Selasa, 03 Maret 2015

Sampaikanlah Cinta!

#CeritaPendek #Fiksi
Perasaan itu masih ada. Meskipun telah ternoda oleh dusta dan hatiku terluka, aku masih menyimpannya dalam bungkus rahasia antara aku, Tuhan, dan masa lalu.

Aku tidak dapat melupakan setiap memori yang terlanjur terekam di dalam pikiranku yang kacau karenanya. Realita ini memaksaku untuk menerima hal-hal yang tidak pernah aku duga dan melupakan impian yang dahulu aku anggap sempurna.

Cinta? Itukah kata yang tepat untuk menyimpulkan segala prahara yang memporak-porandakan hidupku satu tahun ini? Tidakkah harusnya cinta dipenuhi oleh rasa bahagia, bukan malah putus asa?

Lantas, apakah cinta itu sebenarnya? Atau jangan-jangan cinta itu tidak pernah ada? Mungkin saja ia hanyalah legenda dan cerita orang tua yang berusaha menghibur diri karena dunia ini adalah sebuah panggung sandiwara.

Ah, cinta! Aku hanya mengada-ngada. Selalu saja bertanya apa itu artinya dan kemudian menyambungnya dengan pertanyaan lainnya. Tak pernah aku menemukan jawaban yang merupakan kesimpulan atas semua pertanyaan tentangnya.

Tidak ada pernyataan arti cinta yang jelas. Tidak ada yang dapat membantuku memahaminya. Hingga suatu ketika aku mengalaminya sendiri. Cinta itu ada. Benar-benar ada. Namun, aku telat menyadarinya. Aku terlambat mengungkapkannya.

Februari 2014

Sebuah undangan pernikahan berada di atas meja kantorku. The Wedding of Mr. X and Ms. Y. Aku tak menyangka secepat ini. Dua minggu lagi mereka akan menikah. Beraninya mereka mengundangku untuk menyaksikan mereka bahagia, sedangkan aku mengelus dada.

“Lo akan datang, Vin?” tanya Milla yang menatapku iba.

“I don’t know,” jawabku singkat, tak bersemangat.

“Lupakanlah, Vin! Biarkan mereka bahagia.”

“Gue sudah move on, La. Hanya saja gue sudah nggak menganggap mereka pantas mendapatkan waktu gue.”

“Mereka mungkin juga nggak mengharapkan kedatangan lo, Vin. Hanya sebagai pemberitahuan kalau mereka akan menikah. Walaupun begitu, sebaiknya lo pergi.  Buktikan bahwa lo bukan orang yang lemah ketika kalah dalam cinta.”

“Gue nggak kalah, La. Gue hanya belum berhasil menemukan orang yang tepat.”

Februari 2013

Aku tidak pernah menyangka bahwa sahabat yang paling aku percaya tega mengkhianatiku. Kepercayaan yang aku beri semua, dianggapnya cuma-cuma. Ternyata kita mencintai wanita yang sama.

Mr. X tahu bahwa aku cinta kepada Ms. Y. Selama ini, aku selalu menceritakan kepada X tentang perasaanku kepada Y. Namun, apa yang aku terima? Diam-diam aku dikhianatinya.

Dari awal aku berkenalan dengan Y hingga akhirnya aku jatuh cinta dan berusaha mendekatinya, X selalu menjadi orang pertama yang tahu apa yang aku perjuangankan. Aku begitu terbuka dengan X karena aku telah menganggapnya orang yang tepat untuk berbagi tentang apa yang aku sedang alami.

“Loh, lo di sini? Ngapain kalian?” tanyaku heran ketika menyaksikan Y berada di kamar X dan mereka sedang berpegangan tangan. Saat itu, aku tiba-tiba mengunjungi kos X, tanpa memberitahukannya terlebih dahulu. Kamarnya memang tidak dikunci. Bermaksud untuk memberikannya kejutan, tetapi malah aku yang terkejut menyaksikan apa yang ada dihadapanku.

X dan Y tampak panik, kemudian segera saling melepaskan genggaman tangan mereka. “Eh….Y mau pinjam buku, Vin, makanya dia datang.” Jawab X tanpa menatap mataku.

“Buku apa? Tumben baca buku Y?” Aku tidak percaya.

“Bu-ku…Super-nova, Vin,” jawab Y ragu.

“Itu kan buku gue, Y. Kenapa nggak bilang X kalau Y mau pinjam?”

“Baru mau kabarin. Pas kan lo nya datang sekarang.”

“Gue pulang dulu ya, X, Vin. Ada janji ketemu teman sebentar lagi,” tiba-tiba Y bergegas pamit.

“Oke. Bye, Y!” X membalas Y.

Aku diam saja dibakar cemburu. Baru saja Y pergi dari hadapan kami, aku sudah tak sabar mencari tahu apa yang telah disembunyikan dariku.

“Kampret! Maksud lo apa?” Aku tak dapat lagi menahan kemarahanku.

“Sorry, Vin. Gue juga suka sama Y.” Entah mengapa aku tidak melihat ada raut wajah menyesal yang teramat dalam dari dirinya.

“Pantesan! Kalian sering banget BBM-an. Kemarin-kemarin pas gue mau nembak dia, lo melarang. Ternyata…”

“Gue ngaku salah. Gue juga cape diam-diam suka begini.”

“Alasan! Harusnya lo ngaku aja dari dulu. Sahabat macam apa, lo?” Aku sudah tidak tahan lagi. Selama ini kecurigaanku ternyata benar. Bodohnya aku terlalu percaya dengan orang yang salah. Aku pun segera beranjak meninggalkan Y yang terdiam tak berkutik.

Tanpa kusadari, kedua tanganku mengepal. Ingin rasanya aku meninju tembok yang ada di depanku. Bukan hanya aku kehilangan kepercayaan terhadap sahabatku, tetapi aku juga mulai putus asa dengan perjuangan cintaku kepada Y.

Tak dapat aku pungkiri, dari gelagat Y selama ini, sepertinya Y juga menyukai X. Pantas saja dia jarang sekali bersedia aku ajak pergi berdua, kecuali bila Y ikut menemani.

Aku naïf.  Terlalu berharap. Sahabat yang setia itu tidak ada. Padahal kami telah saling mengenal selama 10 tahun, tetapi hanya karena wanita yang baru kami kenal 2 tahun, ia tega melukai sahabatnya sendiri. X tidak pantas aku sebut lagi sahabat.


The Wedding Day

Aku dan Milla telah hadir di resepsi pernikahan X dan Y. Aku berusaha tersenyum menyaksikan kemeriahan pesta malam ini. Teman-temanku tampak terkejut ketika aku datang karena mereka sudah tahu bagaimana konflik yang sempat terjadi di antara kami bertiga. Mereka bahkan lebih terkejut ketika aku memperkenalkan Milla kepada mereka.

Aku sengaja mengajak Milla untuk hadir menemaniku. Aku tidak mau datang sendirian. Lagi pula, ia yang sedikit memaksaku untuk hadir malam ini.

Setelah meluangkan waktu sebentar bercengkerama dengan teman-teman lama, aku dan Milla menuju antrian para tamu yang ingin menyalami kedua mempelai. Hingga pada giliranku, aku pun menyalami X dan Y dan mengucapkan selamat tanpa berbasa basi. “Congrats!” ucapku singkat dengan senyuman tipis di pipiku.

“Thanks for coming, Vin,” balas X.

“Thanks you, Kevin.” balas Y.

Mereka tampak biasa saja menyaksikan kehadiranku. Aku tidak terlalu peduli lagi dengan apa yang ada di perasaan dan pikiran mereka tentang diriku. Sehabis bersalaman, aku dan Milla bergegas pulang tanpa mencicipi makanan. Aku memang tidak ingin berlama-lama di sana.

“Sudah lega, Vin?” tanya Milla padaku di parkiran mobil.

“Sudah, La. Makasih ya mau temani malam ini."

Milla hanya membalasku dengan senyuman manis yang terukir dengan lesung pipit indah yang menghias kedua pipinya. Kenapa malam ini ia tampak lebih cantik daripada biasanya?

Milla adalah teman kantorku. Sudah setahun ini aku mengenalnya. Seiring berjalannya waktu, kami berdua saling merasa cocok sehingga dapat saling terbuka menceritakan masa lalu kami, apa yang sedang kami alami, bahkan impian apa yang ingin kami raih.

Aku merasakan kenyamanan ketika berada di dekatnya, begitu pun sebaliknya. Mungkinkah aku akan jatuh cinta lagi? Dengannya?

Biarkan saja waktu yang menunjukkan iya, niscaya semesta akan merestuinya. Aku juga tidak akan lagi menyia-nyiakan kesempatan dan memendam rasa terlalu lama.

Sampaikanlah cinta, nyatakanlah segera!

Tidak ada komentar: