Minggu, 09 Mei 2010

Dua Bata Jelek

Ada sebuah cerita tentang seorang biksu yang akan membangun tembok. Ketika ia mulai memasang batu bata, ia ketok satu sisi untuk meratakannya, tetapi sisi lainnya malah jadi naik. Rata PenuhLalu ia terus berusaha meratakan dan memastikan setiap batu bata itu terpasang sempurna.

Akhirnya, ia dapat menyelesaikan tembok batu batanya yang pertama dan berdiri dibaliknya untuk mengagumi hasil karyanya. Saat itulah ia melihat bahwa ia telah keliru menyusun dua batu bata.

Semua batu bata lain sudah lurus, tetapi dua batu bata tersebut tampak miring dan terlihat jelek sekali. Mereka merusak keseluruhan tembok. Dan pada saat itu batu bata itu sudah terlanjur terlalu keras untuk dicabut. Jadi dengan terpaksa temboknya pun dibiarkan seperti itu.

Dan hingga suatu hari, seorang pengunjung melihat tembok itu dan dengan santainya ia berkomentar bahwa itu adalah tembok yang indah. Si biksu terkejut dan merasa penglihatan orang itu terganggu sehingga tidak bisa melihat dua batu bata jelek yang telah merusak keseluruhan tembok.

Tetapi orang itu berkata bahwa ia bisa melihat dua batu bata jelek itu, namun ia juga bisa melihat 998 batu bata yang bagus. Biksu itu tertegun mendengarnya dan ucapan itu telah mengubah cara pandangnya terhadap tembok itu.

Akhirnya, biksu itu mampu melihat batu–batu bata lainnya selain dua batu bata jelek itu. Di atas, di bawah, di kiri, di kanan dari dua batu bata jelek itu adalah batu-batu bata yang bagus. Batu bata yang sempurna yang jauh lebih banyak daripada dua batu yang tidak sempurna.

Dari cerita tersebut, ada hikmah yang bisa kita ambil. Biksu itu hanya berfokus pada dua kesalahan yang telah ia perbuat sehingga tidak lagi melihat banyak hal bagus yang telah ia kerjakan juga. Seringkali manusia hanya melihat kesalahan yang telah ia lakukan dan juga hanya melihat keburukan orang lain.

Kita semua memiliki “dua bata jelek”, namun bata yang baik di dalam diri kita masing-masing jauh lebih banyak daripada bata yang jelek. Begitu kita menyadarinya, semua akan tampak tidak terlalu buruk lagi. Bukan hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menerima kekurangan orang lain.

Perhatikanlah hal-hal baik yang jauh lebih banyak jumlahnya di dalam diri kita dan orang lain, daripada hanya berfokus pada beberapa hal buruk yang ada.

P.S. : Terinspirasi dari buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya/ Opening the Door of Your Heart karya Ajahn Brahm.

Tidak ada komentar: