Minggu, 29 November 2015

Cerita Pendek : Cinta Kasih


“Apa agamamu?” Tanya seorang HRD di depanku.

Setelah dicecar berbagai pertanyaan umum layaknya seorang HRD bertanya kepada calon pelamar kerja, tiba-tiba Ibu Angel melontarkan sebuah pertanyaan sensitif itu.

“Tidak ada.” Jawabku ketus.

“Hmm tidak ada? Di KTP-mu tertulis Kristen?” Ibu Angel bertanya lagi, kali ini dengan mengernyitkan dahinya.

“Itu hanya formalitas. Agama saya adalah Cinta Kasih. Dan maaf Bu sebelumnya, saya kira ini tidak perlu dibahas.” Jawabanku membuat Ibu Angel menjadi kaget. Calon karyawan sudah berani berkata tegas kepada HRD yang akan menentukan nasibku diterima atau tidak di perusahaannya.

“Oke. Wawancaranya telah selesai. Saya akan kabari hasilnya dalam satu hingga dua minggu ke depan.” Ibu Angel tiba-tiba menghentikan sesi wawancara kerja ini.

“Terima kasih, Ibu Angel. Maaf jika ada salah kata.” Aku pun segera bangkit dari kursi dan meninggalkan ruangan Ibu Angel.

“Terima kasih.” Kami saling berjabat tangan.

Itu adalah wawancara kerjaku yang kesekian kalinya. Entahlah, aku tidak mau menghitungnya. Sudah dua bulan aku menganggur. Setelah bisnis café yang aku jalani mengalami kerugian, aku memutuskan untuk menutupnya dan mencari pekerjaan.

Baiklah, sebelum melanjutkan ceritaku, aku ingin memperkenalkan diriku. Namaku Yudas Iskandar. Umur 24 tahun. Masih jomblo, sejak diselingkuhi oleh seorang mantan dua tahun yang lalu. Namanya Bunga Bangkai (bukan nama yang sebenarnya). Dia selingkuh dengan cowok bernama Monyet (bukan nama sebenarnya) yang lebih tajir dariku. Sejak saat itu, aku memutuskan untuk fokus mencari uang dulu dan menjadi mapan secara finansial agar wanita tidak memandangku sebelah mata.

Setelah interview tadi, wajah Ibu Angel sesekali menyelinap ke dalam pikiranku. Aku tidak suka dengan sikapnya tadi yang bertanya tentang agama, tapi aku berharap aku dapat diterima bekerja di sana. Karena aku sudah lelah jika harus mendatangi dari satu perusahaan ke perusahaan lain untuk mengikuti sesi psikotest dan interview yang membosankan. Semoga ini yang terakhir.

Singkat cerita, satu minggu kemudian aku mendapat panggilan dari Ibu Angel bahwa aku diterima di sana. Akhirnya, setelah dua bulan lebih menganggur, aku dapat kembali bekerja.

Pekerjaanku sekarang adalah seorang jurnalis online. Aku sangat ingin mengembangkan bakat menulisku dan menyalurkan rasa ingin tahuku yang lebih akan hal-hal yang sedang terjadi. Di bulan pertama masa percobaan ini, aku diminta untuk menulis berita mengenai politik. Sebuah tantangan yang aku suka.

“Pak Yudas, sendirian aja?” Ibu Angel tiba-tiba berada di depanku dan mengusik lamunanku.

“Eh, Ibu. Iya, hehe.” Aku menjawab sambil berpura-pura terkekeh.

“Jurnalis itu harus bisa beradaptasi dengan lingkungan. Jangan sendirian aja. Gue daritadi merhatiin lo gak aktif berkenalan dengan yang lain.” Ibu Angel tiba-tiba menasihatiku dan sok akrab dengan memanggil “gue, lo”.

“Ibu merhatiin saya? Hehe.” Aku coba mengalihkan pembicaraan. Ibu Angel tampak salah tingkah.

“Hanya ingin tahu karyawan baru seperti apa, sih yang gue terima.”

“Namanya juga anak baru, Bu. Masih kalem di awal, hehe. Lah, ibu Angel juga sendirian aja, nih?”

“Eh. Iya. Gue beli makan dulu ya, bungkus. Panggil gue Angel aja. Gak usah terlalu formal.”

“Emangnya kita seumuran?”

“Kurang lebih.” Ibu Angel, eh Angel kemudian langsung membalikkan badan dan menghampiri salah satu tempat makan di kantin karyawan ini.

Sejak itu, hubungan aku dan Angel menjadi dekat. Ketika jam pulang kantor, aku menawarkan diri untuk mengantarnya pulang dengan motorku. Kebetulan jalan ke kosnya searah dengan kosku.

“Yudas?” Angel menghentikanku.

 “Iya?”

“Aku boleh main ke kosmu?”

“Heee. Boleh. Kok tumben?”

“Iya, bosen.”

“Oh. Oke.”

Sepanjang perjalanan, aku dan Angel menyibuk-nyibukkan diri dengan pikiran masing-masing. Tidak ada terjadi percakapan apapun. Entah kenapa aku merasa salah tingkah.

Sesampainya di kosku, aku langsung menghidupkan televisi yang ada di kamarku. Wajah Angel tampak tidak secerah biasanya. Jadi aku agak segan mengajaknya bicara.

“Das, berantakan banget kamar lo?” Angel tiba-tiba membuka pembicaraan.

“Maklum, anak cowok.”

“Alasan nggak logis bawa-bawa gender.”

“Tapi faktanya kan rata-rata cowok males beres-beres.”

“Survei dari mana?”

“Dari semua teman cowok gue.”

“Ya elah. Bisanya lo aja itu.”

“ Angel, kok tumben lo mau ke kosan gue?”

“Emangnya nggak boleh?”

“Nanya doang. Kita mau ngapain sekarang?”

“Ngobrol aja kek sambil nonton TV.”

Okay. By the way, lo kok nerima gue pas melamar kerja?”

“Karena kita lihat lo berbakat, ya walaupun nyebelin, nyolot pas ditanya agamanya apa.”

“Oh. Gue nggak suka ditanya soal agama.”

“Kenapa?”

“Gue nggak punya agama!”

“Kenapa? Lo nggak percaya Tuhan?”

“Nggak beragama bukan berarti nggak percaya Tuhan, kan?”

“Maksud lo?”

“Agama itu nggak memberikan kedamaian. Agama malah menyebabkan berbagai masalah di dunia ini. Lo lihat kan di mana-mana banyak konflik karena perbedaan agama, bahkan orang yang seagama sekalipun saling berselisih.”

“Oh, okay. Agama memang terkadang membuat orang terpisah. Tapi, yang gue tanya adalah lo percaya Tuhan atau nggak?”

“Peduli amat lo mau gue ber-Tuhan atau nggak?”

“Gue cuma tanya. Sewot amat lo!”

Sorry. Gue agak males kalau ngomongin agama atau Tuhan. Nggak ada habisnya. Lo liat aja artikel yang gue tulis, kalau ada menyangkut SARA pasti rame orang yang beradu komentar, saling merasa paling benar.”

“Terus lo jadi nggak beragama dan nggak percaya Tuhan gara-gara itu?

“Gue masih percaya Tuhan. Gue cuma nggak mau manusia mengatur hubungan gue dengan Tuhan melalui agama ini atau itu.”

“Gue bingung sekarang. Jadi, gimana lo bisa percaya Tuhan kalau lo sendiri nggak beragama?”

“Kalau kita berbicara tentang percaya Tuhan, itu berbicara tentang iman. Sedangkan agama hanyalah status yang dibuat manusia untuk menunjukkan identitas spiritual seseorang. Padahal untuk mengukur kadar rohani seseorang, bukanlah dilihat dari agamanya apa, tapi bagaimana dia hidup.” Aku menatap Angel serius.

I see. Jadi, maksud lo kalau orang yang beragama belum tentu ber-Tuhan, dan orang yang ber-Tuhan nggak harus beragama?”

“Lebih tepatnya, orang yang beragama belum tentu memiliki Cinta Kasih, dan orang yang ber-Tuhan pasti memiliki Cinta Kasih. Karena ajaran Tuhan yang terutama adalah Cinta Kasih. Percuma dong kalau beragama, tapi malah membenci dan mudah menghakimi orang lain. Padahal setiap orang itu berdosa, cuma caranya berbeda.”

Okay. Iya, sih. Tapi yang salah itu orangnya, bukan agamanya juga. Menurut gue, dengan beragama kita jadi lebih mengenal mana yang baik dan benar, sehingga jadi lebih dekat dengan Tuhan.”

“…”

“Yudas?"

“Eh, Suntuk gue bahas beginian. Ganti topik yuk. Lo sendiri  kenapa hari ini beda?”

“Lah, kenapa jadi bahas tentang gue?”

“Habisnya mimik wajah lo bĂȘte aja seharian ini.”

“Gue baru aja putus.”

“Oh, lo uda punya pacar?”

“Sekarang nggak.”

“Kenapa putus?”

“Gue yang mutusin. Dia selingkuh.”

“Emangnya itu cewek lebih cantik dari lo?”

“Emangnya gue cantik, Yudas? Hahaha.”

“Duh, salah ngomong gue.”

“Sialan lo.”

“Hahaha.”

“Kita bahas yang lain aja ya? Biar gue bisa move on.”

“Ya sudah. Kita lanjut nonton TV aja ya.”

“Channel V dong. Denger lagu aja kita.”

“Terserah lo.”

* * *

Entah kenapa, gara-gara Angel menyinggung soal agama dan Tuhan, ada satu perasaan yang bergejolak di ujung hati nuraniku yang sejak lama tak tersentuh. Aku menjadi sadar bahwa ada satu bagian dalam diriku yang telah lama hilang. Suara-suara kecil di dalam batinku dikalahkan oleh keributan di dalam pikiranku. Logikaku telah mengambil alih kehidupanku.

Sejak kecil, otakku sudah diisi dengan berbagai pengajaran Kristen. Aku rajin ke gereja dan bahkan aku mengambil bagian dalam pelayanan. Namun, semua paham yang aku terima sedari kecil mulai luntur perlahan-lahan sejak aku dewasa dan merantau kuliah ke Jakarta.

Aku semakin malas ke gereja. Dan setahun belakangan ini, aku memutuskan untuk meninggalkan agama yang aku anut sejak lahir.

“Angel?” Suatu malam di kosnya.

“Iya, Yudas?”

“Eh, besok gue ikut lo ke gereja, ya?”

“Wow! Beneran?”

“Iya.”

“Padahal gue cuma iseng ajakin lo waktu itu?”

“Entah kenapa, gue kangen suasana Paskah.”

“Kangen apanya?”

“Gue udah lama nggak merasakan hadirat Tuhan?”

“Tumben lo mau ngomongin Tuhan lagi?”

Mataku mulai berkaca-kaca. Tidak mudah untuk jujur dengan perasaan, apalagi menunjukkan sisi rapuh seorang pria dihadapan wanita. Menangislah bila harus menangis, tapi aku coba menahannya. Aku memalingkan wajahku dan menyeka air mataku yang tertahan.

“Angel, gue sebenarnya males ngomongin agama. Gue bukan nggak percaya Tuhan. Gue sangat menyadari keberadaan-NYA. Tapi, gue bingung bagaimana caranya gue bisa dekat sama DIA kalau gue nya nggak beribadah. Betul juga kata lo, dengan beragama kita jadi lebih mengenal mana yang baik dan benar, sehingga jadi lebih dekat dengan Tuhan.”

“Gue dulu sempat berpikiran yang sama kayak lo. Agama kadang malah bikin ribet, tapi gue percaya ada kebenaran atas apa yang diajarkan dalam agama. Gue percaya alkitab itu isi hati Tuhan. Jadi, sampai saat ini gue memutuskan untuk stay. Gue tetap beragama, tapi iman gue bukanlah nama agama gue, tapi nama Tuhan gue.”

“Nah, itu dia. Mindset. Pola pikir lo mirip dengan gue. Gue kecewa dengan orang-orang yang sering membawa nama agama, tapi malah menyakiti sesamanya. Gua kadang bingung, yang salah agamanya, orangnya, atau Tuhannya?”

“Yang salah itu bukan agamanya. Kristen, Katolik, Islam, Hindu, Budha, atau agama apapun, pasti mengajarkan kebaikan. Masalahnya ada di orangnya yang mempelajari agama itu dengan sudut pandangnya yang salah.”

“Yap. Mereka itu yang  malah men-Tuhankan agamanya, bukannya men-Tuhankan sosok Pribadi Tuhan itu sendiri. Jadinya mereka malah lupa untuk berbuat Cinta Kasih.”

“Waduh, berat banget bahasan kita. Yang pasti, lo besok jadi ke gereja?”

“Iya, gue mau rayain Paskah. Menurut gue, bukti Cinta Kasih terbesar dan paling nyata di dunia adalah pas Paskah ini. Tuhan mengorbankan nyawa-NYA demi manusia yang berdosa.”

“Hmm. Lo kok jadi aneh?”

“Aneh gimana?”

“Cara berpikir lo sepertinya berubah.”

“Beberapa bulan ini gue merenungkan kata-kata lo waktu itu. Tapi kalau gue ke gereja lagi, bukan berarti gue bakal bangga dengan agama, tapi gue bangga dengan pengajaran-NYA.”

Okay. Lo bikin gue bingung mau ngomong apa, hahaha.”

“Hahaha. Besok jam 8 pagi, kan?

“Iya. Jangan telat ya.”

“Sip. Gue besok jemput lo di kosan.”

Thanks.”

Anyway, thanks ya udah jadi orang yang gue percaya untuk discuss soal agama dan Tuhan.”

“Gue senang kita bisa saling share apa yang kita rasakan dan yang kita pikirkan.”

Aku memegang tangannya dan kemudian menatapnya dalam. Angel tersenyum kepadaku. Aku pun membalasnya. “Thanks Angel. See you tomorrow.”

See you, Yudas.” Aku melepaskan genggaman itu dan kemudian kami berpisah.

"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” – 1 Korintus 13:13