Selasa, 20 Oktober 2015

Menjadi Generasi Media Sosial yang Berbagi Cinta Kasih


Media sosial semakin berkembang dan populer belakangan ini berkat kemajuan internet dan gadget. Internet sudah bukan lagi hal yang hanya bisa diakses oleh masyarakat perkotaan, tetapi masyarakat pedesaan juga sudah banyak yang akrab dengan internet. Apalagi kini tersedia beragam gadget, baik itu komputer, laptop, atau smartphone untuk mendukung aktivitas berselancar di dunia maya. Akibatnya, proses komunikasi dan persebaran informasi semakin merata, cepat, dan mudah ke seluruh dunia. Namun masalahnya, tidak semua orang memanfaatkan internet dan gadget dengan baik dan benar.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya mengenai penggunaan internet dan gadget adalah tren media sosial. Banyak sekali pengguna internet atau netizen yang merupakan generasi kekinian membuat berbagai akun media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, Google+, dan sebagainya. Melalui beragam media sosial tersebut, netizen bisa saling menjalin silaturahmi secara instan. Namun kemudahan interaksi melalui media digital terkadang malah disalahgunakan oleh beberapa orang.

Sebagai informasi, saat ini total jumlah penduduk dunia sekitar 7,3 miliar jiwa dan sekitar 3,1 miliar orang sudah menggunakan internet, serta sekitar 2,2 miliar orang merupakan pengguna aktif media sosial. Sementara Facebook menjadi media sosial terpopuler dengan pengguna sekitar 1,5 miliar di seluruh dunia. Lebih dari 1 miliar orang pengguna Facebook tersebut, banyak yang bermain media sosial lainnya. Maka tak heran jika total jumlah pengguna media sosial mencapai lebih dari 2 miliar orang. Jumlah yang sangat banyak. Namun sekali lagi, hal tersebut menimbulkan masalah karena tidak sedikit yang menggunakan media sosial untuk merugikan orang lain.

Saya berfokus terhadap penggunaan media sosial karena media sosial menjadi wadah banyak pengguna internet untuk berekspresi, berinteraksi, dan bereaksi terhadap hal apapun. Ada yang menggunakannya untuk hal-hal positif, seperti mengunggah karya-karyanya, berbisnis,  menyampaikan opini yang bersifat membangun, membagikan berita terkini, sekadar untuk menjalin hubungan dengan orang lain atau membagikan gambar, video, status tentang kehidupan sehari-harinya. Namun ada juga yang menyalahgunakannya untuk hal-hal yang negatif, seperti menyebarkan kebencian, fitnah, dan bullying.

Memang setiap orang bebas dan berhak untuk melakukan apa saja dengan media sosialnya, sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Namun ada orang yang dengan santainya menggunakan media sosial seenaknya, meskipun dia sedang menggunakan akun dengan nama aslinya. Ada juga yang mencari aman untuk melakukan sesuatu yang tidak pantas dengan membuat akun anonim atau akun palsu sehingga orang lain tidak tahu siapa dirinya. Padahal akun seperti itu juga bisa diselidiki siapa pemilik sebenarnya dan kemudian dituntut secara hukum.

Meskipun sebenarnya ada hukum yang dapat menjerat orang-orang yang menggunakan media sosial untuk maksud yang tidak baik, misalnya di Indonesia ada Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang dapat menjerat pelaku penyalahgunaan internet yang merugikan orang lain. Akan tetapi, UU ITE tersebut masih belum sepenuhnya efektif membuat orang-orang takut dan jera melakukan tindakan yang tidak benar melalui media sosial.

Lantas, bagaimana caranya agar generasi media sosial dapat memanfaatkan akunnya untuk menyebarkan hal-hal positif dan bukan hal-hal negatif? Jawabannya tentu saja dimulai dari diri sendiri. Misalnya, saya belajar untuk tidak mudah menghakimi orang lain hanya karena sesuatu yang ditampilkan di akun media sosialnya. Atau saya belajar untuk tidak mengungkapkan kekesalan kepada seseorang dengan cara menuliskan kejelekannya atau membuat fitnah melalui media sosial. Karena saya bisa memilih untuk memaafkan dan mengomunikasikan masalah pribadi secara personal dengan orang yang bersangkutan, dan bukan malah menyebarkan masalah pribadi dengan seseorang secara terbuka melalui media sosial yang dapat dilihat oleh semua orang.

Selain itu, saya harus belajar mengontrol pikiran saya untuk tidak cepat menilai seseorang hanya dari apa yang ada di akun media sosialnya. Bahkan saya juga harus menjaga jari-jari saya untuk tidak sembarangan mengetikkan sesuatu untuk dikirimkan melalui media sosial yang dapat menyakiti perasaan orang lain. Karena belum tentu apa yang saya pikirkan adalah benar. Bisa saja saya salah menilai seseorang karena media sosial adalah dunia maya yang terbatas untuk menafsirkan realita tentang kehidupan seseorang.

Salah satu contoh adalah mengenai akun artis idola saya Agnes Monica (Agnez Mo). Saya memang menyukainya sehingga mengikuti semua aktivitasnya di media sosial. Namun bukan berarti saya mengenal Agnez secara pribadi dan berhak mengomentari kehidupan yang ia bagikan melalui media sosial. Karena apa yang Agnez publikasikan di media sosial hanyalah sebagian dari privasinya. Sementara ada bagian dari kehidupannya yang tertutup hanya untuk dirinya dan orang-orang yang dia percaya.

Sehingga saya pun membuat batasan mengenai apa yang baik untuk saya komentari dan apa yang sebaiknya saya tidak ikut campur. Meskipun sebenarnya,  terkadang muncul rasa keingintahuan yang berlebihan dan membuat saya terkadang ingin terlalu jauh mengomentari seseorang yang tidak saya kenal secara personal. Namun jika pada akhirnya saya ingin menyampaikan pendapat, saya harus berhikmat untuk memilih kata-kata membangun berupa saran yang positif, dan bukan kata-kata negatif yang menjatuhkan. Sebab saya harus ingat bahwa saya hanyalah seorang pengamat, bukan hakim atas hidup seseorang.

Itulah sebabnya, saya senang sekali dengan gerakan generasi cinta kasih #AMgenerationOfLOVE yang Agnez Mo cetuskan melalui Instagram @agnezmo. Menurut saya, gerakan tersebut sangat inspiratif dan dapat diterapkan dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan di media sosial.  Tidak hanya untuk pengguna media sosial di Indonesia, tetapi bahkan di seluruh dunia.

Bayangkan, jika semua pengguna media sosial di dunia ini menjadi generasi penuh cinta, maka media sosial bisa menjadi wadah yang menyenangkan untuk menjalin hubungan baik antar sesama. Namun sebaliknya, jika lebih dari dua miliar pengguna media sosial yang ada malah saling menyakiti, maka kekacauan akan semakin menjadi-jadi. Karena apa yang terjadi di dunia maya akan berdampak ke dunia nyata.

Namun terlalu muluk jika mengharapkan perubahan terjadi di seluruh dunia, jikalau kita sendiri tidak mulai berubah menjadi generasi cinta. Saya berharap gerakan generasi media sosial yang menjadi generasi cinta bisa dimulai dari Indonesia terlebih dahulu. Karena dampaknya akan sangat besar jika kita berani mengambil keputusan mencintai dalam segala kondisi apa pun dan memanfaatkan fasilitas di media sosial untuk membagikan cinta kasih yang sarat akan perdamaian.

Sebagai informasi, jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai lebih dari 88 juta orang dari 250 juta populasi di Indonesia. Ini berarti sekitar 35 persen penduduk Indonesia sudah mengenal internet dan sebagian besar juga menggunakan media sosial. Hebatnya, Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna media sosial terbanyak dan teraktif di dunia. Makanya, tidak heran jika netizen Indonesia sering sekali menghebohkan media sosial, seperti membuat trending topic dunia di Twitter. Bayangkan jika semua pengguna media sosial sehati untuk menggunakan media sosial untuk tujuan yang baik, maka Indonesia bisa memberikan pengaruh positif kepada masyarakat dunia, hanya melalui media sosial.

Namun sayangnya tidak semua orang Indonesia menggunakan media sosial dengan baik. Makanya, masih cukup sering kita melihat fenomena pengguna media sosial yang menampilkan tulisan atau gambar yang mengandung unsur seksual, agama, atau rasisme untuk menyerang dan menjatuhkan seseorang atau golongan. Dengan media sosial, orang-orang yang tidak bertanggung jawab menyalahgunakan kesempatan dan fasilitas media sosial untuk menyebarkan kebencian. Sangat mudah dan praktis, hanya dengan akses internet dan gadget, seseorang bisa merugikan orang lain yang dia benci, tanpa harus dia temui secara langsung.

Padahal, setiap orang harus tetap menjaga sopan santun dan saling menghargai, baik itu di dunia nyata, maupun di dunia maya. Alangkah indahnya hidup ini jika dunia maya membantu kita semua menjalin hubungan baik dengan sesama. Karena sebenarnya itulah salah satu manfaat dunia maya, yaitu menyatukan seseorang dengan orang lain di mana pun. Dunia terasa sempit, karena dunia maya membuat yang jauh terasa lebih dekat. Akan tetapi, ironisnya media sosial malah bisa membuat hubungan antara satu dengan yang lain menjadi rusak. Karena saking mudahnya menggunakan media sosial, seseorang terkadang menjadi lupa untuk bersosialisasi dengan sewajarnya.

Sehingga yang perlu ditekankan adalah jadilah pengguna media sosial yang pintar. Jangan hanya gadget-nya yang pintar alias smartphone, tetapi konten yang disebarkan melalui media sosial juga haruslah bermanfaat dan berbobot. Jangan menjadi seseorang yang tidak bijaksana yang sesuka hati menampilkan hal apa pun di media sosial tanpa memperhatikan norma.

Untuk itu, kita perlu menjadi orang yang mengutamakan cinta di atas segalanya. Memang tidak mudah menerapkan cinta kasih. Namun hal terbesar di dalam dunia ini adalah cinta. Jika kita ingin melihat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik dan bisa hidup dengan damai, maka sebarkanlah cinta kasih melalui cara apa pun. Belajarlah mengesampingkan ego kita, dan mulai mencintai orang lain terlebih dahulu. Bukan hanya kepada orang-orang yang mencintai kita, melainkan juga kepada orang-orang yang menyakiti kita; kita pun harus mencintainya dengan cara mengampuni kesalahannya.

Jadi, mari kita semua sama-sama belajar untuk saling mengasihi kapan pun, di mana pun, dan kepada siapa pun. Baik itu saat bertemu dengan orang lain secara langsung, maupun melalui media sosial yang virtual. Karena ingatlah, suatu informasi mudah sekali dan sangat cepat menyebar melalui media sosial. Maka dari itu, jangan sampai kita menyalahgunakannya untuk menyebarkan hal-hal negatif, seperti kebencian yang dapat memecah belah perdamaian. Namun manfaatkanlah kecanggihan teknologi informasi untuk menjadi sarana berbagi kebaikan kepada lebih banyak orang.

Berikut ini adalah kata-kata dari gerakan cinta kasih #AMgenerationOfLOVE oleh Agnez Mo!

I am loved (Aku adalah cinta).
I am generation of love (Aku adalah generasi cinta).
I don't hate (Aku tidak membenci).
I don't gloat over my brother in the day of his misfortune (Aku tidak merasa senang saat saudaraku ditimpa kemalangan).
I don't take pleasure in seeing people's trouble (Aku tidak berbahagia ketika orang lain sengsara).
I am generation of love (Aku adalah generasi cinta).
I love (Aku mencintai).
I forgive (Aku memaafkan).
Hatred is my enemy (Kebencian adalah musuhku).
Love is my bullet (Cinta adalah peluruku).
I will change the world (Aku akan mengubah dunia).
And the change starts within me (Dan perubahannya dimulai dari diriku sendiri).
I am generation of love (Aku adalah generasi cinta).
This is my oath (Ini adalah sumpahku).

Tidak ada komentar: