Selasa, 04 April 2017

Review Film Indonesia "Danur"



Film horor Indonesia kembali berjaya di bioskop lewat hadirnya "Danur". Film ini mulai menghantui layar lebar sejak 30 Maret dan menuai respon yang positif, serta jumlah rekor fantastis mencapai 1 juta penonton dalam 6 hari.

Dalam KBBI, danur memiliki arti air yang keluar dari mayat/bangkai yang telah membusuk. Mengetahui artinya saja telah membuat ngeri. Bagi yang berani, silakan langsung menonton filmnya. Namun sebelum itu, coba simak ulasan film Danur berikut ini:

Sinopsis Film Danur

Film ini diadaptasi dari buku "Gerbang Dialog Danur" yang ditulis oleh Risa Saraswati berdasarkan pengalaman pribadinya. Saat usianya 8 tahun, Risa (Asha Kenyeri) dengan polosnya berdoa agar diberikan teman. Namun, teman yang dia temui ternyata adalah tiga hantu anak kecil. Ibunya, Elly (Kinaryosih) pun curiga karena anaknya sering bermain dan tertawa sendiri. Hingga akhirnya, Elly mencari jalan untuk memisahkan Risa dan 'teman-teman'-nya itu.

9 tahun kemudian, Risa (Prilly Latunconsina) dan adiknya Riri (Sandrina Michelle) kembali ke rumah lamanya untuk menjaga nenek (Inggrid Widjanarko) yang sedang sakit. Kejadian horor pun terulang lagi. Namun kali ini Risa harus berhadapan dengan sosok hantu jahat bernama Asih (Shareefa Daanish) yang berusaha menculik Riri ke dunia lain.

Produser : Dian Sasmita Faisal
Sutradara : Awi Suryadi
Penulis : Lele Laila, Ferry Lesmana
Produksi : MD Pictures

Kelebihan Film Danur

Cerita dalam film Danur sebenarnya cenderung klise dan mirip dengan beberapa film horor lainnya. Namun, film ini tetap menarik untuk ditonton karena membawa ketegangan yang dibangun dengan baik sepanjang film, serta membawa nuansa sunda yang mistis lewat latar dan lagu Boneka Abdi. Kita akan terus dibuat penasaran dengan apa yang akan terjadi, meski pada beberapa adegan cukup mudah ditebak.

Saya sendiri beberapa kali dibuat merinding. Film ini cukup berhasil mengajak saya untuk merasakan bagaimana menjadi anak indigo yang punya kemampuan khusus melihat hantu. Tentu saja ini bisa terjadi berkat kehebatan sutradara yang mengarahkan, penulis yang mengatur jalannya cerita, penata suara yang membuat scorsing mencekam, serta para pemainnya yakni Prilly, Shareefa, dan Inggrid. Ketiga aktris tersebut yang berperan paling bagus dalam film ini.

Kekurangan Film Danur

Pemeran Peter, William, dan Jansen kurang seram. Terkadang saya merasa kok mereka malah berakting seperti manusia, bukan seperti hantu yang gayanya kaku dan dingin. Saya sempat dibuat merinding, namun di beberapa adegan--bahasa tubuh, gaya bicara dan tatapan mereka terlalu polos. Mungkin saya terlalu berekspektasi bahwa hantu anak kecil harus tampak mengerikan, meski diceritakan sebagai hantu yang baik.

Tidak ada komentar: