Rabu, 09 Juli 2014

Akhirnya, Saya Ikut Pemilu Untuk Pertama Kali

Hari ini, tanggal 9 Juli 2014, adalah pemilihan umum Presiden Indonesia. Untuk pertama kalinya, saya datang ke TPS, mengambil surat suara, mencoblos pilihan saya, dan mendapatkan tinta ungu di jari saya. Sebuah pengalaman baru dalam pembelajaran politik dan demokrasi dalam hidup saya.

Jauh sebelum itu, saya adalah seorang yang apatis, tidak terlalu peduli dengan segala hal mengenai dunia politik yang dipenuhi oleh (mayoritas) orang-orang yang tidak bekerja untuk rakyat, tapi bekerja hanya demi kepentingan pribadi dan kelompok. Tapi, kali ini saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam pilpres dan menggunakan hak suara saya untuk memilih capres-cawapres untuk periode lima tahun mendatang, 2014-2019.

Saya tidak sedang mengikuti tren yang ada. Saya ikut pemilu bukan karena saya fanatik terhadap salah satu calon, baik Prabowo Subiakto-Hatta Rajasa atau Joko Widodo-Jusuf Kalla. Saya memilih untuk tidak golput karena saya cinta dan peduli akan nasib negara ini. Saya percaya bahwa dibalik setiap kekurangan mereka, salah satu dari mereka adalah yang terbaik dan dapat memimpin bangsa ini.

Sejak Mei 2014 hingga saat ini, saya rajin mengikuti perkembangan berita dari berbagai media massa, membaca pendapat netizens di internet, dan bahkan berdiskusi mengenai pemilu di media sosial dan ketika bertemu dengan keluarga, serta teman-teman saya. Terasa aneh, karena sebelumnya tidak pernah saya melihat orang-orang begitu antusias membicarakan siapakah yang terbaik untuk menjadi pemimpin di Indonesia.

Harapan untuk Indonesia yang lebih baik itu kembali lahir dan berkembang lebih dari tahun-tahun sebelumnya. Ada yang berpendapat bahwa Prabowo lah yang terbaik, ada juga yang sebaliknya berpihak pada Jokowi. Perbedaan pendapat adalah hal yang lumrah. Dalam negara yang menjunjung demokrasi, sudah seharusnya setiap kita belajar menghormati pilihan orang lain yang berbeda. Karena bhinneka tunggal ika mengajarkan kita semua untuk bersatu dalam perbedaan, dan bukan malah memecah belah persatuan dan kesatuan kita.

Setelah mengamati dan mencermati, saya akhirnya menentukan pilihan saya kepada Pak Jokowi-JK. Dengan penuh antusias, saya mengurus perpindahan TPS di KPU dan kelurahan agar dapat mengikuti pilpres di Jakarta, karena nama saya terdaftar di TPS di daerah saya, Sintang. Dan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Pak Prabowo-Hatta, hati kecil saya lebih percaya bahwa Pak Jokowi-JK lah yang lebih layak untuk saya perjuangkan kemenangannya dengan cara mencoblos nomor 2 di TPS.

Akhirnya, siapapun yang menang, dan siapapun yang kalah, marilah kita semua sama-sama bersikap dewasa dalam menyikapi. Yang menang dapat menjalankan visi-misi yang telah dia janjikan demi Indonesia, dan yang kalah dapat menerima dengan legowo. Janganlah ricuh dan ciptakanlah kedamaian, karena inilah pesta demokrasi yang harus kita rayakan sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.

Salam bangga dua jari. GOD bless Indonesia.

1 komentar:

Ginny Laura mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.