Rabu, 21 Desember 2016

Cerpen: Telolet Cinta

"Om...!!"

Teriak seorang perempuan sambil melambaikan tangan ke arah busku.

Aku langsung menghentikan laju kendaraan dan perempuan muda itu pun masuk ke dalam busku. Sekilas, paras wajahnya mirip Chelsea Islan, makanya aku memperhatikannya secara saksama.

"Jalan, om!"

Perempuan itu kembali berteriak, tapi kali ini dengan intonasinya yang lebih rendah.

"Eneng, Chelsea Islan yah?" tanyaku kepadanya dengan sedikit keraguan. Aku menoleh ke belakang dan tampak wajahnya keheranan mendengar pertanyaan konyolku.

"Apaan sih, om? Bilang aja mau kenalan! Cuma mirip aja, kok," tegasnya.

"Jangan panggil om. Saya masih 25 tahun, neng," jawabku sambil menyunggingkan senyum.

"Oh! Kok sepi...bang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.

"Iya, nggak tau nih. Cuma kamu sendiri penumpangnya."

"Ya udah, bang. Jalan! Jangan kelamaan ngetem."

"Maaf, neng. Kalau mau duduk depan di samping saya juga gapapa, hehehe."

Dia tidak menjawab dan tetap duduk di satu kursi di belakangku. Aku kemudian melanjutkan perjalanan, mencari penumpang lain dan mengantarkan perempuan itu ke tujuannya.

Om telolet om
Teloletin hatiku yang rindu suaramu
......

Lagu dangdut berjudul "Telolet Cinta" dari penyanyi Ainul Darajuanti menggoyang suasana di dalam bus. Tak lama, perempuan itu memintaku berhenti karena ia telah sampai di tujuannya.

"Kiri, bang! Thank you."

Ia menyodorkan uang dan segera pergi begitu saja.

"Makasih, neng!" Aku sedikit berteriak, tapi ia tidak menoleh ke arahku.

***

Menjalani kehidupan sebagai seorang supir bus bukanlah pekerjaan yang mudah. Cuaca yang terik membakar kulitku, kemacetan lalu lintas dan keamburadulan para pengendara membuatku cepat naik darah. Belum lagi menghadapi penumpang yang bawel atau pengemis hingga pengamen yang terkadang membuat ulah di dalam bus.

Namun terkadang seru juga, karena ini merupakan suatu pengalaman baru. Tapi aku sungguh tidak kuat menjalaninya. Cukup sudah!

***

Brak!

Seorang perempuan terpeleset dan terjatuh di hadapanku. Aku segera menghampiri untuk menolongnya, dan ternyata...

"Kamu???" aku dan perempuan itu saling bertatapan dan serempak mengatakan "kamu?"

"Chelsea Islan?"

"Om... ?"

"Apaan sih panggil om, hahaha." Aku tertawa dan ia masih terheran-heran melihatku.

"Kamu bukannya...?"

"Hati-hati kalau jalan. Bangun dulu, neng." Aku menyodorkan tanganku kepadanya.

"Thank you." Ia menerima uluran tanganku.

"Nama saya Anthony Kusuma."

"Oh. Saya Ayuni. Ngomong-ngomong, tangan kita udah bisa lepas deh."

"Hehehe."

"Jadi, kamu udah nggak nyupir?"

"Kamu sendiri ngapain di sini?"

"Lah, malah balik nanya."

"Yuk, ikut saya. Kita ngobrol dulu di kafe itu."

Aku mengajaknya untuk mengobrol di sebuah kafe yang ada di samping kami. Ia mengiyakan, meski dengan wajah yang masih bingung.

"Iced mochaccino satu. Medium ya, mas. Kamu apa, neng?"

"Saya iced green tea latte, medium."

Aku kemudian menyodorkan kartu kreditku dan membayarkan minuman-minuman tersebut. Kami lalu mencari tempat duduk yang nyaman di paling pojok belakang ruang kafe ini.

"Thank you. Anthony, ya?"

"Iya. Ayuni lagi ngapain di sini?"

"Barusan interview kerjaan di kantor managemen mal ini."

"Oh. Kalau kamu nggak diterima, kabarin aku aja."

"Maksud kamu?"

"Kamu tahu Rudi Kusuma?"

"Nggak."

"Itu ayah saya, pengusaha bus. Jadi waktu itu saya sedang iseng aja jadi supir."

"Iseng?"

"Iya. Kayak cerita receh ftv ya."

"Hehehe."

"Hahaha. Tapi ini beneran. Saya mau tau bagaimana jadi supir, sebelum saya meneruskan bisnis ayah saya."

"Oh. Jadi gimana rasanya?"

"Kapok, hahaha. Tapi senang juga, sih."

"Apa yang bikin senang?"

"Jadinya bisa kenalan sama kamu."

Ia tersenyum. Wajahnya memerah, tapi ia tak menjawab gombalanku. Pelayan kafe memanggil namaku dan aku mengambil pesanan kami yang sudah siap.

Cinta itu sederhana
Kalau sayang pasti datang
Jangan pergi tanpa pesan
Om telolet om, telolet
Bahagianya dengar suaramu....

"Anjirrr, ini apaan? Di mana-mana ada lagu ini." Ayuni memulai percakapan lagi setelah menyedot minumannya.

"Menurutmu, apa makna lagu Telolet Cinta ini?"

"Nggak jelas."

"Lagu ini asik kok. Liriknya receh sih, tapi menghibur dan ini kan versi remix jadi lebih menarik."

"Nggak penting, ah."

"Ya, penting kalau kamu pernah merasakan ada orang yang selalu menunggu kehadiranmu. Mendengarkan suaramu saja orang itu sudah bahagia."

"Kok jadi curcol?"

"Gapapa."

"Hmmm. Kayaknya saya harus cabut dulu."

"Oh." Aku kemudian mengambil kartu namaku dan memberikan kepadanya.

"Thank you, ya."

"Heh, jangan kabur dulu. Nomor HP-mu berapa?"

"Nih aku miss call." Ayuni kemudian mengambil HP-nya dan menelponku.

"Nanti aku telolet ya."

"Apa?"

"Iya, Teloletin hatimu. Maksudnya telpon kamu."

"Apaan, sih. Dahhh, Anthony!"

"Oke, Ayuni..."

Kami berpisah dengan saling membalas senyum ramah, meski banyak tanya yang menghampiri hati kami masing-masing.

Dan lagi, lagu Telolet Cinta dimainkan. Meski sudah sering kudengar, tapi baru kali ini aku menyimak liriknya dengan saksama.

Cinta itu sederhana
Tak perlu banyak bicara
Cukup teloletan aja
Om telolet om, telolet
Bahagiaku dengar suaramu....

_________


#Cerita Pendek #Fiksi
#om telolet om artinya #Om telolet om adalah #Om telolet om meaning #Om telolet om  means #lol

Tidak ada komentar: