Senin, 19 Desember 2016

Pembahasan yang Membosankan di Hari Natal

Alangkah lucunya negeri ini.

Tiap tahun di bulan Desember, pasti selalu saja ada pembahasan kontroversial yang berhubungan dengan perayaan Natal. Pembahasan yang membosankan yang selalu ramai di media massa dan sosmed. Saya jadi bertanya-tanya, apakah cuma di Indonesia, atau di negara-negara lain juga sering membahas hal yang sama?

Menurut saya, negeri ini butuh edukasi, agar tak melulu membahas hal yang sama dengan sudut pandang yang sama dan salah. Contohnya, ya soal pembahasan atribut atau simbol keagamaan umat Kristiani di hari Natal, di mana masih banyak orang kebingungan, khususnya mereka yang tidak merayakannya.

Sebagai orang yang merayakan Natal, saya cuma mau kasih tahu bahwa sebenarnya:

1. Topi sinterklas atau pohon natal (dll), bukanlah atribut atau simbol keagamaan. Itu cuma bagian dari tradisi kebudayaan Barat yang kini menyebar ke seluruh dunia dan tidak ada hubungannya dengan keimanan/kepercayaan kepada Yesus, karena tidak ada di Alkitab suci kami. Makanya, cukup banyak orang Kristen & Katolik, bahkan gereja yang tidak mengikuti tradisi tersebut.

2. Umat Kristiani tidak masalah jika tidak mendapatkan ucapan selamat Natal dari orang-orang yang tidak merayakan. Yang penting kita bisa diberi kesempatan beribadah dengan damai saja. Inilah aksi toleransi yang lebih kami inginkan.


Btw, dalam tradisi keluarga saya, biasanya kami di rumah menyiapkan kue-kue untuk para tamu yang datang bersilaturahmi. Seperti tradisi Lebaran, berkunjung ke sana ke mari dan dikunjungi. Karena banyak tamu yang datang, pastilah tampilan rumah lebih dipercantik dengan berbagai dekorasi. Biar mengikuti tradisi dan tren, biasanya ada pohon Natal dan hiasan-hiasan/pernak pernik kertas, kapas, lilin, lampu kerlap-kerlip, dsb.

Selain itu, ada tradisi tukar kado dengan teman-teman. Dengan keluarga belum pernah, karena memang bukan sesuatu yang wajib dan diharuskan oleh agama. Kalau sama teman-teman, ya karena buat seru-seruan saja, dan biasanya yang beragama berbeda juga ikutan.

Nah, berhubung saya sudah merantau dan jauh dari orang tua, kalau di hari Natal cuma ke gereja, kumpul sama saudara yang ada, dan atau kumpul sama teman-teman yang senasib dalam perantauan. Tidak ada pohon Natal, tidak ada dekorasi Natal di kosan, tidak ada topi Santa (kecuali kalau ada acara dengan dress code topi Santa, baru terpaksa beli hahaha).

Begitulah kira-kira hari perayaan Natal versi saya. Yang terpenting dari itu semua, ya hubungan personal antara hati saya dengan Tuhan saya. Amiiiinnn! :)

Tidak ada komentar: