Kamis, 11 Juni 2009

Menghitung Hari

Tit – tit – tit – tit – ….

Sudah pagi. Saatnya bangun. Waktunya untuk pergi ke sekolah. Jam wekerku selalu setia membangunkanku.

Aku sudah selesai mandi sekarang. Seragamku juga sudah rapi di badanku. Tinggal rambutku yang belum ku tata hingga seperti bulu landak dengan minyak rambut andalanku. Tiba-tiba HP-ku bergetar. Ada SMS.

Co, ke gereja nggak?
Sender : Nanang 08521335****
Sent : 06-Apr-08 06:10:14

Ke gereja? Hari apa ini? Oh, iya. Ini hari Minggu, Coco. Dasar pikun. Saking semangatnya sekolah, jadi begini nih. Aku jadi salah ingat. Aku pikir ini hari Senin.

Ok!
Sender : Coco 08524548****
Sent : 06-Apr-08 06:12:59

Nanti aku jemput jam 08.30, ya?
Sender : Nanang 08521335****
Sent : 06-Apr-08 06:14:01

Ok! See u. GBU.
Sender : Coco 08524548****
Sent : 06-Apr-08 06:14:14

Untung saja Nanang mengingatkanku. Aku harus cepat ganti pakaian. Jangan sampai ada yang tahu.

Sekarang semuanya sudah beres. Dan aku mulai mendekati cermin. Sekarang bisa ku lihat wajahku. Hanya ada beberapa jerawat kecil yang mengganggu ketampananku. Dan mataku sedikit merah. Aku ingat sekarang. Semalam aku menangis.

Tinggal sekitar tiga minggu lagi aku berkumpul bersama teman-temanku di sekolah. Di luar sekolah kami juga tak bisa lagi berkumpul bersama. Tiada waktu senggang. Semua waktu hanya dihabiskan untuk belajar dan belajar. Sungguh melelahkan. Ya, tiada jalan lain untuk lulus ujian selain belajar. Dan jangan terlalu banyak berharap pada keberuntungan yang tidak pasti. Belajar dan berdoa adalah jawaban kelulusan.

Dan entah mengapa aku menjadi sangat sedih dan cengeng. Begitu melankolis. Perasaan ini terlalu aku bawa. Saat ini adalah masa-masa penuh emosional. Jiwa dan raga terkuras. Di satu sisi, aku berharap kiranya semua ini cepat berlalu. Namun di sisi yang lain, aku tak sanggup jika secepat itu aku berpisah dengan mereka. Semua ini sungguh menyiksa.

Masa SMA adalah masa yang paling indah. Ironisnya, aku baru menyadarinya di saat-saat terakhir aku mengenakan seragam putih abu-abu ini. Kebersamaan ini semakin erat terasa di saat semuanya akan berakhir. Menyedihkan.

Aku pun membaca kembali puisi “ Menghitung Hari “ yang semalam aku tulis dengan penuh emosi dari dalam hati. Puisi tentang perasaanku saat ini. Tentang aku dan mereka, teman-temanku.

Menghitung hari
hanya akan menambah penderitaan
tanpa sanggup mengurangi ketakutan
yang semakin hari semakin bertambah
Berkali-kali aku mencoba
berjalan tanpa meratap
tapi detik semakin menjepit
perpisahan tinggal selangkah
dan aku semakin terpuruk
ketika membayangkannya
mataku di belakang matamu,
tangan kita tak saling berjabat,
arah kita saling berlawanan,
dan aku hanya sanggup
menjumlahkan setiap kenangan

Menghitung hari
hingga tiba waktunya
kita saling melambaikan tangan
air mata pun mengalir
perasaan yang tidak menentu
Selamat tinggal, sahabat
sampai jumpa di kemudian hari
semoga kelak kan berjumpa lagi
bersama membuka lembaran kenangan tak terhitung
dan berbagi cerita baru
“Kiranya Tuhan memberkati”

Lalu aku ambil HP-ku di saku celanaku. Ku lihat wallpaper di HP-ku, fotoku dan semua teman sekelasku. Ku buka gallery fotoku. Satu persatu foto masa SMA ku menghidupi kenangan.

Dan aku teringat dia. Dia yang selalu membuat nurani ini gelisah. Dia adik kelasku. Dia yang membuat aku bisa merasakan perasaan yang semua orang pernah merasakannya. Perasaan untuk pertama kalinya aku rasakan. Cinta pertama. Dan cinta itu akan menjadi cinta yang tak akan pernah terungkapkan.

Aku melihat dia. Dia dan aku di kantin sekolah. Aku mengingatnya kembali dalam foto yang pernah aku abadikan di kantin sekolah waktu itu.

Dia. Tak lama lagi aku tak bisa melihat dia di sekolah, bertemu dia di perpustakaan, dan mengajak dia ke kantin sekolah. Aku rindu dia. Sungguh indah dan menyiksa memikirkan dia. Akankah dia memikirkanku juga?

Ku lihat kalender. Ku lingkari tanggal 22, 23, 24 April itu. Hari Ujian Nasional. Aku akan berdoa nanti di gereja. Semoga aku dan teman-temanku bisa lulus. Itu harapanku.. Semoga lulus. Amin!

* * *

22 April.
Ujian hari pertama. Bahasa Indonesia dan matematika. Tidak terlalu sulit.

* * *

23 April.
Ujian hari kedua. Bahasa Inggris dan kimia. Lumayan sulit.

* * *

24 April.
Ujian hari ketiga. Fisika dan biologi. Sangat sulit.

* * *

Pesta perpisahan sekolah. Aku telah menghitung hari dan kini tiba waktunya aku mengucapkan kata perpisahan. Aku tak sanggup. Tapi sudah waktunya. Aku tahu perpisahan bukanlah luka walau luka yang ditinggalkan akan terus membekas.

Suasana pesta perpisahan sekolah cukup meriah. Aku tampil di depan para dewan guru dan ratusan teman-teman dan adik-adik kelasku. Mereka meneriakkan namaku. Dan aku mulai menyanyikan lagu. Lagu perpisahan.

* * *

Tidak terasa tiga tahun sudah aku mengenakan seragam putih abu-abu ini. Dan aku kini harus melepaskannya dan mencoret-coretnya dengan bubuhan tanda tangan dari semua temanku. Akhirnya aku merasakan kelulusan yang aku harapkan. Terima kasih Tuhan. Semua temanku juga lulus. Semua ini terasa mimpi. Walaupun dilarang, kami berarak-arakan keliling kota dengan menggunakan motor. Sedikit keterlaluan menurutku. Tapi ini sangat seru. Kapan lagi seperti ini, bukan?

Aku sungguh tidak percaya jika kami semua bisa lulus. Ujian fisika yang kemarin paling aku takuti tapi ternyata aku bisa mendapat nilai 6. Sedikit pas-pasan. Tapi, tak apalah.

Semoga kelulusan ini bukan karena kecurangan pihak sekolah yang membulatkan kembali lembar kerja soal yang salah kami bulatkan sebelum di kirim ke Dinas Pendidikan di pusat. Ya, kalau gosip ini benar, aku tak bisa ngomong apa-apa. Harap maklum saja.

Dan lihat saja kesalahan-kesalahan pemerintah dalam sistem ujian di Indonesia. Pertama, menambah jumlah mata pelajaran yang di ujiankan menjadi enam. Padahal tiga mata pelajaran saja masih tidak beres mengurusnya. Kedua, menaikkan standar kelulusan dengan semaunya. Padahal tingkat pendidikan di setiap wilayah di Indonesia masih belum merata dan memprihatinkan. Ketiga, pemerintah tidak mau mendengar keluhan masyarakat akan sistem pendidikan di Indonesia. Mereka hanya berdiskusi dan memutuskan sendiri bagaimana jalan yang terbaik. Dan keputusan itu salah total.

Itu semua hanya menurutku saja. Hanya Tuhan yang tahu.

* * *

Saatnya untuk pergi menggapai cita-cita. Mencari yang terbaik. Sebentar lagi pesawat akan mengantarku ke negeri seberang yang akan menjadi tempat aku menimba ilmu sesuai cita-citaku dari dulu menjadi seorang sutradara hebat. Aku ke sana karena aku sadar jika di sini aku tak akan bisa mempelajari apa yang seharusnya aku pelajari dengan maksimal. Dan ketika aku kembali nanti, aku bisa memberikannya kepada negeriku apa yang telah aku dapatkan di sana.

Kini ku coba menahan perasaan rinduku yang semakin menggebu-gebu. Aku teringat teman-temanku. Teringat Nanang sahabat terbaikku. Dan dia, cinta pertamaku. Dia adalah Lilis Suryani. Dia akan menyinariku selalu di sana bagai sang Surya ia memberiku semangat.

Aku teringat apa yang tadi dia ucapkan padaku, ” Co, aku pasti akan selalu merindukanmu.” Air matanya menetes deras.

“ Aku cinta kamu, Co.” Aku tak pernah menyangka kata-kata ini akan keluar dari bibir dia. Ini seperti mimpi. Aku melihat kejujuran dari mata dia.

“ Aku juga cinta kamu.” Hatiku bergetar. Mataku mulai berkaca-kaca.

“ Kita pasti akan ketemu lagi. Jangan menangis lagi, ya.” Aku mencoba menenangkannya.

“ Jaga dirimu baik-baik, Co.”

“ Sampai jumpa, Lis. Aku pasti akan selalu merindukanmu di sana.”

Perpisahan itu akhirnya tiba. Aku. Dia. Berpisah kini. Tapi, aku tahu hati kami akan selalu menyatu. Jarak bukan sesuatu hal yang dapat membunuh perasaan ini.

http://www.kemudian.com/node/226037

Tidak ada komentar: