Jumat, 21 Mei 2010

Batasan

Terkadang kita dibatasi oleh batasan-batasan yang dibuat oleh kita sendiri. Batasan-batasan tersebut secara tidak langsung adalah bentuk penghakiman terhadap diri kita sendiri.

Ketika Anda melakukan sesuatu, terkadang Anda dengan mudahnya mengatakan tidak bisa sebelum mencobanya. Sebenarnya, bukanlah masalah bisa atau tidak melainkan mau atau tidak Anda mencobanya.

Pada waktu Anda mendapatkan suatu tanggung jawab, terkadang hal pertama yang Anda pikirkan adalah Anda tidak yakin bisa melakukannya dengan baik. Anda tidak percaya diri dan merasa bahwa hal tersebut terlalu berat buat Anda jalani.

Bebaskanlah pikiran Anda. Jangan mengukur rendah kemampuan Anda. Menghakimi diri sendiri tidaklah baik. Anda harus berani menerima dan melakukan setiap tanggung jawab yang telah diberikan.

Anda adalah pribadi yang diciptakan Tuhan secara luar biasa. Terlepas dari segala kekurangan, Anda telah dilahirkan dengan berbagai kelebihan yang harus Anda maksimalkan.

Jangan pernah takut salah. Jangan pikirkan kegagalan sebelum Anda mencoba. Ubah paradigma bahwa Anda memiliki batasan seperti ini dan itu yang membuat Anda tidak berani untuk melangkah maju keluar dari batas yang telah dibuat.

Karena seringkali apa yang dipikirkan tidak sesuai dengan kenyataan. Batasan-batasan yang dibuat tidak akan melindungi Anda, tetapi akan membelenggu dan semakin lama akan menghimpit diri Anda sendiri.

Bebaskan diri Anda dari setiap batasan yang ada. Runtuhkan segala tembok yang menghalangi Anda untuk melangkah. Anda pasti bisa karena Anda adalah pribadi yang luar biasa.

Dan jangan pernah berkecil hati jika Anda menerima suatu tanggung jawab baru yang belum pernah dilakukan sebelumnya, tapi bersemangatlah. Katakan bahwa Anda mau mencobanya walau mungkin Anda merasa tidak bisa.

Hancurkanlah setiap batas yang telah Anda buat. Jangan lagi ada pikiran yang menghambat Anda untuk terus maju. Ingat! Anda pasti bisa jika anda mau.

Minggu, 09 Mei 2010

Dua Bata Jelek

Ada sebuah cerita tentang seorang biksu yang akan membangun tembok. Ketika ia mulai memasang batu bata, ia ketok satu sisi untuk meratakannya, tetapi sisi lainnya malah jadi naik. Rata PenuhLalu ia terus berusaha meratakan dan memastikan setiap batu bata itu terpasang sempurna.

Akhirnya, ia dapat menyelesaikan tembok batu batanya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karyanya. Saat itulah ia melihat bahwa ia telah keliru menyusun dua batu bata.

Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring dan terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Dan pada saat itu batu bata itu sudah terlanjur terlalu keras untuk dicabut. Jadi dengan terpaksa temboknya pun dibiarkan seperti itu.

Dan hingga suatu hari, seorang pengunjung melihat tembok itu dan dengan santainya ia berkomentar bahwa itu adalah tembok yang indah. Si biksu terkejut dan merasa penglihatan orang itu terganggu sehingga tidak bisa melihat dua batu bata jelek yang telah merusak keseluruhan tembok.

Tetapi orang itu berkata bahwa ia bisa melihat dua batu bata jelek itu, namun ia juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus. Biksu itu tertegun mendengarnya dan ucapan itu telah mengubah cara pandangnya terhadap tembok itu.

Akhirnya, biksu itu mampu melihat batu–batu bata lainnya selain dua batu bata jelek itu. Di atas, di bawah, di kiri, di kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu-batu bata yang bagus. Batu bata yang sempurna yang jauh lebih banyak daripada dua batu yang tidak sempurna.

Dari cerita tersebut, ada hikmah yang bisa kita ambil. Biksu itu hanya berfokus pada dua kesalahan yang telah ia perbuat sehingga tidak lagi melihat banyak hal bagus yang telah ia kerjakan juga. Seringkali manusia hanya melihat kesalahan yang telah ia lakukan dan juga hanya melihat keburukan orang lain.

Kita semua memiliki “dua bata jelek”, namun bata yang baik di dalam diri kita masing-masing jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita menyadarinya, semua akan tampak tidak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menerima kekurangan orang lain.

Perhatikanlah hal-hal baik yang jauh lebih banyak jumlahnya di dalam diri kita dan orang lain, daripada hanya berfokus pada beberapa hal buruk yang ada.

P.S. : Terinspirasi dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya/ Opening the Door of Your Heart karya Ajahn Brahm.