Review Film Indonesia "A Man Called Ahok"

(Gala Premiere A MAN CALLED AHOK)

Kalau kamu mengira film "A Man Called Ahok" adalah film politik, maka kamu salah. Film ini lebih mengangkat kisah sebuah keluarga yang membentuk sosok Ahok seperti yang kita kenal. Yakni seorang "minoritas" yang berani, berintegritas, dan punya hati untuk melayani masyarakat.

Film "A Man Called Ahok" ingin memperkenalkan kepada kita mengenai bagaimana karakter Basuki Tjahaja Purnama dibentuk. Sehingga film ini akan fokus menceritakan hidup Ahok bersama keluarganya dari saat ia masih kecil hingga dipenjara.

Ya, film ini dibuka dengan tampilan layar hitam dan rekaman suara asli Ahok dari dalam Mako Brimob saat beliau menyampaikan pesan kepada para pendukungnya untuk membubarkan diri. Pembukaan film yang langsung membuat gue menahan tangis karena langsung teringat akan kejadian pada Kamis, 11 Mei 2017 silam.

Namun, setelah itu film langsung berpindah ke cerita Ahok remaja (yang diperankan oleh Eric Febrian). Dari sini film mengalir menceritakan kehidupan Ahok dan keluarganya, terutama tentang hubungan Ahok dan ayahnya, Tjung Kim Nam. Sebab sang ayah sangat berperan besar dalam mendidik Ahok menjadi seperti sekarang.

Secara garis besar, film ini berfokus pada cerita tentang cara Kim Nam mendidik Ahok. Dengan dibumbui cerita permasalahan bisnis tambang yang dialami keluarga Ahok, hingga akhirnya membuat Ahok bertekad terjun ke dunia politik untuk membuat perubahan.

Semua pemain menampilkan yang terbaik. Tapi bagi gue, Daniel Mananta (Ahok dewasa) yang paling impresif karena terlihat sangat berusaha meniru suara, ekspresi dan bahasa tubuh Ahok. Akting yang memukau.

Tentu film ini tak luput dari kekurangan. Mungkin sosok Kim Nam kurang berhasil menyerupai aslinya dalam film ini (menurut Adik Ahok Fifi). Ya, hanya keluarga Ahok yang paling tahu karena mereka adalah saksi hidup. Namun, sebagai penonton biasa, bagi gue penggambaran ayah Ahok di dalam film ini oke-oke saja.

Sebagai Ahoker, film ini adalah film yang sentimental. Gue menonton film ini karena gue ingin lebih mengetahui kisah hidup Ahok dan merindukan sosoknya. Apalagi beliau layak mendapatkan dukungan.

Tapi sekali lagi, walau ada sedikit bagian yang menggambarkan Ahok di Mako Brimob, film ini bukan kisah politik, karena tidak ada cerita eksplisit tentang lika-liku kehidupan Ahok saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Dalam adegan-adegan saat "Ahok" menjadi anggota DPRD dan Bupati Belitung Timur pun, tidak ada menyingung hal-hal yang sensitif. Hanya menceritakan kisah di balik keputusan Ahok berpolitik dan sedikit drama yang dialaminya saat menjadi pejabat atau politisi.

Akhir kata, tontonlah film ini yang tayang mulai 8 November 2018. Jangan lupa siapkan tisu, karena kalian akan menangis terharu di adegan awal, tengah, dan terutama saat ending.

Selamat buat sang sutradara Putrama Tuta dan seluruh pihak yang terlibat. Semoga filmnya sukses. God bless! #GustiOraSare

(Btw, Gala Premiere seru & ramai. Tak lupa foto bareng Rudi Valinka/Kurawa, penulis buku A Man Called Ahok.)

Komentar

Postingan Populer