Selasa, 20 Desember 2016

Cerpen: Menari Dalam Hujan


Merindukanmu. Setelah aku tak sanggup lagi menyentuhmu, setelah aku sadar bahwa aku belum sempat membahagiakanmu, dan kejadian itu harus terjadi tiba-tiba. Memisahkan kita.

Aku ingat, tahun lalu, di hari ulang tahunmu, aku terakhir kali bersama denganmu. Kita habiskan waktu berdua menonton film-film Korea kesukaanmu di apartemenku sepanjang hari.

Kamu tahu, aku tidak pernah menyukai film Korea apapun. Tapi hari itu berbeda. Entah kenapa aku menikmatinya. Melihatmu tertawa, tersenyum, marah, dan menangis mengikuti jalan cerita dan emosi bintang Korea kesukaanmu, membuatku terheran, tapi aku menyukainya. Aku tidak benar-benar menontonnya, karena mataku fokus memperhatikan ekspresi wajahmu yang begitu menggemaskan waktu itu.

Aku rindu. Aku begitu mencintaimu, tapi hidupku harus terus berjalan walaupun terpaksa tanpamu. Dapatkah kita bersatu kembali?

* * *

Hari ini aku bertemu klien baru lagi. Aku cukup lega sekarang karena ada Lala yang menemaniku. Baru satu bulan kami menjadi satu tim, tapi aku sudah merasa nyaman dengannya. Dia lebih pandai melakukan presentasi dibandingkan aku yang kaku. Aku punya segudang kata-kata di pikiranku, tetapi ketika presentasi, aku seringkali tampil terbata-bata.

PT. Promises Mediatama yang aku rintis bersamanya sempat stuck di tengah jalan. Sejak kejadian tahun lalu, aku seperti ingin lari dari kenyataan. Aku lebih sering mengurung diri di apartemenku. Aku kehilangan harapan dan kepercayaan akan masa depan.

Hingga pada suatu hari, Lala datang ke apartemenku dan duduk menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengarkanku, mendengarkan kerapuhanku. Sejak saat itu, aku sadar bahwa aku punya tanggung jawab, yaitu melanjutkan hidupku.

* * *

Selamat malam, sayang. Aku baru saja pulang. Presentasi tadi siang berjalan dengan lancar. Hanya ada sedikit revisi dari klien. Project ini akan berjalan bulan depan. Promises Mediatama yang kita rintis kini mulai mengalami perkembangan.

Semenjak Lala membantuku, semuanya terasa lebih mudah. Tapi, ini bukan semata karena ada Lala, tapi karena aku tahu tujuanku. Aku ingin menepati janjiku. Aku akan terus memperjuangkan impian kita untuk membangun suatu perusahaan periklanan nomor satu di Indonesia.

* * *

Revisi telah selesai. Klien pun sudah oke. Kini saatnya mengerjakan project “Dance in the Rain”. Akan dibuat sebuah video viral berkonsep musikal berdurasi tiga menit untuk mempromosikan sebuah produk smartphone anti air terbaru buatan Indonesia.

Video tersebut bercerita tentang seorang pria yang bersedih dan menatap langit Jakarta yang gelap, lalu kemudian terjadi hujan. Di tengah hujan tersebut, ada satu pemandangan aneh yang menarik perhatiannya. Ada seorang wanita yang sedang menari dalam hujan. Sadar bahwa pria itu menatapnya, wanita itu pun menghampirinya, dan menariknya ke dalam hujan untuk menari bersama. Di akhir video, si wanita mengeluarkan sebuah smartphone anti air dan mengajak si pria ber-selfie bersama di bawah rintikan hujan.

* * *

Sayang, project “Dance in the Rain” ini aku persembahkan spesial untukmu. Karena semuanya terinspirasi darimu yang begitu menyukai hujan. Kamu selalu berkata kepadaku tentang sebuah kutipan favoritmu dari Vivian Greene: ”Life isn’t about waiting for the storm to pass, it’s about learning to dance in the rain.”

Kamu mengingatkanku untuk selalu memiliki satu sudut pandang berbeda dalam melihat satu masalah. Pernah kamu mengajak seluruh orang di kantor untuk bermain hujan. Semua orang mengatakan tidak, kecuali aku yang mengiyakan ide gilamu.

Saat itu, hujan begitu deras. Kita tidak bisa pulang karena hujan, banjir, dan macet di mana-mana. Akhirnya, dengan gilanya aku menemanimu untuk bermain hujan di halaman kantor kita. Semua orang menertawakan kita dan menggelengkan kepalanya menyaksikan keanehan kita. Mereka mungkin lupa bahwa ketika mereka kanak-kanak, mereka juga sering bermain di bawah hujan, bahkan dengan begitu senangnya.

Salah satu momen paling berkesan bersamamu. Terima kasih telah menjadi inspirasiku.

* * *

Tak terasa Promises Mediatama telah berjalan dua tahun. Ide awal terbentuknya agency periklanan ini adalah karena ketertarikanku dan Sonia di satu bidang yang sama.

Sonia adalah orang yang menolongku untuk merencanakan masa depanku. Aku berkenalan dengannya ketika aku bekerja di salah satu perusahaan agency periklanan ternama di Jakarta. Seiring berjalannya waktu, hubungan kami sudah lebih dari sekadar rekan kerja.

Dua tahun setelah kami pacaran, aku dan Sonia memutuskan untuk berhenti dari perusahaan dan membangun agency periklanan sendiri bernama “Promises Mediatama”. Dari pengalaman dan networking yang ada, kami berhasil mendapatkan berbagai klien.

Dengannya, aku dapat mengembangkan seluruh kemampuanku. Bersamanya, lahir berbagai impian baru. Namun, itu hanya bertahan selama satu tahun. Karena setelah itu, Sonia pergi meninggalkanku selamanya. Tidak pernah ku duga.

Padahal di dalam anganku, tahun ini adalah tahun di mana seharusnya aku melamarnya. Tapi, yang kini ada bersamaku bukanlah Sonia, melainkan Lala. Benarkah Lala adalah orang yang tepat untuk menggantikan Sonia?

* * *

Hai Sonia, apa kabarmu, Sayang? Maaf, aku sudah lama tidak menyapamu melalui buku ini. Aku sangat sibuk dengan project “Dance in the Rain” yang telah selesai dan berbagai project baru yang menanti. Aku harap kamu mengerti.

***

Video “Dance in the Rain” sudah mendapatkan 1.000.000 views di YouTube hanya dalam kurang lebih sebulan. Selain itu, kompetisi foto selfie di bawah rintikan hujan juga telah diikuti ribuan orang di Instagram.

Aku tidak menyangka respon masyarakat akan seperti ini. Klien sangat puas dengan hasilnya. Aku dan Lala semakin antusias untuk mengerjakan berbagai project baru lainnya. Pekerjaan semakin banyak dan menyita waktuku sekali.

* * *

Sonia, apakah aku boleh mencintai wanita lain, selain dirimu?

Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu apartemenku. Aku berhenti menulis dan berusaha mencari tahu siapakah gerangan yang datang malam-malam begini.

“Lala?”

Seketika setelah aku membuka pintu, Lala langsung menyanyikan lagu Happy Birthday dan menyodorkan kue ulang tahun kepadaku. “Happy birthday, Harry. Happy birthday, Harry. Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Harry.”

“Thank you, Lala.” Aku tidak dapat berkata banyak. Sungguh sebuah kejutan. Bahkan aku tidak memperhatikan bahwa sekarang sudah pukul 00.00 lewat dan sudah tanggal 23 November, hari ulang tahunku.

“Make a wish dulu, dong.” Celetuk Lala sambil tersenyum kepadaku. Aku hanya membalas senyumnya dan kemudian memejamkan mata untuk berdoa singkat.

“Apa nih harapannya, Har, di usiamu yang ke-27 ini?”

“Apa ya? Semoga menjadi Harry yang lebih baik aja.”

“Hanya itu?”

Suasana pun seketika berubah menjadi canggung. Kami hanya saling menatap dan menebarkan senyum. Lala kemudian mengambil pisau untuk memotong kue itu. Perayaan ultah sederhana ini sungguh membuatku bahagia. Kita pun menghabiskan waktu hingga pagi dengan saling bercerita dan berbagi canda tawa.

* * *

Sayang, ada sesuatu yang berubah di hidupku. Apakah kamu di sana memperhatikanku dan menyadarinya? Aku minta maaf jika hal ini menyakitimu. Aku tidak bermaksud menduakanmu. Hanya saja, aku tidak dapat membohongi perasaanku.

* * *

Sejak kejadian itu, hubungan aku dan Lala semakin dekat. Ada rasa yang tak biasa dan aku tak berani mengakui itu.

“Lala. Aku minta maaf.”

“Maaf kenapa?”

“Karena menciummu.”

“Oh.”

“Kamu adalah orang kedua yang pernah….”

“Udahlah, Har. Mau sampai kapan kamu kayak gini?”

“Maksudmu?”

“Selama ini kamu anggap aku apa?”

“…”

“Aku baca buku agendamu itu.”

“Beraninya kamu membaca privasiku?”

“Sorry, Har. Tapi, please kamu ngertiin perasaan aku.”

“Aku gak ngerti, maksud kamu apa?”

“Gimana kamu mau ngerti, kalau kamu sendiri nggak bisa bedain realita dan obsesi.”

“…”

“Mau sampai kapan kamu hidup dengan masa lalumu?”

“Kamu kan tahu bagaimana hubunganku dan Sonia.”

“Sonia itu udah pergi, Har. Sampai kapan sih kamu bisa sadar?”

“Cukup, La! Beri aku waktu.”

Lala kemudian pergi meninggalkanku sambil menangis. Entahlah, kenapa dia yang menangis. Harusnya aku yang terluka karena masa lalu itu membuat aku trauma dan meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam.

* * *

Sonia, tak terasa sudah lebih dari satu tahun kamu pergi. Setiap kali aku teringat saat itu, kecelakaan yang merenggut nyawamu, aku tak kuasa menahan air mataku. Ada penyesalan yang mendalam karena tidak jadi menjemputmu di rumahmu, sehingga kamu akhirnya naik taksi yang berujung pada perpisahan kita untuk selamanya.

Maafkan aku karena kehilanganmu. Aku pun menyadari satu hal bahwa rasa cintaku padamu lebih besar daripada yang pernah aku pikirkan. Entahlah, apakah ini cinta atau obsesi. Tapi, aku harus akui kalau aku menderita karenanya. Realita ini menghancurkanku.

Dan kini, waktu yang bergulir mempertemukanku dengan wanita lain. Sulit bagiku untuk mengakui ini. Aku tak mungkin dapat menyingkirkanmu dan menggantikannya dengan yang lain begitu saja. Karena sampai kapan pun, kamu tetap menjadi bagian dari hidupku.

Tapi, aku sungguh telah jatuh cinta lagi. Aku harus dapat menatap masa depan. Maafkanlah, jika sekarang aku harus membuka lembaran kisah hidup yang baru. Semoga kamu menyutujui hubunganku dengan Lala, sahabatmu.

Tidak ada komentar: