Sabtu, 17 Januari 2015

Hal-Hal Ini Bikin Kita Mudah Menghakimi Orang Lain


Permusuhan, diskriminasi, bully-ing, perang, dan berbagai macam tindakan yang didasari pada kebencian terjadi di mana-mana. Dunia semakin penuh dengan rasa anti-empati terhadap seseorang atau kelompok yang berbeda menurut pandangannya.

Lantas, apa yang membuat banyak orang membatasi dirinya untuk mencintai, mengasihi, menyayangi, menghormati, dan menghargai orang lain? Mengapa kebencian lebih berkuasa dibandingkan rasa saling mengasihi sesama manusia?

Padahal kita lebih bermartabat daripada binatang. Punya akal dan budi yang (seharusnya) dapat berpikir lebih terbuka dalam memahami bahwa tidak ada seorangpun di dunia yang lebih superior dan yang lainnya inferior.

Namun, sepertinya masih banyak yang menutup mata terhadap perbedaan dan akhirnya pintu hatinya juga tertutup sehingga tidak dapat melihat bahwa sebenarnya kebahagiaan adalah ketika kita dapat menerima seluruh alam semesta dan segala isinya dengan apa adanya.

Berikut ini ada 5 hal yang menurut gue membuat kita seringkali mudah menghakimi orang lain yang berbeda dengan diri kita. Sehingga pada akhirnya kita berasumsi negatif dan menutup kesempatan untuk menerima perbedaan.

Agama

Agama seharusnya menjadi pedoman kita untuk belajar tentang kebenaran, kebaikan, dan kasih sayang antara sesama manusia yang diwariskan oleh Sang Pencipta. Namun ironisnya, agama yang dijunjung tinggi oleh mayoritas warga dunia malah menjadi carmuk perpecahan dan hilangnya rasa kemanusiaan yang adil dan beradab.

-       Agama A teroris. Agama B sok suci.
-       Membunuh karena agama, mengatasnamakan Tuhan.
-       Lo nggak punya agama, ateis. Pasti masuk Neraka.
-       Kafir. Haram.
-       Dasar penyembah berhala.
-       Saling merasa paling benar dan ber-Tuhan.

Free expression doesn't mean right to insult others' faith. Killing "in the name of God" is wrong, but it is also wrong to "provoke" people by belittling their religion. - Pope Francis

Suku

-     Dia kan Pribumi. Dia kan Cina. Dia kan Arab, Dia kan Bule. Pasti orangnya begini begitu, deh!
-       Jeleknya tuh orang hitam banget.
-       Orang kulit putih rasis semua.
-       Dasar sipit, kuning langsat, sok cakep.
-       Sok eksotis, padahal kulitnya sawo busuk, bukan sawo matang.
-      Jangan berteman dengan dia. Jangan dekat dengan dia. Atau jangan menikah dengan suku A, atau kamu nggak Papa/ Mama anggap anak lagi.

Begitulah gambaran orang yang rasis dan menghakimi seseorang berdasarkan suku/ etnis/ rasnya. Padahal seharusnya stereotipe buruk terhadap suku-suku tertentu harus sudah ditinggalkan.

Fisik/ Mental

Ada orang yang tega menghina orang lain yang memiliki kekurangan fisik. Bukannya timbul simpati dan belas kasihan, malah dengan sengaja mengolok-olok.
-       Yang jelek, dibilang muka pembantu.
-       Yang gendut diejek gentong, gajah, dsb.
-       Yang kurus diejek kurang gizi, tengkorak.
-       Yang cantik/ ganteng dianggap modal tampang doang.
-       Yang muka pas-pasan dibilang sok cakep.
-       Yang cacat, nggak punya tangan/ kaki, buta, bisu dijauhi teman-temannya karena dianggap menyusahkan.
-       Anak autis/ bipolar dianggap idiot dan diejek orang gila.

Status Sosial

-  Yang kaya ogah berteman dengan yang miskin. Yang miskin menganggap yang kaya itu sombong.
-    Cewek incar cowok yang bawa mobil. Yang bawa motor atau angkot dipandang sebelah mata.

Orientasi Seksual

Orang yang LGBT, Lesbian-Gay-Biseksual-Transgender atau banci atau bencong ada di sekitar kita. Mereka yang kita anggap abnormal menjadi target bully-ing dan hinaan karena menganggap diri kita terlahir Straight alias normal.

Masalah dosa karena mereka melenceng dari kodrat, itu seharusnya bukan urusan kita dengan menghakimi secara membabi buta. Mereka juga sadar kalau mereka berbeda dengan orang kebanyakan.

Jadi yang sewajarnya kita lakukan adalah tidak mengolok-olok kekurangan para LGBT. Karena belum tentu kita yang Straight hidupnya lebih ‘lurus’ dibandingkan mereka yang kita anggap ‘belok’.

SALAM PERBEDAAN, GUYS! :)

Tidak ada komentar: