Senin, 06 Maret 2017

Cerpen : Bromance



Fiksi tentang hubungan persahabatan antara dua orang pria
yang sudah saling mengenal sejak kecil.
Cerita pendek ini ditulis pada 2014 dan dimuat dalam buku kumpulan cerpen "Bicara Cinta".
__________________
Banyak hal yang telah aku lewati bersamanya. Kami tumbuh bersama-sama. Sejak kecil, sejak kami kanak-kanak hingga kami sudah berkepala dua seperti sekarang ini. Takdir seakan membuat kami terus bersama. Padahal ini adalah keputusan kami untuk tidak pernah berpisah.
Orang-orang yang tidak mengenal kami mungkin akan menghakimi kami. Mereka tidak tahu mengapa kami bisa menjadi seperti ini. Tapi hati ini tahu. Aku sudah menganggapnya lebih dari sekadar teman, bahkan lebih dari seorang sahabat. Aku memandangnya seperti keluargaku sendiri, dan begitu juga sebaliknya.
Namaku Rendy. Dan namanya Benny. Persahabatan kami sudah terjalin selama belasan tahun. Kami selalu berada di sekolah yang sama, dan sekarang kami sedang kuliah di universitas yang sama, tetapi berbeda jurusan. Selama bersekolah dulu, kami sering sekelas. Kebersamaan yang sudah lama terjalin ini membuat kami menjadi dekat dan mengenal baik satu sama lain.
Persahabatan kami mungkin terkesan eksklusif. Terlalu sering menghabiskan waktu berdua daripada bersama dengan teman-teman yang lain. Ada yang mengira kami ada apa-apanya. Mungkin mereka yang menilai kami demikian adalah mereka yang terlalu berpikiran sempit mengenai persahabatan.
Aku masih ingat kata-kata yang ia pernah ucapkan dulu, “Persahabatan kita akan seperti matahari. Sekalipun ia akan terbenam di barat, namun ia akan terbit kembali di timur. Begitulah setiap harinya. Persahabatan kita akan selamanya bersinar. Walaupun kita akan melewati saat-saat di mana gelap itu ada, bukan berarti terang telah tiada.” Entah apa maksudnya. Mungkin dia ingin menegaskan bahwa persahabatan kami tak akan pernah mati, selagi matahari tak pernah berhenti bersinar.
Tiba-tiba aku pun merasa kesepian. Sudah sebulan ini kami jarang sekali bertemu. Kami juga hanya berkomunikasi seadanya lewat Blackberry Messenger. Benny bercerita tentang Laura, teman sekelasnya yang sedang ia sukai. Sejak pertama kali aku tahu bahwa Benny menyukai Laura, aku sangat mendukungnya. Sahabat mana yang tidak ikut bahagia melihat sahabatnya bahagia? Tapi kini aku seperti cemburu dan ingin mencari cara bagaimana agar Benny menjauh dari Laura.
Tapi sepertinya aku tidak akan bisa melakukannya. Benny dan Laura sudah jadian. Aku tidak menyangka mereka akan pacaran secepat ini. Ternyata hati Laura cepat sekali diluluhkan oleh Benny yang jago merayu itu. Mereka pasangan yang serasi. Benny berwajah tampan dan Laura cantik. Dan aku kini seperti bertanya dalam hati, “Kapan giliranku ya Tuhan?”
***
“Ren, nanti malam jam 7 kita jalan ya?” Benny meneleponku.
“Wah sudah lama ya kita nggak jalan Ben. Mau ke mana?” tanyaku sambil memandangi jam tanganku.
“Ke Cafe biasa aja. Oke? Aku ajak Laura ya bro.” Yang dimaksud Benny adalah Café Inz, Café di mana kami sering menghabiskan waktu berdua untuk saling cerita apa saja sambil menikmati secangkir kopi.
“Hmm…ini kan malam Minggu. Apa lain kali saja Ben. Aku nggak enak ganggu kalian.” Aku merasa tidak senyaman biasanya dan mencari alasan agar tidak ikut.
“Kamu ini kenapa sih Ren? Kita kayak baru kenal aja, pake canggung segala gini.” Nada bicara Benny agak meninggi.
“Kita emang sudah lama kenal. Tapi aku baru kenal dengan pacarmu itu.” Aku mencoba membela diri.
“Makanya kamu harus ikut. Aku pengen sahabatku bisa dekat dengan pacarku. Aku pengen kita tetap asyik walaupun banyak perubahan yang terjadi.” Benny selalu pandai membujukku ketika mood-ku mulai tidak baik.
“Baiklah Ben.” Jawabku singkat. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi.
***
Aku, Benny, dan Laura sudah berada di Cafe Inz. Awalnya canggung, tapi Laura ternyata orangnya asyik dan ramah. Menariknya, aku dan Laura memiliki hobi yang sama, yakni menyukai fotografi. Perbincangan mengenai fotografi pun mengalir, dan Benny yang hobinya bermain olahraga basket itu hanya memperhatikan kami.
Benny menghidupkan laptopnya dan memperlihatkan kepada Laura beberapa foto hasil jepretanku. Benny memang menyimpan beberapa hasil fotoku karena dia seringkali menemaniku ketika hunting foto di berbagai tempat.
Perbincangan demi perbincangan pun bergulir. Lebih dari dua jam kami berada di Café Inz. Sebelum pulang, Benny meminta seorang waiter untuk memfoto kami bertiga. Aku mulai merasa nyaman dan yakin kembali bahwa Benny masih sama seperti Benny yang dulu.
“Ren, next time kita kumpul lagi ya. Bertiga. Benny sudah banyak cerita tentang kamu. Kalian akrab sekali, ya. Kayak saudara.” Tiba-tiba Laura berkata demikian sebelum kami beranjak dari kursi kami.
“Oke Laura. Kabarin aja kalau mau kumpul. Dan, aku mau bilang jika kamu beruntung bisa jadian sama Benny. Dari kecil kami bersahabat. Aku tahu Benny adalah orang yang baik. Kalian cocok.” Jawabku sambil memandang ke arah Benny.
“Hahaha kamu bisa aja Ren.” Celetuk Benny sambil lengannya merangkul pundakku.
“Hahaha kalian ini sahabat yang so sweet sekali.” Laura menertawai tingkah kami.
Aku sungguh menikmati malam ini. Sambil mengendarai motorku, aku mengingat-ingat kembali wanita-wanita yang pernah dekat dengan Benny. Semoga kali ini Benny telah menemukan orang yang tepat. Jangan sampai dia terluka lagi seperti semasa SMA dulu. Aku masih ingat bagaimana aku berusaha menghiburnya yang datang ke rumahku sambil menangis gara-gara patah hati.
***
Ren, thanks bro for tonight. Gimana Laura menurutmu?
Benny mengirimkanku pesan Blackbery Messenger. Kami pun kemudian saling chatting.
Sama-sama Ben. Aku yakin kamu pasti telah memilih orang yang tepat.
Banyak hal yang pengen aku share ke kamu. Besok aku ke rumah ya Ren.
Oke Ben. Btw sorry ya kalau aku sempat pikir kamu sudah berubah.
Nevermind. I’ll never forget my best friend when I’m in a relationship. And sorry juga Ren kalau kita jarang kumpul kemarin-kemarin.
Hahaha sudahlah Ben. Semua yang harus terjadi akan membuat kita untuk lebih saling mengerti.
Love you, bro, hahaha.
LOL, love you too.
Weks… Btw, Nadya titip salam nih, haha.
Haha bisa aja Ben.
Jangan terlalu lama menutup hati. Sudah saatnya kamu move on, Ren.
Iya iya, ckck.
Sudah dulu ya bro. Good night and see you tomorrow.
Oke Ben. Good night my bro.
Chat pun berakhir. Tiba-tiba ada friend request di Blackberry yang masuk. Ini pasti kerjaannya Benny. Aku pun men-accept-nya. Sambil mendengarkan lagu Bromance dari ponsel Blackberry-ku, aku pun kemudian chatting sama Nadya yang baru saja meng-invite PIN-ku.

Hold me
In the end, I will always love you
I promise you, I’ll be your best friend forever
Bromance, there’s nothing wrong
It’s a strong feeling of our friendship
We shouldn’t be ashamed
Because It’s never wrong to love

Tidak ada komentar: