Rabu, 19 April 2017

Saya Pikir Indonesia Tak Seperti Amerika


Tulisan ini didedikasikan untuk Basuki Tjahaja Purnama & Djarot Saiful Hidayat!
Saya menulis ini dengan perasaan patah hati. Saya sedih Ahok-Djarot kalah dalam Pilkada DKI Jakarta. Namun, bukan itu masalah utamanya. Saya patah hati karena saya pikir Indonesia tidak akan seperti Amerika.

Seperti kita ketahui, Donald Trump berkampanye dengan menyerukan sentimen SARA terhadap kaum minoritas. Cara-cara kampanyenya yang provokatif dan sangat tidak terpuji itu dikecam dunia. Banyak orang Indonesia pun mengecamnya. Sangat mengecamnya!

Banyak yang mengira Trump bakal kalah. Kita salah. Dia menang. Dialah Presiden Amerika Serikat sekarang. Ternyata, negara semaju itu masih banyak yang rasis dan mendukung sikap Trump yang diskriminatif terhadap minoritas muslim dan pendatang di negeri Paman Sam.

Saya dan banyak orang di Indonesia menyesalkan kemenangan Trump. Tapi itu bukan urusan negara kita. Kita hanya mengecamnya di media sosial dan meledek betapa primitifnya sikap Amerika terhadap minoritas.

Namun saat ini, dengan berat hati saya harus menerima realita bahwa Anies Baswedan dan Sandiaga Uno berhasil terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI yang baru untuk 5 tahun ke depan. Ini berarti Ahok-Djarot kalah. Ini juga berarti lebih banyak penduduk Jakarta yang mendukung Anies-Sandi.

Sedih sekali. Orang yang pernah saya kagumi, ternyata membiarkan cara-cara kampanye yang penuh kebencian dan intimidatif untuk menyerang Ahok-Djarot dan para pendukungnya. Seperti seruan kafir dan munafik, larangan menyolatkan jenazah, serta berbagai sentimen SARA yang ditunjukkan di tempat ibadah dan ruang publik.

Tentu saja siapa pun boleh memilih pemimpin karena faktor kesamaan agama/etnis. Terlebih untuk urusan agama, setiap orang punya cara pandang berbeda dalam menafsirkan ajaran agamanya. Jika ada yang percaya 100 persen untuk keharusan memilih pemimpin pemerintahan yang seagama, ya itu hak personal. Hanya saja, sebagai bagian dari minoritas, saya patah hati karena sentimen SARA disampaikan secara masif di ruang publik dan menimbulkan perpecahan.

Dengan begitu masifnya sentimen SARA terhadap kepemimpinan minoritas di Indonesia, saya merasa patah hati. Apakah tidak ada tempat untuk minoritas menjadi pemimpin pemerintahan di negeri ini? Jika ada Ahok-Ahok lain, apakah bakal ditolak dengan cara yang sama? Ataukah sentimen SARA hanya berlaku untuk Basuki Tjahaja Purnama?

Entahlah. Sebenarnya saya masih punya sedikit harapan bahwa masih ada ruang untuk minoritas menjadi pemimpin di negeri ini. Sebab di beberapa daerah mayoritas muslim lainnya, ada kok yang tidak mempermasalahkan pemimpin dari minoritas. Namun setelah kekalahan Ahok, saya mulai kehilangan harapan. Jakarta yang merupakan ibukota negara saja tidak bisa menjadi contoh. Saya khawatir daerah-daerah lain akan meniru cara kampanye SARA yang sudah terjadi di Jakarta, saat mereka ingin menjatuhkan minoritas yang ingin maju dalam pilkada.

Dear Pak Anies-Sandi, demikianlah curahat hati saya, salah satu minoritas di Indonesia. Semoga Jakarta bisa jadi lebih baik di bawah kepemimpinan Anda berdua. Semoga semua janji selama kampanye tak hanya retorika. Semoga kaum intoleran dan radikal yang berada di belakang Anda, bisa Anda didik untuk ber-bhinneka tunggal ika.

Sementara untuk Pak Ahok-Djarot, terima kasih sudah membuat sejarah dan membawa perubahan baik di Jakarta. Anda berdua boleh kalah dalam pilkada, tapi kalian menang dalam menjaga integritas berdemokrasi Pancasila. Memang tidak semua pihak senang dengan kalian, tapi saya bangga dan akan terus menjadikan kalian inspirasi. Tuhan pasti punya banyak rencana baik untuk NKRI dan kita semua.


Tidak ada komentar: