan yang dulu tidak mau diperpanjang kontraknya oleh pemiliknya.

Bagaimana mungkin aku tidak gerah dengan apa yang ku lihat sekarang. Aku baru sadar kalau di daerah tempat tinggalku bagaikan sarang neraka. Banyak wanita yang berpakaian minim dan berwajah menor, berdiri di tempat remang-remang guna menjajakan dirinya. Sungguh laris. Para lelaki “bodoh” sungguh banyak berlalu lalang merayu pesanan mereka. Jumlahnya melebihi dari apa yang dijajakan. Peluang “bisnis” yang cukup besar untuk dikembangkan. Sehingga, jangan heran jika semakin banyak bermunculan para generasi penerus penghuni malam itu.

Dari semua itu, hanya sedikit yang bisa aku maklumi. Aku sadar, betapa sedikitnya peluang pekerjaan yang bisa mereka dapatkan dengan hanya bermodal pendidikan yang rendah. Dan hanya sebagian kecil, orang yang peduli untuk melepaskan mereka dari lingkaran neraka itu. Pemerintah seakan masa bodoh dan mungkin pasrah menghadapi ulah mereka.

Sungguh menyedihkan. Apa mereka tidak tahu akan bahaya dari tindakan mereka? Apa mereka tidak tahu, jika virus HIV sangat mudah merajalela gara-gara tindakan mereka? Sungguh kasihan jika mereka ada yang tidak tahu. Dan sungguh menyedihkan jika mereka pura-pura tidak tahu dan tidak takut akan betapa bahayanya ancaman virus tersebut. Virus yang sangat menakutkan dunia, tapi jarang ditakuti.

“Hi..ada korek nggak? Pinjem donk?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di depanku.

Aku keasyikan melamuni nasib mereka. Sampai aku hampir lupa, aku telah berada di antara mereka.

“Hei…napa lihatin begitu? Ada nggak koreknya? Cape deh?” bentak orang itu.

“Maaf nggak a..da Mas?”

Aku langsung kabur meninggalkannya. Mengerikan. Aku baru saja berhadapan dengan setengah wanita, setengah pria. Mulutnya komat-kamit, marah. Mungkin gara-gara aku memanggil dia “ Mas ”. Aku kemudian cepat kembali ke rumah, sebelum aku di goda dan tergoda oleh keadaan.

Sepanjang perjalanan pulang, aku melihat seorang gadis yang sungguh manis. Tapi sayang, ia bukan gadis baik-baik. Kenapa ia begitu? Padahal, masa depannya masih panjang. Ia seumuran denganku, mungkin sekitar 17 tahun.

Aku bingung. Ada rasa simpati yang dalam. Sampai-sampai semalaman aku melamunin gadis itu. Begitu berlebihankah aku?

* * *

Kembali ke hari ini. Aku tidak tahu mengapa hari ini begitu panasnya. Hampir setiap hari seperti ini. Memakai jaket salah, tidak juga salah. Memakai jaket, panas, tidak memakai jaket, kulitku sudah hitam tambah hitam pula oleh sinar matahari yang semakin menjadi-jadi panasnya.. Membingungkan.

Di pikir-pikir lagi, mungkin ini akibat pemanasan global. Ancaman dunia, yang belakangan ini sering terdengar di kampanyekan. Sekarang saja panasnya bukan main, gimana sepuluh tahun lagi? Aku tak bisa membayangkannya.

Menjelang siang, eh awan kini menampakkan kemendungannya. Ini cuaca, sepertinya ingin bermain-main. Tadi panasnya minta ampun. Sekarang, mau hujan.

Tak lama kemudian, hujan pun turun.

“ Sial! Mana bisa aku keluar sekarang,” ucapku kesal.

Sudah beberapa hari ini, aku menyaksikan permainan cuaca seperti ini. Kami semua di kotaku kesal akan hal ini. Tapi, di pikir-pikir lagi, mungkin giliran cuaca yang ingin mempermainkan umat manusia yang sudah sering mengacaukan keseimbangan iklim dunia.

Lihat saja kotaku. Baru saja memasuki musim kemarau. He..sudah banyak yang mulai membakar hutan. Ladang berpindah, maksudnya. Membingungkan dan menyedihkan.

Dan sekarang bukankah seharusnya aku berbuat sedikit untuk mengurangi dampak pemanasan global. Caranya: mulai sekarang aku ingin membersihkan gudangku (rumahku). Mungkin.

Ehm, bersih kan sehat. Pikirku, kenapa tidak? Lihat saja, baru seminggu saja, kamarku sudah berantakan, gimana selanjutnya. Aku pun mulai membersihkan kamarku sendiri. Mulai hari ini, aku akan menjadi anak yang "bersih".

Tiga hari kemudian, kamarku juga seluruh bagian rumahku sepertinya sudah layak huni. Ehm, tidak seperti gudang lagi. Tapi, tetap saja. Malam ini sangat panas. Aku ingin keluar mencari udara segar dan sambil mencari gadis manis yang hingga kini, aku sangat penasaran dengannya. Siapa namamu gadis manis?

Aku sempat membenci tempat ini, tapi di sini aku pertama kali melihatnya. Aku masih penasaran padanya. Lagi pula, di sinilah kontrakkan yang paling murah yang orang tuaku dapatkan.

Tapi, aku kini tidak menemukannya lagi. Di manakah ia berada? Entah mengapa, setiap malam aku ingin melihatnya. Walau dari jauh, karena aku tidak berani mendekatinya.

Hanya satu yang aku ingat darinya. Ia tersenyum saat memandangku. Sinar matanya membuatku penasaran. Seperti ada yang ingin ia sampaikan padaku. Tapi apa? Oh, gadis manis aku ingin melihatmu lagi. Sekali saja.

“Ehm, gadis manis, sepertinya aku jatuh cinta padamu. Semoga kau baik-baik saja.” kataku dalam hati.

Hah.., ngelantur saja aku ini. Mana mungkin aku jatuh cinta pada gadis itu. Ia bukan gadis baik-baik. Aku hanya penasaran padanya.

* * *

Seminggu kemudian. Tiba-tiba aku bertemu gadis manis itu lagi, di mini market dekat rumahku. Aku merasa bodoh. Aku tak berani pura-pura memanggilnya. Ya, mana mungkin aku berani. Dan aku tak berhasil membuntuti tempat tinggalnya. Itulah pertemuan terakhirku dengannya.

Karena keesokan harinya, aku tak sengaja menonton berita tentang razia terhadap perempuan malam di kotaku. Aku terkejut. Ternyata dugaanku benar, gadis manis itu termasuk salah satu yang terjaring razia itu.

Untuk beberapa minggu, aku masih memikirkan nasibnya di sana. Aku bingung, aku benci akan perasaan ini. Tapi, aku yakin ia akan lebih baik di sana. Hari demi hari aku lewati kini dengan terbebas dari pikiranku pada gadis manis itu.

***

Setahun sudah aku tak memikirkannya lagi. Setahun sudah aku tak melihatnya lagi. Tapi, entah apa namanya ini. Takdirkah ini? Aku bertemu dengannya lagi. Tapi, mengapa harus dengan cara begini? Begitu tragiskah hidupnya? Begitu kelamkah hari-harinya? Aku bertemu dengannya ketika ia berniat untuk mengakhiri hidupnya.

“ Maaf, bunuh diri itu nggak baik,” Aku berusaha mendekatinya, lalu menasihatinya. Saat itu, aku tak menyangka akan bertemu dengannya dan dengan cara seperti ini.
.
“ Siapa kamu? Tolong, jangan ikut campur,” ucapnya dingin, dengan muka yang pucat dan tak bergairah.

“ Aku memang tak mengenalmu. Tapi, aku tahu, bunuh diri bukanlah jalan untuk mengakhiri hidup.” bujukku.

Gadis itu terdiam. Tiba-tiba ia menangis, memecah keheningan subuh di sekitar jembatan kecil ini. Gemericik aliran air sungai, seolah memberikan sedikit ketenangan. Namun, angin sepoi-sepoi berhembus mengenaiku. Buluku merinding. Jujur, aku tak suka suasana subuh. Tapi, seolah takdir yang memaksaku untuk bangun saat itu.

“ Mengapa kamu menangis..?” tak sempat aku melajutkan perkataanku.

“ Diam…!” Ia menghentikan perkataanku. Ia berteriak sambil menangis. Tiba-tiba ia pingsan. Untung saja aku cepat menahan tubuhnya sehingga kepalanya tak sampai terbentur.

* * *

“ Di mana aku? “ Tanya gadis manis itu, sesaat setelah ia sadar.

“ Kamu di rumahku. Tadi kamu pingsan,” ucapku lembut.

“ Mengapa kamu baik sama aku? Aku tak mengenalmu,” katanya penuh curiga.

“ A..ku hanya ingin menolongmu,” Aku lalu mendekatinya.

“ Jangan…!” Teriak gadis manis itu, kemudian menangis.

Aku tak tahu harus berbuat apa, kedua orang tuaku sedang tidak ada di rumah.

“ Aku kotor.. tubuhku penuh virus menjijikkan. Tolong pergi, jangan dekati aku..” Ia kemudian mulai tertawa sambil menangis. Jiwanya semakin terganggu.

Aku terkejut mendengar perkataannya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Ia mulai mengamuk, membanting vas bunga yang ia ambil di atas meja samping tempat tidurku. Hampir saja mengenaiku. Sungguh aku ketakutan saat itu. Namun, aku ingin menolongnya.

Aku kemudian keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk minum dan menenangkan diri. Baru tiga menit aku meninggalkannya sendiri di kamarku, aku terkejut melihat apa yang ada di hadapanku. Aku tak bisa apa-apa. Aku panik dan gemetar. Gadis manis itu, telah mengakhiri hidupnya. Ia mengambil pecahan vas bunga untuk melukai pergelangan tangannya.

Wajahnya pucat. Wajahnya penuh duka. Sungguh malang nasibnya. Andai saja aku tidak ke dapur tadi. Andai saja aku tak meninggalkannya sendiri. Ia pasti masih hidup. Aku pasti bisa menolongnya. Aku pasti bisa menggagalkan rencananya. Aku tak mengerti perasaanku. Aku tak tahu siapa dia. Tapi mengapa aku menangisinya?

Hari ini, entah mengapa, hujan deras mengguyur kotaku. Padahal, sudah sebulan kotaku mengalami kemarau panjang dan sama sekali belum pernah hujan mengguyur kotaku sepanjang kemarau ini.

Aku menangis. Tapi air mataku dikelabui oleh derasnya air hujan yang menderaku. Di atas makamnya, aku menangis entah karena apa.

“ Selamat jalan, gadis manis.” ucapku dalam hati.

http://www.kemudian.com/node/225938

Tidak ada komentar: