Kamis, 04 Februari 2010

Dengarkanlah Sahabat

Dengarkanlah sahabat. Ini bukanlah sebuah puisi menyentuh yang bisa membuatmu menangis tersedu sebab aku bukanlah dia yang bisa melelehkan lilin di hatimu. Tulisan ini hanya sedikit tentang kekagumanku pada dirimu yang telah menerangi hari-hariku seakan engkau adalah matahari.

Aku tahu engkau bukan Tuhan. Tapi aku sadar engkau adalah utusan Tuhan yang telah menolong hidupku dari kelamnya manusia lamaku menjadi manusia baru yang bercahaya. Sungguh, engkau adalah matahariku. Ada kehangatan jika bersamamu karena pribadimu yang ramah dan ceria.

Kamu. Dirimu. Semua tentang kamu aku tahu seakan kita adalah saudara. Seperti kata Amsal 18:24b, “Tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.” Ya, engkau adalah seorang sahabat melebihi seorang saudara. Aku bersyukur telah mengenalmu. Keakraban ini biarlah selalu terjaga.

Ada kasih di dalam persahabatan. Ada kamu di dalam kesukaran. Sungguh, engkau nyata seperti Amsal 17:17 berkata, “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Terima kasih sahabat. Apa yang telah kau berikan, pasti akan selalu teringat karena terlalu sulit bagiku jika melupakan tentangmu begitu saja.

Oh ya, sahabat. Engkau tahu berapa jarak Matahari dengan Bumi? Sekitar 93.000.000 mil. Sangat jauh bukan. Dan tetap ketahuilah bahwa persahabatan kita tak akan pernah berhenti sejauh apapun jarak memisahkan. Kasih itu tetap berotasi. Karena seperti Matahari dengan Bumi, itulah kita. Tetaplah bersinar. Tetaplah menjadi berkat dalam hidupku.

Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Sebuah perpisahan bukanlah suatu permasalahan untuk diratapi. Bukan suatu persoalan yang akan membunuh persahabatan ini. Cerita kita akan terus tertulis sampai Bumi berhenti berputar dan Matahari tak lagi bersinar. Jadi, selamanya engkau adalah sahabatku.