Minggu, 17 Januari 2016

Surat Terbuka Tentang Terorisme untuk Seluruh Warga Indonesia

Dear NKRI,

Perilaku islamophobia semakin mengkhawatirkan. Banyak orang non Muslim  di dunia yang saat ini berprasangka buruk terhadap Islam dan akhirnya membuat mereka melakukan tindakan diskriminatif terhadap umat Islam. Contohnya, terkait terorisme dan bisa Anda saksikan pada video Public Bomb Scare Prank yang menunjukkan kalau orang-orang ketakutan ketika dilempari tas oleh seseorang berpakaian Arab. Mereka mengira orang itu teroris yang membawa bom.

Hadirnya berbagai kelompok yang membawa nama Islam tetapi bertindak anarkis, membuat banyak orang membenci Islam. Semakin gencarnya aksi terorisme di berbagai belahan dunia yang mengatasnamakan jihad, membuat semakin banyak orang membenci segala hal tentang Islam.

Agama Islam seringkali dikaitkan atas berbagai peristiwa terorisme di dunia. Meski sebenarnya aksi terorisme yang membawa nama agama selain Islam juga ada, tetapi yang paling eksis dan diberitakan adalah aksi teror yang dilakukan oleh kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam. Akibatnya, Islam pun paling tersudutkan.

Padahal, umat Islam yang sesungguhnya mengakui jika Islam itu cinta damai, sama dengan agama lainnya. Namun ironisnya, berbagai ekstremis berkedok agama berhasil mencoreng nama baik Islam di mata dunia. Contohnya, yang sedang terkenal saat ini adalah kelompok militan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria).

ISIS diketahui telah melakukan sangat banyak tindakan ekstrim membunuh dengan sadis dan tanpa ampun orang-orang yang berseberangan dengan paham yang dianutnya. Saya pernah menyaksikan video korban ISIS yang dibakar hidup-hidup tanpa sensor. Masih ngeri jika mengingatnya!

Kini, ISIS sudah mulai memperluas jaringannya dan aksinya ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia tentu seharusnya tidak menjadi target ISIS. Namun nyatanya, ISIS sudah ada di Indonesia dan menunjukkan eksistensinya (ini semakin membuktikan bahwa ISIS tidak ada kaitannya dengan agama Islam). Seperti peristiwa bom Sarinah Jakarta pada Kamis, 14 Januari 2016 yang lalu.

Anda harus melihat video-video rekaman bom bunuh diri dan baku tembak antara pelaku dan aparat kepolisian untuk mengetahui lebih jelas bagaimana aksi mereka mencoba menakuti setiap orang yang berada di lokasi kejadian. Warga sipil WNI dan juga asing, serta polisi menjadi korban. Untungnya, Tuhan berpihak pada kita yang benar, sehingga para pelaku berhasil ditaklukkan oleh Polri yang tangguh.

Nah, balik lagi ke masalah islamophobia atau sikap fobia terhadap Islam. Aksi teror ISIS di Sarinah menjadi pemberitaan media-media internasional. Lagi-lagi nama Islam tercoreng, meskipun sebenarnya ISIS bukanlah Islam, hanya menebeng nama untuk propaganda anti Islam dan memprovokasi orang-orang yang berpikiran kerdil yang mudah di-brainwashed jika teroris itu sama dengan Muslim.

Salah satu contohnya, menurut saya, orang yang sudah berhasil dicuci otak bahwa teroris itu Muslim ialah Donald Trump. Ia menyerukan larangan umat Islam ke Amerika Serikat agar negaranya tidak menjadi korban serangan jihad lagi.

"Donald J. Trump is calling for a total and complete shutdown of Muslims entering the United States until our country's representatives can figure out what the hell is going on," ucap Trump berapi-api.

Pernyataan Trump tersebut langsung mendapatkan kecaman dari banyak orang di seluruh dunia. Namun tidak sedikit juga yang mendukung seruannya, makanya ia percaya diri mengambil sikap kontra terhadap Islam.

Cukup banyaknya orang-orang yang menganggap teroris itu Muslim, tentu saja menjadi fakta yang menyedihkan dan mengerikan. Hal ini bisa semakin memperburuk keadaan, di mana seharusnya semua orang bersatu melawan terorisme atas nama apapun. Namun islamophobia bisa membuat seseorang menggeneralisasi bahwa orang-orang beragama Islam patut dicurigai karena identik dengan perilaku teror.

Oleh sebab itu, saya menuliskan opini ini untuk menyampaikan kegelisahan saya terhadap stereotip bahwa teroris adalah Muslim dan Muslim adalah teroris. Karena menurut saya, kita harus bersatu memerangi terorisme. Semua umat beragama, bahkan yang ateis pun harus bersatu membela kemanusiaan yang di dalamnya ada cinta kasih antara sesama manusia.

Dan juga ingatlah, meskipun ada teroris yang berkata lantang bahwa dirinya membela suatu agama, mereka sama sekali hanyalah orang-orang sesat yang tidak dibenarkan mewakili agama apapun. Jangan mau diadu domba oleh teroris untuk memecah belah kita.

Jika teroris tidak bisa menerima perbedaan, maka kita adalah bhinneka tunggal ika. Jika teroris berani mati untuk yang salah, maka kita harus berani untuk hidup dan berjuang dengan benar. Jika teroris mau menghancurkan, maka kita tidak akan membiarkan mereka merusak apa yang sudah kita bangun dengan susah payah. Mari bersatu kita teguh, karena jika bercerai kita runtuh.

Salam,

Generasi Cinta Pancasila

Selasa, 12 Januari 2016

Tulisan Arab Hanya Boleh Digunakan Orang Muslim?

Lagi-lagi masyarakat membuat kontroversi terkait agama gara-gara Agnes Monica (Agnez Mo) mengenakan pakaian yang ada tulisan Arab. Tetapi yang sebenarnya membuat kontroversi itu Agnez atau masyarakat? Menurut saya, masyarakat.

Masyarakat yang saya maksudkan adalah orang-orang yang gagal paham atau mungkin terlalu fanatik terhadap agamanya. Memang benar jika bahasa Arab dipakai di Al-Qur'an sehingga menjadi bahasa peribadatan agama Islam. Namun bukan berarti bahasa Arab itu akhirnya menjadi eksklusif hanya untuk orang Islam.

Bahasa Arab diketahui menjadi bahasa resmi sekitar 28 negara. Dari ke-28 negara yang menggunakan bahasa Arab, tidak semua penduduknya Muslim. Orang non Muslim di sana oke-oke saja menggunakan bahasa Arab. Lantas, kenapa di Indonesia menjadi kontroversi?

Padahal tulisan kaligrafi Arab itu menarik, sehingga sering menjadi inspirasi seni. Seperti outfit Agnez yang disponsori brand KTZ dari Inggris saat acara HUT Indosiar ke-21. Pada outfit tersebut terdapat huruf Arab المتحد ة (al muttahida) yang artinya united / bersatu.

Al muttahida yang mengandung pesan persatuan dan hanyalah bahasa Arab biasa sehari-hari itu malah akhirnya membuat orang-orang yang gagal paham menuding Agnez menghina Islam. Padahal tulisan Arab tersebut bukanlah kutipan lafadz Al-Qur'an, tetapi kenapa diributkan?

Hal sepele seperti ini yang membuat agama seringkali menjadi pemicu perselisihan. Padahal tulisan Arab bukan milik Islam semata dan tidak selalu berasal dari ayat Al-Qur'an. Yang membuat Al-Qur'an itu sakral adalah firman-Nya, bukan bahasanya. Makanya disebut kitab SUCI Al-Qur'an, dan tidak ada sebutan bahasa SUCI Arab.

Intinya, bahasa itu universal. Semoga saja, tidak ada yang mengkritik saya karena saya baru saja menulis المتحد ة  yang hanyalah tulisan Arab biasa. Jadi menurut saya, aksara Arab sama saja seperti aksara negara lain (Thailand, Korea, Jepang, China, dll), sehingga penggunaannya sah-sah saja asalkan bukan untuk menyinggung SARA.

Sabtu, 09 Januari 2016

Kakak : Apa Mimpimu, Dek?

Kakak : Dek, apa mimpimu tahun ini?

Adek : Jadi lebih baik dari tahun kemarin, Kak.

Kakak : Jadi lebih baik gimana?

Adek : Semua hal lah, Kak! Kenapa?

Kakak : Gapapa. Kakak cuma pengen tau apa mimpimu, Dek.

Adek : Belum tau Kak. Pengennya sih jadi pengusaha.

Kakak : Pengusaha apa?

Adek : Belum tau pengusaha di bidang apa.

Kakak : Coba kamu pikirkan ya, Dek!

Adek : Oke, Kak! Kalau Kakak sendiri gimana?

Kakak : Kakak pengen jadi pejabat di daerah kita. Jadi Gubernur yang hebat macam Pak Ahok. Kakak mau benahin daerah kita.

Adek : Keren tuh, Kak. Gubernur kita sekarang nih nggak becus. Coba aja Pak Ahok yang mimpin kita!

Kakak : Makanya, Dek. Menurut kamu Kakak bisa nggak jadi Gubernur?

Adek : Semoga ya, Kak! Adek aja nggak tau mimpi Adek, gimana Adek bisa bayangin mimpi orang lain.

Kakak : Aduh, Adek ini. Gini ya, kalau kita aja nggak tau apa mimpi kita, gimana kita mau meraihnya. Yang tau mimpinya aja masih kebingungan gimana caranya mewujudkan impiannya itu.

Adek : Iya, Kak. Nanti adek pikirin apa mimpi Adek, ya.

Kakak : Oke, Dek. Nanti di share ke kakak yah kalau sudah tau apa mimpinya.

Adek : Baiklah, kak.

(Percakapan suatu sore antara Kakak dan Adek. #Fiktif )