Kamis, 31 Desember 2015

Momen-Momen Terbaik di 2015

Bagiku, setiap momen yang berkesan harus selalu diabadikan, baik itu menggunakan foto atau video. Jangan sampai momen-momen yang spesial hanya menjadi sebatas memori di otak dan hati saja.

Untuk tahun 2015, banyak hal berharga yang aku lewati, khususnya bersama para anggota keluarga tercinta. Terlebih saat-saat kami mempersiapkan pernikahan Engko (my big brother, Dodi Juliadi) hingga akhirnya dia resmi menikahi wanita (Christine Tambrani) yang kini menjadi istrinya seumur hidup.

Berikut kilas balik momen-momen terbaikku di 2015:

- 21 Juni 2015 (Lamaran/Pertunangan)
- 11 Oktober 2015 (Sangjit atau prosesi seserahan dalam budaya Tionghoa)
- 14 Oktober 2015 (Ke Bali untuk jalan-jalan dan menyiapkan pernikahan)
- 17 Oktober 2015 (Acara pernikahan di Infinity Chapel - Hotel Conrad Bali).

Momen-momen tersebut sempat aku rekam dengan kamera ponselku dan saya edit menjadi suatu video yang sekilas menceritakan kebahagiaan yang kami rasakan. Yuk, di tonton videonya, hehehe! Thank you. :)


Minggu, 29 November 2015

Cerita Pendek : Cinta Kasih


“Apa agamamu?” Tanya seorang HRD di depanku.

Setelah dicecar berbagai pertanyaan umum layaknya seorang HRD bertanya kepada calon pelamar kerja, tiba-tiba Ibu Angel melontarkan sebuah pertanyaan sensitif itu.

“Tidak ada.” Jawabku ketus.

“Hmm tidak ada? Di KTP-mu tertulis Kristen?” Ibu Angel bertanya lagi, kali ini dengan mengernyitkan dahinya.

“Itu hanya formalitas. Agama saya adalah Cinta Kasih. Dan maaf Bu sebelumnya, saya kira ini tidak perlu dibahas.” Jawabanku membuat Ibu Angel menjadi kaget. Calon karyawan sudah berani berkata tegas kepada HRD yang akan menentukan nasibku diterima atau tidak di perusahaannya.

“Oke. Wawancaranya telah selesai. Saya akan kabari hasilnya dalam satu hingga dua minggu ke depan.” Ibu Angel tiba-tiba menghentikan sesi wawancara kerja ini.

“Terima kasih, Ibu Angel. Maaf jika ada salah kata.” Aku pun segera bangkit dari kursi dan meninggalkan ruangan Ibu Angel.

“Terima kasih.” Kami saling berjabat tangan.

Itu adalah wawancara kerjaku yang kesekian kalinya. Entahlah, aku tidak mau menghitungnya. Sudah dua bulan aku menganggur. Setelah bisnis café yang aku jalani mengalami kerugian, aku memutuskan untuk menutupnya dan mencari pekerjaan.

Baiklah, sebelum melanjutkan ceritaku, aku ingin memperkenalkan diriku. Namaku Yudas Iskandar. Umur 24 tahun. Masih jomblo, sejak diselingkuhi oleh seorang mantan dua tahun yang lalu. Namanya Bunga Bangkai (bukan nama yang sebenarnya). Dia selingkuh dengan cowok bernama Monyet (bukan nama sebenarnya) yang lebih tajir dariku. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk fokus mencari uang dulu dan menjadi mapan secara finansial agar wanita tidak memandangku sebelah mata.

Setelah interview tadi, wajah Ibu Angel sesekali menyelinap ke dalam pikiranku. Aku tidak suka dengan sikapnya tadi yang bertanya tentang agama, tapi aku berharap aku dapat diterima bekerja di sana. Karena aku sudah lelah jika harus mendatangi dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mengikuti sesi psikotest dan interview yang membosankan. Semoga ini yang terakhir.

Singkat cerita, satu minggu kemudian aku mendapat panggilan dari Ibu Angel bahwa aku diterima di sana. Akhirnya, setelah dua bulan lebih menganggur, aku dapat kembali bekerja.

Pekerjaanku sekarang adalah seorang jurnalis online. Aku sangat ingin mengembangkan bakat menulisku dan menyalurkan rasa ingin tahuku yang lebih akan hal-hal yang sedang terjadi. Di bulan pertama masa percobaan ini, aku diminta untuk menulis berita mengenai politik. Sebuah tantangan yang aku suka.

“Pak Yudas, sendirian aja?” Ibu Angel tiba-tiba berada di depanku dan mengusik lamunanku.

“Eh, Ibu. Iya, hehe.” Aku menjawab sambil berpura-pura terkekeh.

“Jurnalis itu harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Jangan sendirian aja. Gue daritadi merhatiin lo gak aktif berkenalan dengan yang lain.” Ibu Angel tiba-tiba menasihatiku dan sok akrab dengan memanggil “gue, lo”.

“Ibu merhatiin saya? Hehe.” Aku coba mengalihkan pembicaraan. Ibu Angel tampak salah tingkah.

“Hanya ingin tahu karyawan baru seperti apa, sih yang gue terima.”

“Namanya juga anak baru, Bu. Masih kalem di awal, hehe. Lah, ibu Angel juga sendirian aja, nih?”

“Eh. Iya. Gue beli makan dulu ya, bungkus. Panggil gue Angel aja. Gak usah terlalu formal.”

“Emangnya kita seumuran?”

“Kurang lebih.” Ibu Angel, eh Angel kemudian langsung membalikkan badan dan menghampiri salah satu tempat makan di kantin karyawan ini.

Sejak itu, hubungan aku dan Angel menjadi dekat. Ketika jam pulang kantor, aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang dengan motorku. Kebetulan jalan ke kosnya searah dengan kosku.

“Yudas?” Angel menghentikanku.

 “Iya?”

“Aku boleh main ke kosmu?”

“Heee. Boleh. Kok tumben?”

“Iya, bosen.”

“Oh. Oke.”

Sepanjang perjalanan, aku dan Angel menyibuk-nyibukkan diri dengan pikiran masing-masing. Tidak ada terjadi percakapan apapun. Entah kenapa aku merasa salah tingkah.

Sesampainya di kosku, aku langsung menghidupkan televisi yang ada di kamarku. Wajah Angel tampak tidak secerah biasanya. Jadi aku agak segan mengajaknya bicara.

“Das, berantakan banget kamar lo?” Angel tiba-tiba membuka pembicaraan.

“Maklum, anak cowok.”

“Alasan nggak logis bawa-bawa gender.”

“Tapi faktanya kan rata-rata cowok males beres-beres.”

“Survei dari mana?”

“Dari semua teman cowok gue.”

“Ya elah. Bisanya lo aja itu.”

“ Angel, kok tumben lo mau ke kosan gue?”

“Emangnya nggak boleh?”

“Nanya doang. Kita mau ngapain sekarang?”

“Ngobrol aja kek sambil nonton TV.”

Okay. By the way, lo kok nerima gue pas melamar kerja?”

“Karena kita lihat lo berbakat, ya walaupun nyebelin, nyolot pas ditanya agamanya apa.”

“Oh. Gue nggak suka ditanya soal agama.”

“Kenapa?”

“Gue nggak punya agama!”

“Kenapa? Lo nggak percaya Tuhan?”

“Nggak beragama bukan berarti nggak percaya Tuhan, kan?”

“Maksud lo?”

“Agama itu nggak memberikan kedamaian. Agama malah menyebabkan berbagai masalah di dunia ini. Lo lihat kan di mana-mana banyak konflik karena perbedaan agama, bahkan orang yang seagama sekalipun saling berselisih.”

“Oh, okay. Agama memang terkadang membuat orang terpisah. Tapi, yang gue tanya adalah lo percaya Tuhan atau nggak?”

“Peduli amat lo mau gue ber-Tuhan atau nggak?”

“Gue cuma tanya. Sewot amat lo!”

Sorry. Gue agak males kalau ngomongin agama atau Tuhan. Nggak ada habisnya. Lo liat aja artikel yang gue tulis, kalau ada menyangkut SARA pasti rame orang yang beradu komentar, saling merasa paling benar.”

“Terus lo jadi nggak beragama dan nggak percaya Tuhan gara-gara itu?

“Gue masih percaya Tuhan. Gue cuma nggak mau manusia mengatur hubungan gue dengan Tuhan melalui agama ini atau itu.”

“Gue bingung sekarang. Jadi, gimana lo bisa percaya Tuhan kalau lo sendiri nggak beragama?”

“Kalau kita berbicara tentang percaya Tuhan, itu berbicara tentang iman. Sedangkan agama hanyalah status yang dibuat manusia untuk menunjukkan identitas spiritual seseorang. Padahal untuk mengukur kadar rohani seseorang, bukanlah dilihat dari agamanya apa, tapi bagaimana dia hidup.” Aku menatap Angel serius.

I see. Jadi, maksud lo kalau orang yang beragama belum tentu ber-Tuhan, dan orang yang ber-Tuhan nggak harus beragama?”

“Lebih tepatnya, orang yang beragama belum tentu memiliki Cinta Kasih, dan orang yang ber-Tuhan pasti memiliki Cinta Kasih. Karena ajaran Tuhan yang terutama adalah Cinta Kasih. Percuma dong kalau beragama, tapi malah membenci dan mudah menghakimi orang lain. Padahal setiap orang itu berdosa, cuma caranya berbeda.”

Okay. Iya, sih. Tapi yang salah itu orangnya, bukan agamanya juga. Menurut gue, dengan beragama kita jadi lebih mengenal mana yang baik dan benar, sehingga jadi lebih dekat dengan Tuhan.”

“…”

“Yudas?"

“Eh, Suntuk gue bahas beginian. Ganti topik yuk. Lo sendiri  kenapa hari ini beda?”

“Lah, kenapa jadi bahas tentang gue?”

“Habisnya mimik wajah lo bĂȘte aja seharian ini.”

“Gue baru aja putus.”

“Oh, lo uda punya pacar?”

“Sekarang nggak.”

“Kenapa putus?”

“Gue yang mutusin. Dia selingkuh.”

“Emangnya itu cewek lebih cantik dari lo?”

“Emangnya gue cantik, Yudas? Hahaha.”

“Duh, salah ngomong gue.”

“Sialan lo.”

“Hahaha.”

“Kita bahas yang lain aja ya? Biar gue bisa move on.”

“Ya sudah. Kita lanjut nonton TV aja ya.”

“Channel V dong. Denger lagu aja kita.”

“Terserah lo.”

* * *

Entah kenapa, gara-gara Angel menyinggung soal agama dan Tuhan, ada satu perasaan yang bergejolak di ujung hati nuraniku yang sejak lama tak tersentuh. Aku menjadi sadar bahwa ada satu bagian dalam diriku yang telah lama hilang. Suara-suara kecil di dalam batinku dikalahkan oleh keributan di dalam pikiranku. Logikaku telah mengambil alih kehidupanku.

Sejak kecil, otakku sudah diisi dengan berbagai pengajaran Kristen. Aku rajin ke gereja dan bahkan aku mengambil bagian dalam pelayanan. Namun, semua paham yang aku terima sedari kecil mulai luntur perlahan-lahan sejak aku dewasa dan merantau kuliah ke Jakarta.

Aku semakin malas ke gereja. Dan setahun belakangan ini, aku memutuskan untuk meninggalkan agama yang aku anut sejak lahir.

“Angel?” Suatu malam di kosnya.

“Iya, Yudas?”

“Eh, besok gue ikut lo ke gereja, ya?”

“Wow! Beneran?”

“Iya.”

“Padahal gue cuma iseng ajakin lo waktu itu?”

“Entah kenapa, gue kangen suasana Paskah.”

“Kangen apanya?”

“Gue udah lama nggak merasakan hadirat Tuhan?”

“Tumben lo mau ngomongin Tuhan lagi?”

Mataku mulai berkaca-kaca. Tidak mudah untuk jujur dengan perasaan, apalagi menunjukkan sisi rapuh seorang pria dihadapan wanita. Menangislah bila harus menangis, tapi aku coba menahannya. Aku memalingkan wajahku dan menyeka air mataku yang tertahan.

“Angel, gue sebenarnya males ngomongin agama. Gue bukan nggak percaya Tuhan. Gue sangat menyadari keberadaan-NYA. Tapi, gue bingung bagaimana caranya gue bisa dekat sama DIA kalau gue nya nggak beribadah. Betul juga kata lo, dengan beragama kita jadi lebih mengenal mana yang baik dan benar, sehingga jadi lebih dekat dengan Tuhan.”

“Gue dulu sempat berpikiran yang sama kayak lo. Agama kadang malah bikin ribet, tapi gue percaya ada kebenaran atas apa yang diajarkan dalam agama. Gue percaya alkitab itu isi hati Tuhan. Jadi, sampai saat ini gue memutuskan untuk stay. Gue tetap beragama, tapi iman gue bukanlah nama agama gue, tapi nama Tuhan gue.”

“Nah, itu dia. Mindset. Pola pikir lo mirip dengan gue. Gue kecewa dengan orang-orang yang sering membawa nama agama, tapi malah menyakiti sesamanya. Gua kadang bingung, yang salah agamanya, orangnya, atau Tuhannya?”

“Yang salah itu bukan agamanya. Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, atau agama apapun, pasti mengajarkan kebaikan. Masalahnya ada di orangnya yang mempelajari agama itu dengan sudut pandangnya yang salah.”

“Yap. Mereka itu yang  malah men-Tuhankan agamanya, bukannya men-Tuhankan sosok Pribadi Tuhan itu sendiri. Jadinya mereka malah lupa untuk berbuat Cinta Kasih.”

“Waduh, berat banget bahasan kita. Yang pasti, lo besok jadi ke gereja?”

“Iya, gue mau rayain Paskah. Menurut gue, bukti Cinta Kasih terbesar dan paling nyata di dunia adalah pas Paskah ini. Tuhan mengorbankan nyawa-NYA demi manusia yang berdosa.”

“Hmm. Lo kok jadi aneh?”

“Aneh gimana?”

“Cara berpikir lo sepertinya berubah.”

“Beberapa bulan ini gue merenungkan kata-kata lo waktu itu. Tapi kalau gue ke gereja lagi, bukan berarti gue bakal bangga dengan agama, tapi gue bangga dengan pengajaran-NYA.”

Okay. Lo bikin gue bingung mau ngomong apa, hahaha.”

“Hahaha. Besok jam 8 pagi, kan?

“Iya. Jangan telat ya.”

“Sip. Gue besok jemput lo di kosan.”

Thanks.”

Anyway, thanks ya udah jadi orang yang gue percaya untuk discuss soal agama dan Tuhan.”

“Gue senang kita bisa saling share apa yang kita rasakan dan yang kita pikirkan.”

Aku memegang tangannya dan kemudian menatapnya dalam. Angel tersenyum kepadaku. Aku pun membalasnya. “Thanks Angel. See you tomorrow.”

See you, Yudas.” Aku melepaskan genggaman itu dan kemudian kami berpisah.

"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” – 1 Korintus 13:13

Selasa, 20 Oktober 2015

Menjadi Generasi Media Sosial yang Berbagi Cinta Kasih


Media sosial semakin berkembang dan populer belakangan ini berkat kemajuan internet dan gadget. Internet sudah bukan lagi hal yang hanya bisa diakses oleh masyarakat perkotaan, tetapi masyarakat pedesaan juga sudah banyak yang akrab dengan internet. Apalagi kini tersedia beragam gadget, baik itu komputer, laptop, atau smartphone untuk mendukung aktivitas berselancar di dunia maya. Akibatnya, proses komunikasi dan persebaran informasi semakin merata, cepat, dan mudah ke seluruh dunia. Namun masalahnya, tidak semua orang memanfaatkan internet dan gadget dengan baik dan benar.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya mengenai penggunaan internet dan gadget adalah tren media sosial. Banyak sekali pengguna internet atau netizen yang merupakan generasi kekinian membuat berbagai akun media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Google+, dan sebagainya. Melalui beragam media sosial tersebut, netizen bisa saling menjalin silaturahmi secara instan. Namun kemudahan interaksi melalui media digital terkadang malah disalahgunakan oleh beberapa orang.

Sebagai informasi, saat ini total jumlah penduduk dunia sekitar 7,3 miliar jiwa dan sekitar 3,1 miliar orang sudah menggunakan internet, serta sekitar 2,2 miliar orang merupakan pengguna aktif media sosial. Sementara Facebook menjadi media sosial terpopuler dengan pengguna sekitar 1,5 miliar di seluruh dunia. Lebih dari 1 miliar orang pengguna Facebook tersebut, banyak yang bermain media sosial lainnya. Maka tak heran jika total jumlah pengguna media sosial mencapai lebih dari 2 miliar orang. Jumlah yang sangat banyak. Namun sekali lagi, hal tersebut menimbulkan masalah karena tidak sedikit yang menggunakan media sosial untuk merugikan orang lain.

Saya berfokus terhadap penggunaan media sosial karena media sosial menjadi wadah banyak pengguna internet untuk berekspresi, berinteraksi, dan bereaksi terhadap hal apapun. Ada yang menggunakannya untuk hal-hal positif, seperti mengunggah karya-karyanya, berbisnis,  menyampaikan opini yang bersifat membangun, membagikan berita terkini, sekadar untuk menjalin hubungan dengan orang lain atau membagikan gambar, video, status tentang kehidupan sehari-harinya. Namun ada juga yang menyalahgunakannya untuk hal-hal yang negatif, seperti menyebarkan kebencian, fitnah, dan bullying.

Memang setiap orang bebas dan berhak untuk melakukan apa saja dengan media sosialnya, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Namun ada orang yang dengan santainya menggunakan media sosial seenaknya, meskipun dia sedang menggunakan akun dengan nama aslinya. Ada juga yang mencari aman untuk melakukan sesuatu yang tidak pantas dengan membuat akun anonim atau akun palsu sehingga orang lain tidak tahu siapa dirinya. Padahal akun seperti itu juga bisa diselidiki siapa pemilik sebenarnya dan kemudian dituntut secara hukum.

Meskipun sebenarnya ada hukum yang dapat menjerat orang-orang yang menggunakan media sosial untuk maksud yang tidak baik, misalnya di Indonesia ada Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dapat menjerat pelaku penyalahgunaan internet yang merugikan orang lain. Akan tetapi, UU ITE tersebut masih belum sepenuhnya efektif membuat orang-orang takut dan jera melakukan tindakan yang tidak benar melalui media sosial.

Lantas, bagaimana caranya agar generasi media sosial dapat memanfaatkan akunnya untuk menyebarkan hal-hal positif dan bukan hal-hal negatif? Jawabannya tentu saja dimulai dari diri sendiri. Misalnya, saya belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain hanya karena sesuatu yang ditampilkan di akun media sosialnya. Atau saya belajar untuk tidak mengungkapkan kekesalan kepada seseorang dengan cara menuliskan kejelekannya atau membuat fitnah melalui media sosial. Karena saya bisa memilih untuk memaafkan dan mengomunikasikan masalah pribadi secara personal dengan orang yang bersangkutan, dan bukan malah menyebarkan masalah pribadi dengan seseorang secara terbuka melalui media sosial yang dapat dilihat oleh semua orang.

Selain itu, saya harus belajar mengontrol pikiran saya untuk tidak cepat menilai seseorang hanya dari apa yang ada di akun media sosialnya. Bahkan saya juga harus menjaga jari-jari saya untuk tidak sembarangan mengetikkan sesuatu untuk dikirimkan melalui media sosial yang dapat menyakiti perasaan orang lain. Karena belum tentu apa yang saya pikirkan adalah benar. Bisa saja saya salah menilai seseorang karena media sosial adalah dunia maya yang terbatas untuk menafsirkan realita tentang kehidupan seseorang.

Salah satu contoh adalah mengenai akun artis idola saya Agnes Monica (Agnez Mo). Saya memang menyukainya sehingga mengikuti semua aktivitasnya di media sosial. Namun bukan berarti saya mengenal Agnez secara pribadi dan berhak mengomentari kehidupan yang ia bagikan melalui media sosial. Karena apa yang Agnez publikasikan di media sosial hanyalah sebagian dari privasinya. Sementara ada bagian dari kehidupannya yang tertutup hanya untuk dirinya dan orang-orang yang dia percaya.

Sehingga saya pun membuat batasan mengenai apa yang baik untuk saya komentari dan apa yang sebaiknya saya tidak ikut campur. Meskipun sebenarnya,  terkadang muncul rasa keingintahuan yang berlebihan dan membuat saya terkadang ingin terlalu jauh mengomentari seseorang yang tidak saya kenal secara personal. Namun jika pada akhirnya saya ingin menyampaikan pendapat, saya harus berhikmat untuk memilih kata-kata membangun berupa saran yang positif, dan bukan kata-kata negatif yang menjatuhkan. Sebab saya harus ingat bahwa saya hanyalah seorang pengamat, bukan hakim atas hidup seseorang.

Itulah sebabnya, saya senang sekali dengan gerakan generasi cinta kasih #AMgenerationOfLOVE yang Agnez Mo cetuskan melalui Instagram @agnezmo. Menurut saya, gerakan tersebut sangat inspiratif dan dapat diterapkan dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan di media sosial.  Tidak hanya untuk pengguna media sosial di Indonesia, tetapi bahkan di seluruh dunia.

Bayangkan, jika semua pengguna media sosial di dunia ini menjadi generasi penuh cinta, maka media sosial bisa menjadi wadah yang menyenangkan untuk menjalin hubungan baik antar sesama. Namun sebaliknya, jika lebih dari dua miliar pengguna media sosial yang ada malah saling menyakiti, maka kekacauan akan semakin menjadi-jadi. Karena apa yang terjadi di dunia maya akan berdampak ke dunia nyata.

Namun terlalu muluk jika mengharapkan perubahan terjadi di seluruh dunia, jikalau kita sendiri tidak mulai berubah menjadi generasi cinta. Saya berharap gerakan generasi media sosial yang menjadi generasi cinta bisa dimulai dari Indonesia terlebih dahulu. Karena dampaknya akan sangat besar jika kita berani mengambil keputusan mencintai dalam segala kondisi apa pun dan memanfaatkan fasilitas di media sosial untuk membagikan cinta kasih yang sarat akan perdamaian.

Sebagai informasi, jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 88 juta orang dari 250 juta populasi di Indonesia. Ini berarti sekitar 35 persen penduduk Indonesia sudah mengenal internet dan sebagian besar juga menggunakan media sosial. Hebatnya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak dan teraktif di dunia. Makanya, tidak heran jika netizen Indonesia sering sekali menghebohkan media sosial, seperti membuat trending topic dunia di Twitter. Bayangkan jika semua pengguna media sosial sehati untuk menggunakan media sosial untuk tujuan yang baik, maka Indonesia bisa memberikan pengaruh positif kepada masyarakat dunia, hanya melalui media sosial.

Namun sayangnya tidak semua orang Indonesia menggunakan media sosial dengan baik. Makanya, masih cukup sering kita melihat fenomena pengguna media sosial yang menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur seksual, agama, atau rasisme untuk menyerang dan menjatuhkan seseorang atau golongan. Dengan media sosial, orang-orang yang tidak bertanggung jawab menyalahgunakan kesempatan dan fasilitas media sosial untuk menyebarkan kebencian. Sangat mudah dan praktis, hanya dengan akses internet dan gadget, seseorang bisa merugikan orang lain yang dia benci, tanpa harus dia temui secara langsung.

Padahal, setiap orang harus tetap menjaga sopan santun dan saling menghargai, baik itu di dunia nyata, maupun di dunia maya. Alangkah indahnya hidup ini jika dunia maya membantu kita semua menjalin hubungan baik dengan sesama. Karena sebenarnya itulah salah satu manfaat dunia maya, yaitu menyatukan seseorang dengan orang lain di mana pun. Dunia terasa sempit, karena dunia maya membuat yang jauh terasa lebih dekat. Akan tetapi, ironisnya media sosial malah bisa membuat hubungan antara satu dengan yang lain menjadi rusak. Karena saking mudahnya menggunakan media sosial, seseorang terkadang menjadi lupa untuk bersosialisasi dengan sewajarnya.

Sehingga yang perlu ditekankan adalah jadilah pengguna media sosial yang pintar. Jangan hanya gadget-nya yang pintar alias smartphone, tetapi konten yang disebarkan melalui media sosial juga haruslah bermanfaat dan berbobot. Jangan menjadi seseorang yang tidak bijaksana yang sesuka hati menampilkan hal apa pun di media sosial tanpa memperhatikan norma.

Untuk itu, kita perlu menjadi orang yang mengutamakan cinta di atas segalanya. Memang tidak mudah menerapkan cinta kasih. Namun hal terbesar di dalam dunia ini adalah cinta. Jika kita ingin melihat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik dan bisa hidup dengan damai, maka sebarkanlah cinta kasih melalui cara apa pun. Belajarlah mengesampingkan ego kita, dan mulai mencintai orang lain terlebih dahulu. Bukan hanya kepada orang-orang yang mencintai kita, melainkan juga kepada orang-orang yang menyakiti kita; kita pun harus mencintainya dengan cara mengampuni kesalahannya.

Jadi, mari kita semua sama-sama belajar untuk saling mengasihi kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Baik itu saat bertemu dengan orang lain secara langsung, maupun melalui media sosial yang virtual. Karena ingatlah, suatu informasi mudah sekali dan sangat cepat menyebar melalui media sosial. Maka dari itu, jangan sampai kita menyalahgunakannya untuk menyebarkan hal-hal negatif, seperti kebencian yang dapat memecah belah perdamaian. Namun manfaatkanlah kecanggihan teknologi informasi untuk menjadi sarana berbagi kebaikan kepada lebih banyak orang.

Berikut ini adalah kata-kata dari gerakan cinta kasih #AMgenerationOfLOVE oleh Agnez Mo!

I am loved (Aku adalah cinta).
I am generation of love (Aku adalah generasi cinta).
I don't hate (Aku tidak membenci).
I don't gloat over my brother in the day of his misfortune (Aku tidak merasa senang saat saudaraku ditimpa kemalangan).
I don't take pleasure in seeing people's trouble (Aku tidak berbahagia ketika orang lain sengsara).
I am generation of love (Aku adalah generasi cinta).
I love (Aku mencintai).
I forgive (Aku memaafkan).
Hatred is my enemy (Kebencian adalah musuhku).
Love is my bullet (Cinta adalah peluruku).
I will change the world (Aku akan mengubah dunia).
And the change starts within me (Dan perubahannya dimulai dari diriku sendiri).
I am generation of love (Aku adalah generasi cinta).
This is my oath (Ini adalah sumpahku).