Sabtu, 27 Juni 2009

Rantai Cinta

Jika cinta itu hanya saling memberi tanpa ada yang menerima kembali, maka terciptalah suatu rantai cinta yang saling mengait tanpa ikatan cinta.

Hari Valentine yang mendung. Awan kelabu menghiasi jiwa ke-empat orang yang sedang patah hati di hari yang sama, hari Valentine.

Hujan lebat di sore itu, menambah efek dramatis di hati Irawan, Ria, Ronny, dan Indah yang sedang memikirkan cinta mereka yang belum juga berlabuh. Dan entah, akankah cinta itu berlabuh?

Irawan memanfaatkan hari Valentine itu untuk menyatakan cintanya kepada Ria yang sudah lama ia taksir. Mungkin sudah agak terlambat untuk menyatakannya karena sebentar lagi mereka bakal mengikuti ujian akhir SMA. Namun, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali.

Semua hal sudah dipersiapkan Irawan jauh sebelum hari bersejarah itu, terutama mental dan cintanya. Inilah hari Valentine yang tak mungkin dilupakannya. Hari Valentine yang penuh luka.

“ Hi, Ria!” Irawan menyapa lamunan Ria yang sedang tertunduk lesu di kursi di kelasnya.

“ Oh, kamu Wan,” Ria sedikit terkejut.

“ Pagi-pagi kok ngelamun?”

“ Nggak kok. Kenapa?”

“ Bisa temani aku ke belakang sekolah bentar nggak?”

“ Ngapain?”

“ Ada aja. Ok?” Secara refleks Irawan menarik tangan Ria tanpa menunggu persetujuan olehnya.

“ Lepasin tangan aku. Aku bisa jalan sendiri, Wan.” Ria mengeluh.

“ Sorry deh.”

Irawan kemudian langsung membuka retsleting tasnya dan mengambil sesuatu dari situ. “ Ini buat kamu.”

“ Happy Valentine Day,” Irawan melanjutkan perkataannya.

“ Happy Valentine Day too,” Ria menjabat tangan Irawan.

“ Eh, ini buat aku, Wan?” Ria sedikit tak percaya.

“ Ya, buat wanita manis seperti kamu.”

“ Gombal. Ma kasih, ya.”

“ Sama-sama. By the way, suka nggak?”

“ Suka. Lucu, ya.”

“ Lucu seperti kamu.”

“ Enak saja samain aku sama boneka ini.”

“ Oh ya, sorry nih aku nggak ada kado buat kamu.”

“ Nggak apa-apa. Aku sudah sangat senang kamu mau nerima kado dariku ini.”

“ Ya udah deh. Aku mau ke kelas dulu. Kamu itu aneh-aneh aja. Napa nggak kasiin kado ini di kelas aja. Di sini kan sepi. Entar di kira mau ngapain lagi, hehe?”

“ Eits. Ria, jangan pergi dulu. Sebenarnya….” Irawan terlihat gugup.

“ Apaan?”

“Sebenarnya a…ku ngajak kamu ke sini karena aku mau bilang perasaan aku yang sebenarnya….”

Keadaan tiba-tiba menjadi sunyi. Detak jantung yang semakin tak menentu menambah kegelisahan di raut wajah Irawan yang semakin memerah. Seribu tanya menyerang batin Ria seketika itu.

“ I love you, Ria.”

Bumi seakan berhenti berputar. Jarum panjang pada jam seakan tak ingin berlalu dari pukul 06. 40 saat itu.

Mata bulat Ria mulai berkaca-kaca. Angin sepoi-sepoi menyapu kedua belah pipi mulusnya. Kini Ria bisa merasakan air yang berlinang dari matanya, lalu menyusuri pipinya, hingga jatuh dan menyerap ke dalam tanah.

Tiba-tiba saja Ria ingin waktu segera berputar cepat. Atau kalau bisa, saat itu tidak ada dalam hari-harinya.

Ini ternyata bukan mimpi. Ini kenyataan. Ini bahkan lebih menyakitkan hatinya. Karena ternyata harapannya kini semakin hancur berkeping-keping. Dan di hadapannya datang seorang pangeran yang berusaha menyatukan kepingan-kepingan hatinya itu. Pangeran itu adalah Irawan. Bukan Ronny yang selalu ia harapkan.

“ Mau nggak kamu jadi pacar aku.” Wajah Irawan memelas penuh harapan. Sekarang ia sudah berani mengungkapkan isi hatinya yang telah sekian lama terpendam dalam kebodohannya. Wajah Irawan yang memerah seperti tomat itu, berbanding terbalik dengan wajah kelabu Ria.

“ Kamu kenapa nangis?” jari Irawan menyentuh pipi Ria dan menghapus air matanya yang terus mengalir deras.

“ Sorry, Wan. Aku … aku nggak bisa.” Ria mengatakannya dengan hati-hati.

” Kenapa nggak bisa?” Irawan sangat terkejut. “Aku akan ngelakuin apa aja hanya untuk kamu, Ria.” Irawan memelas dan berusaha tegar. “ Please.”

“ Sorry, Wan, tolong ngertiin aku,” Ria berkata dengan penuh rasa bersalah.

“ Tolong beri aku alasan, Ria?”

.....

“ Kenapa kamu diam? Beri aku kesempatan, Ria.”

“ A…aku belum mau pacaran, Wan. Bentar lagi kita ujian, kita mau lulus. Bukannya kamu mau lanjut ke luar negeri? Jadi, untuk apa kita bersatu kalau harus berpisah?”

“ Bohong. Aku tahu siapa kamu, Ria. Itu pasti bukan alasanmu, kan?”

.....

“ Kenapa kamu diam lagi? Apa kamu mencintai lelaki lain?”

“ Tolong jangan bentak aku.” Air mata Ria semakin deras mengalir. “ Lepasin tangan aku, Wan.” Ria mengguncang-guncang tangannya dan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Irawan.

Irawan perlahan melepas tangan Ria dari genggamannya. “ Kenapa kamu nggak kasi aku alasan yang sebenarnya? Apa kamu mengharapkan lelaki lain yang datang untuk mencintaimu? Siapa dia? Mana dia?” Irawan menguncang bahu Ria.

“ Lihat. Lihat aku. Lihat lelaki yang ada di hadapanmu sekarang. Itu aku, Ria. Apa lagi yang kamu tunggu? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Ria. Tolong beri aku kesempatan membuktikannya,” lanjut Irawan penuh emosi.

“ Stop! Aku tak perlu bukti itu. Aku percaya sama cinta kamu. Tapi … tolong jangan paksa aku. Aku belum siap, Wan.”

“ Apa lagi yang kamu tunggu? Bukankah kamu percaya akan cintaku?”

“ Cukup. Sorry, Wan. Sebaiknya kita hanya berteman saja.”

“ Apa?”

“ Sorry, Wan. Dan ma kasih buat semuanya. Aku yakin di luar sana ada wanita yang lebih baik untuk kamu, Wan.”

Irawan menatap nanar wajah cantik Ria yang penuh perasaan bersalah itu. Kini, Irawan diam seribu bahasa melihat kenyataan yang ada di hadapannya.

“ Wan, aku mau ke kelas dulu. Sudah mau masuk.” Ria membalikkan tubuhnya dan melangkah meninggalkan Irawan yang sedang terpuruk.

“ Ria.” Irawan berteriak kecil.

“ Apa lagi, Wan?” Ria menoleh kembali ke arah Irawan yang kini berusaha mencegatnya dengan menarik tangannya.

“ Maaf kalau aku terlalu emosional. Dan tolong ini kamu ambil. Ini untuk kamu.” Irawan mengambil boneka pemberiannya itu yang tadi jatuh ke tanah.

“ Dan asal kamu tahu. Tak ada wanita yang lebih baik selain kamu, Ria.” Irawan berbicara penuh keyakinan.

“ Ma kasih, Wan,” Ria mengambil boneka itu tanpa berani menatap mata sayu Irawan.

“ Ehm, satu lagi Aku akan selalu menunggumu,” kata Irawan lirih.
Ria lalu membalikkan badannya dan pergi meninggalkan Irawan seorang diri dengan langkah yang berat.

Irawan memperhatikan wanita yang telah melukai perasaannya itu melangkah meninggalkannya. Irawan terus menatapnya hingga keberadaannya tak mampu ditangkapnya kembali.

Saat itu, angin berhembus kuat ke sana ke mari mengisyaratkan perasaan Irawan dan Ria yang tak menentu. Daun-daun berguguran bagai cinta Irawan yang gugur berantakan tanpa seorang pun yang memungutnya.

Air mata yang tertahan menetes lembut dari hati Irawan yang terluka.

* * *

Ronny mengetuk-ngetuk pintu rumah Indah,“ Indah. Indah, tolong buka pintunya.”

“ Cukup, Ron. Aku nggak cinta sama kamu. Sampai kapan pun kamu mencintaiku, aku tak akan membalas cintamu itu.” Indah berteriak dari balik pintu rumahnya sambil menangis.

“ Bohong.”

“ Kamu ini bisa di bilang nggak. Pergi sana. Di luar hujan. Aku muak lihat muka kamu.”

“ Aku sangat mencintaimu, Indah. Tolong buka pintunya.”

“ Aku nggak akan terima cintamu sampai kapan pun. Kamu sudah benar-benar gila.”

“ Ya, aku memang sudah gila dan aku akan semakin gila jika kamu membohongi perasaanmu dan mempermainkan perasaanku. Kenapa kamu semakin lama semakin menjauhiku? Apa salahku?” Roni berteriak seperti orang gila.

Tak ada jawaban dari balik pintu itu lagi. Suara tangisan pun tidak. Hanya denyut nadi yang semakin lemah berdenyut berusaha mempertahankan hidup yang hampir mustahil dipertahankan itu.

Indah pingsan dengan air mata yang mulai mengering dan perasaan yang semakin tertekan. Perasaan memendam cinta.

* * *

Kini, penantian cinta selama beberapa tahun itu tak akan pernah berlabuh. Cinta itu telah pergi. Cinta itu kini sia-sia. Indah tak pernah memberikan sedikit pun kesempatan untuk menerima cinta Ronny hingga ajal menjemputnya. Indah menderita leukemia sejak beberapa tahun silam yang menghalangi perasaannya untuk berani jujur kalau ia juga mencintai Ronny. Indah tak ingin membuat Ronny semakin kehilangan jika ia menerima cinta itu karena ia yakin umurnya tak bakal lama lagi.

Perpisahan yang tak pernah dibayangkan Ronny kini ada dipelupuk matanya yang sembab. Ia melangkah gontai ke pemakamannya Indah.

* * *

...Seorang mahasiswa ditemukan tewas gantung diri di kamarnya. Sejauh ini diperkirakan korban yang bernama Ronny ini bunuh diri karena pacarnya yang bernama Indah meninggal sebulan yang lalu. Hal ini dapat di simpulkan dari suratnya yang ditemukan di kamarnya. Menurut penuturan orang tua korban, Ronny sudah beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri namun selalu dapat dicegah terlebih dahulu.
Dalam suratnya tertulis: Jika aku tak bisa mendapatkan cintanya di dunia, maka aku akan terus mengejarnya ke manapun ia pergi. Karena aku sangat mencintaimu dan aku tahu jika kamu sebenarnya juga mencintaiku Indah...

Ria tak mampu lagi melanjutkan membaca berita kematian Ronny yang tragis itu di koran. Ia kini hanya mampu meneteskan air mata kehilangan dan kehancuran yang mendalam.

Ria menatap keluar dari teras atas rumahnya. Matanya tertuju ke rumah di depannya. Rumah penuh kenangan. Rumah Ronny, rumah pangeran masa kecilnya.

Bayangan masa kecilnya kembali hadir. Ria teringat pohon Jambu di depan rumah Ronny yang dulu sering mereka panjat saat pohon Jambu berbuah lebat. Ronny yang saat itu terjatuh dari atas pohon itu ketika hendak memetik buah Jambu yang telah masak untuknya. Ronny bela-belain memanjatnya padahal batang pohon itu masih sangat licin sehabis hujan.

Ria selalu teringat kejadian itu. Betapa tidak, Ronny terjatuh karena mau memberikannya buah Jambu yang telah masak. Saat itu Ria tak bisa memanjatnya bersama Ronny seperti biasa karena kaki Ria baru saja terluka akibat tertusuk paku ketika berlari-lari tanpa alas kaki di taman dekat rumahnya saat bermain petak umpet bersama Ronny dan temannya yang lain.

Kini semuanya telah lama berlalu. Kenangan itu, kenangan masa kecil yang kini tak akan sama lagi rasanya bila dikenang tanpa kehadiran Ronny. Bahkan pohon Jambu itu tak seperti dulu lagi. Tak lagi terlihat adanya tanda-tanda kehidupan di sana. Daun-daun mulai berguguran tanpa sebab. Tak ada lagi burung-burung Gereja di pagi hari atau seekor Kelelawar pun di malam hari yang bertengger di dahan-dahannya yang rindang.

Ria yang selama ini sudah salah mengartikan kedekatan dan kebaikan Ronny hanya bisa gigit jari karena ia selalu ingin mengharapkan lebih. Ria menunggu apa yang tak bisa ditunggu. Harapan dan impian masa depan bersama Ronny pupus sudah. Kandas di tengah jalan.

* * *

Ria menatap boneka Beruang pemberian Irawan itu di kamarnya. Mata boneka Beruang itu kini tak bersinar seperti dulu lagi. Irawan telah pergi meninggalkan cintanya di Indonesia dan terbang ke negeri Singapura guna melanjutkan pendidikannya.

“ Wan. Kamu itu kenapa sih? Mana janjimu? Katanya mau nunggu aku sampai kapan pun. Mana? Kenapa sekarang pergi?” Ria berbicara sama boneka itu.

“ Ke Singapura? Haha… Nggak takut kamu di makan Singa di sana, hah? Bego. Di sana itu banyak Singa tahu. Galak-galak. Harm…” Ria menirukan suara Singa asal-asalan.

“ Kok kamu tega sih, Wan ninggalin aku. Dasar penipu. Sekarang aku sama siapa dong? Sama boneka Beruang ini? Gila deh. Tahu nggak, gila.”

“ Kamu tahu, kan, tadi aku ke bandara mau ketemu sama kamu? Kenapa kamu cuekin aku? Kenapa nggak memberi aku cinta itu lagi di saat aku ingin menerimanya? Karena aku bodoh? Ya, aku memang bodoh. Bodoh.”

“ Kenapa tinggalkan aku seperti sih Ronny brengsek itu, hah? Kalian berdua memang brengsek. Brengsek!”

“ Orang yang aku cintai dan yang mencintaiku telah pergi. Tak ada yang mengerti perasaanku. Mama dan Papa hanya bisa bilang aku bodoh. Ya aku emang bodoh. Nilai ujianku hancur. Orang yang mencintaiku ku biarkan pergi dan aku menunggu seseorang yang rela mati bukan untukku. Sialan….”

Air mata Ria bercucuran. Tawanya terdengar mengerikan. Seperti kerasukan ia mengambil selimutnya lalu ia gantungkan dan ia ikatkan pada kipas angin yang tergantung di kamarnya.

Boneka Beruang yang ia genggam itu kini telah terlepas dari tangannya. Boneka itu terjatuh dan mukanya menghadap ke lantai tanpa sedikitpun berusaha membalikkan tubuhnya untuk menatap apa yang terjadi di balik tubuhnya. Seorang gadis cantik yang kini sudah tak bernyawa karena lilitan selimut yang mencekik lehernya. Tubuh Ria bergelantungan bersama baling-baling kipas angin di atasnya yang berputar pelan sendiri.

Sehelai kertas ia kalungkan di lehernya yang berisi :

Berdasarkan Daftar Kolektif Nilai Ujian Nasional Dinas Pendidikan
Propinsi Kalimantan Barat, menerangkan bahwa:
Nama : Ria Alinda
Dinyatakan
TIDAK LULUS

http://www.kemudian.com/node/233714

1 komentar:

Nanda mengatakan...

ceritanya tragis.. :(